Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 278 - Kepulangan Abash


__ADS_3

Kabar gembira akhirnya datang dari kakek Farel, di mana orang yang paling sangat di segani itu sudah dalam kondisi yang cukup baik. Kakek Farel pun di perbolehkan pulang, begitu pun dengan Abash yang juga sudah di perbolehkan pulang, walaupun pria itu menolak untuk pulang ke rumah.


Bagaimana tidak menolak? Secara jika dia ikut pulang dan tidak di rawat inap lagi di rumah sakit, maka pria itu tidak akan lagi melihat sang kekasih sepanjang malam.


"Abash nginap di rumah sakit aja ya, Ma," rengek Abasj dengan manja.


"Enak aja, bengkak nanti biaya rumah sakit," cibir Mama Kesya sambil menyusun semua barang-barang milik sang putra ke dalam tas.


"Memangnya kita bayar biaya rumah sakit? Kan enggak, Ma? Secara rumah sakit ini milik kita," cicit Abash yang mana membuat Mama Kesya menegakkan tubuhnya untuk memandang wajah sang anak.


"Memangnya dokter dan perawat yang sudah memerika kamu tidak perlu di bayar, Bash?" kesal Mama Kesya.

__ADS_1


Abash pun menyengir kuda, walaupun rumah sakit ini milik keluarganya, tetapi tetap saja mereka harus membayar jasa dokter yang sudah merawat dirinya. Kecuali, jika dokter itu berasal dari keluarga sendiri, seperti Dokter Lucas misalnya.


Dokter Lucas memang tidak menaruh berapa tarif yang harus di bayar oleh pasien-pasiennya, yang terpenting bagi Dokter Lucas adalah kesehatan yang kembali pulih di rasakan oleh para pasaiennya. Begitu pun dengan Dokter Anggel, di mana wanita yang tengah hamil itu hanya mengambil biaya administrasi pendaftaran sebesar dua puluh ribu, selebihnya dia tidak mengambil biaya apa pun lagi.


Biaya administrasi pendaftaran itu pun di gunakan untuk membayar gaji asisten dan perawat yang menjaga nomor antrian, di saat ada pasien yang mendaftar ke kliniknya. Begitulah cara keluarga Moza membantu orang-orang yang ingin berkonsultasi dengan mereka.


"Kalau gitu, Sifa tinggal di rumah kita juga ya, Ma," bujuk Abash. "Jadi kan ada yang rawat Abash ntar di rumah," sambung pria itu lagi.


Mama Kesya pun menghela napasnya dengan sedikit kasar. "Di suruh nikah cepat gak mau, minta dispensasi waktu segala lagi," cibir Mama Kesya. "Sekarang minta Sifa tinggal di rumah! Mana boleh gitu, Bash, yang ada itu mendatangkan fitnah, tau," ketus Mama Kesya.


Abash pun hanya bisa menghela napasnya dengan sedikit kasar, pria itu rasanya ingin sekali menarik sang kekasih ke kantor KUA saat ini juga jika tidak menginga janjinya kepada Sifa.

__ADS_1


"Jadi, kapan pengumuman di kantornya Farhan, Bash?" tanya Mama Kesya.


"Katanya sih tiga hari lagi, Ma. Dan menurut bocoran yang Abash dapat, kalau Sifa terpilih untuk bergabung ke tim cobra," ujar Abash memberitahu.


"Kamu serius?" tanya Mama Kesya merasa takjub.


"Iya, Ma. Abash serius. Untuk itu, kita doakan semoga Sifa bisa mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan kuliahnya ya, Ma." Abash pun merasa bangga dengan sang kekasih, karena kepintaran Sifa memang tidak perlu pria itu ragukan lagi.


yang di perlukan oleh Sifa saat ini adalah hanya fokus kepada skripsinya saja. Jadi, untuk hal itu Abash akan memberikan libur kepada sang kekasih agar bisa menyelesaikan kuliahnya dalam waktu singkat. Tentu saja Abash akan menggunakan koneksinya untuk mempercepat dan tidak mempersulit sang kekasih menuju gelas sarjananya.


"Assalamualaikum," Arash masuk dan mengernyitkan kening di saat melihat Mama Kesya sedang membereskan pakaian sang kembaran.

__ADS_1


"Bash, yang mau nyusul kamu akhirnya datang," goda Mama kesya.


"Ciee, yang minta kawin juga.Gak sabaran ya?"


__ADS_2