
Amel dan Sifa pun berjalan menuju kantin, mereka akan mengisi perut mereka dengan makanan yang ada di sana, karena saat keluar dari kantor, Sifa belum memasukkan sedikit makanan pun ke dalam perutnya.
"Habis ini kau mau balik ke kantor lagi?" tanya Amel.
"Iya, ada pekerjaan yang harus aku kerjakan," ujar Sifa dengan memasukkan gado-gado ke dalam mulutnya.
"Aku antar kamu sampai kantor," tawar Amel.
"Eh, gak usah. Yang ada aku malah ngerepotin kamu aja," ujar Sifa dengan tak enak.
"Gak papa kok. Aku juga bakal tungguin kamu, sampai kamu pulang kerja," ujar Amel dengan tersenyum, yang mana membuat Sifa tersedak makanannya.
Uhuk .... Uhuk ... Uhuk ...
Amle dengan sigap memberikan air minum kepada sang sahabat untuk meredakan batuknya.
"Kamu gak papa, kan?" ujar Amel dengan rasa khawatir.
"Hmm, ya. Aku gak papa," jawab Sifa setelah merasakan sedikit lega pada tenggorokannya, walaupun rasa pedas dan panas masih terasa di tenggorokannya.
"Baiklah, sudah di putuskan kalau aku akan mengantar kamu ke kantor dan menunggu kamu hingga pulang kerja. Aku juga yang akan mengantar kamu pulang ke rumah," ujar Putri dengan tersenyum.
"Tap-tapi----,"
"Sttt ... Gak ada tapi-tapian, keputusan aku udah bulat, tidak boleh di ganggu gugat," ujar Amel dengan wajah serius, kemudian dia pun tertawa.
"Hmm, gimana baiknya sama kamu aja," jawab Sifa dengan pasrah.
Setelah selesai makan, Amel pun mengantarkan Sifa kembali ke kantor, di mana gadis itu sedang menjalankan masa magangnya.
"Terima kasih ya, Mel," ujar Sifa dan turun dari mobil.
"Iya, sama-sama."
Sifa pun melambaikan tangannya di saat mobil Amel mulai meninggalkan dirinya.
"Hmm, gimana caranya aku bisa menghindar dari Amel nanti? Tidak mungkin juga kan aku bilang di mana tempat tinggal aku yang baru?" lirih Sifa dan berjalan masuk ke dalam kantor.
"Sifa," panggil Bimo.
__ADS_1
Sifa pun menoleh ke arah sumber suara. "Mas Bimo?"
"Kamu baru sampai?" tanya Bimo yang sudah berdiri di dekat Sifa.
"Iya, Mas Bimo mau ke mana?" tanya Sifa.
"Oh, mau fotocopy berkas ini," ujar Bimo sambil menunjuk sebuah lembar kertas yang ada di tangannya.
"Oh, iya. Kalau gitu Sifa masuk dulu ya," pamit Sifa dan bergegas masuk ke dalam lift yang baru saja terbuka.
"Iya, hati-hati Sifa," ujar Bimo dengan menatap kepergian gadis yang membuatnya tertarik.
Jam sudah menunjukkan pukul lima sore, waktunya seluruh karyawan pulang ke rumah masing-masing.
"Sifa," panggil Didi yang baru saja tiba di ruangan di mana Sifa berada.
"Ya, Pak?" jawab Sifa dan berdiri sigap.
"Kamu siapkan semua peralatan kamu sekarang, kemudian datang ke ruangan Pak Abash," titah Didi dan berlalu meninggalkan ruangan tersebut.
"Wah, Sifa. Sepertinya kamu bakal di jadikan karyawan tetap jika terus dekat dengan bos," kekeh Uli, teman seruangan Sifa.
"Kak Uli bisa aja," ujar Sifa dengan tersenyum tipis.
Sifa pun membereskan semua peralatan kerjanya dan memasukkan ponselnya ke dalam tas. Dia pun berjalan meninggalkan kubikelnya dan tak lupa tersenyum kepada seluruh senior yang ada di ruangan tersebut.
"Sumpah, gak suka banget gue sama dia," ujar seorang wanita dengan pelan.
Didi yang melihat kehadiran Sifa pun langsung membuka pintu ruangan sang bos dan membiarkan gadis itu masuk duluan sebelum dirinya.
"Bos, Sifa sudah di sini," ujar Didi kepada Arash.
"Hmm, ya. Berikan file itu kepada dia," titah Abash tanpa menoleh ke arah Sifa dan Didi.
Didi pun mempersilahkan sifa untuk duduk di kursi yang berhadapan dengan Abash, lebih tepatnya di meja kerja pria itu. Didi pun membuka laptop dan menampilkan sebuah layar berwarna hitam yang sudah di penuh dengan cooding.
"Kamu bisa kan sambungkan koneksi ini ke saya?" tanya Didi.
"Seperti waktu itu, Pak?" tanya Sifa.
__ADS_1
"Iya, nanti saya akan kirimkan filenya jik akita sudah tersambung."
"Baik," uajr Sifa dan mulai memainkan jari lentik gadis itu di atas keybord.
Didi pun berjalan menuju mejanya sendiri yang ada di dekat meja sang bos, mereka pun fokus dengan pekerjaan masing-masing tanpa sepatah kata pun yan keluar dari mulut. Hanya terdengar suara ketikan pada keybord yang memenuhi ruangan tersebut.
Di parkiran perusahaan, Amel pun sudah menunggu kehadiran Sifa keluar dari kantornya, akan tetapi gadis itu belum juga terlihat batang hidungnya. Padahal sedari tadi sudah banyak karyawan yang keluar dari gedung tersebut.
"Sifa mana sih?" lirih Amel dengan pelan dan terus melirik ke arah jam tangannya.
"Apa aku telepon aja kali ya?" ujar gadis itu dan meraih ponsel mahalnya.
Amel sudah memutuskan, mulai saat ini dia tidak akan lagi menutupi siapa jati dirinya sebenarnya. Dia akan menunjukkan kepada semua orang, jika dia adalah seorang putri dari pria yang bernama Robert. Pengusaha yang sudah lama menjalin kerja sama dengan perusahaan Moza.
Di tempat lain, Abash menoleh ke arah Sifa yang sedang fokus menatap layar laptop yang ada di hadapannya itu. Didi juga sudah menoleh ke arah Sifa, karena sedari tadi ponsel gadis itu terus saja berdering, sedangkan sang empu tak menyadarinya.
"Sifa," panggil Abash, akan tetapi gadis itu mengabaikannya.
Abash pun mencoba mengetuk meja untuk mengambil perhatian Sifa, dan percobaan itu pun berhasil.
"Ya?" ujar Sifa dengan menatap wajah Abash.
"Ponsel kamu berbunyi, bisakah kamu mematikannya dulu? Atau kamu bisa mengangkatnya di luar. Suaranya sungguh berisik dan mengganggu konsentrasi saya," ujar Abash dengan ketus dan kembali fokus ke komputernya.
"Maaf, Pak," sesal Sifa dan bergegas meraih ponselnya yang ada di alam tas, di mana tasnya dia letakkan di lantai.
Sifa ingin menggeser tombol merah di saat ponselnya kembali berdering, akan tetapi saat melihat ID nama yang tertera di sana pun, membuat gadis itu mengurungkan niatnya.
"Emm, permisi, Pak," cicit Sifa dan bergegas keluar dari ruangan Abash.
Abash pun hanya melihat Sifa dari sudut matanya, kemudian pria itu kembali fokus ke komputernya.
Di luar ruangan Abash, Sifa menggeser tombol hijau dan menjawab panggilan dari Amel.
"Assalamualaikum, Mel, maaf banget ya. Sepertinya aku gak bisa pulang sama kamu. Maaf, aku baru kasih kabar sekarang, soalnya bos nyuruh aku lembur bersamanya," ujar Sifa cepat dan jujur.
"Walaikumsalam. Lembur?" tanya Amel. "Dengan bos yang mana? Pak Abash?" tebak Amel.
"Iya, saat aku mau pulang, aku di suruh bantuin beliau nyelesain kerjaannya. Maaf ya," lirih Sifa dengan menyesal.
__ADS_1
"Hmm, gak papa. Mau aku tungguin?" tawar Amel.
"Eh?"