Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 328


__ADS_3

Para tamu undangan yang datang pun bergantian untuk bersalaman dengan Sifa dan Abash. Mereka satu persatu menghampiri pasangan yang baru saja bertunangan itu untuk bersalaman, di mana Abash dan Sifa sedang berdiri bersama orang tua dan kerabat lainnya lagi. Mereka terlihat sedang berbincang dan tertawa.


Memang, acara pertunangan Abash dan Sifa tidak mengundang banyak orang, akan tetapi tetap saja yang hadir melebihi perkiraan mereka. Belum lagi, Abash sengaja mengundang seluruh karyawannya untuk hadir, agar mereka mengetahui jika saat ini Sifa adalah tunangan pria itu. Jadi, tidak ada kesempatan bagi Bimo atau siapapun yang berani mendekati Sifa lagi.


"Mas? Mereka?" bisik Sifa, saat melihat saudara dari almarhum ayahnya itu datang ke acara pesta pertunangan dirinya dengan Abash.


Terlihat mereka sedang menyapa para tamu undangan yang hadir, seolah mereka adalah tuan rumah pada acara tersebut. Mereka menyapa siapa saja, sambil berjalan menuju ke arah Sifa dan Abash berada.


"Iya, aku sengaja mengundang mereka untuk datang ke sini," ujar Abash dan tersenyum sinis melihat saudara-saudara Sifa yang terlihat tersenyum lebar dan sok akrab berbincang dengan Mami Vina dan Papi Vano yang berada tak jauh dari mereka saat ini. Bahkan, ada yang mengaku-ngaku jika dia selalu membantu Sifa dan sang nenek, di saat mereka kesusahan.


Cih, yang benar saja?


Bukannya karena orang tua Sifa seorang pemulung, dan Nenek yang merawat Sifa bukanlah nenek kandung mereka, Melainkan orang tua angkat dari ibu Sifa. Makanya sanak saudara dari keluarga ayah Sifa enggan untuk membantu Sifa di saat mereka kesusahan. Untungnya ada seseorang yang menolong mereka dan menemukan rumah kecil yang bisa di tempati. Tempat di mana mereka bisa berteduh dari hujan dan panas, menutupi rasa lapar dan menghilangkan rasa lelah mereka. Tidur dengan nyenyak, walaupun ada lubang kecil di beberapa gentengnya, sehingga membuat angin masuk dari sela-sela lubang kecil menghantarkan dinginnya malam. Dan juga, di  mana saat hujan tiba, akan jatuh tetesan air hujan dari sana, sehingga membuat sang nenek harus berjaga, agar Sifa dapat tidur dengan nyenyak tanpa harus kebasahan akibat tetesan hujan itu. Rumah itu pun menjadi satu-satunya tempat mereka berlindung. Tempat yang penuh kenangan bagi Sifa dan sang nenek. Tapi, tempat itu saat telah hancur karena ****** beliung yang terjadi pada saat malam itu.


Berkat musibah itu pula, Sifa bisa tinggal di apartemen dan semakin dengan Abash. Mungkin inilah yang sudah dikatakan tulisan takdir dari Allah, di mana setiap ada musibah, pasti ada nikmat dan keberkahan di dalamnya. Yang terpenting kuncinya cuma satu, yaitu sabar dan tetap bersujud kepada sang pencipta.


"Kenapa Mas mengundang mereka?" Sifa bertanya seperti itu, karena dia merasa bingung, apa tujuan dan rencana Abash mengundang mereka semua. Padahal Abash tahu, jika Sifa tak pernah di anggap oleh sanak keluarganya itu. Dan juga, Sifa tidak ingin bertemu dengan mereka semua, karena rasa sakit dihatinya masih membekas.


Wajar kan Sifa sakit hati? Sedangkan dirinya tidak pernah di anggap waktu dulu? Lagi pula, Sifa hanya manusia biasa yang pastinya bisa juga terluka.


"Biar mereka tahu, siapa kamu sekarang," bisik Abash. "Dan juga, biar mereka menyesali perbuatan mereka di saat dulu," ujar Abash dan tersenyum kepada Sifa.


"Maksud, Mas?" tanya Sifa dengan kening mengkerut.


Abash benar-benar mual saat mendengar pakde-nya Sifa berkata jika dulu dia sering menggendong Sifa dan menyuapinya makan. Pria paruh baya itu saat ini sudah berbincang dengan Mama Kesya dan Papa Arka.  Bahkan, tanpa rasa canggung, pakde berkata jika Sifa sering tertidur di dalam gendongannya.


"Benarkah?" tanya Abash dengan tersenyum miring, sehingga membuat pakde menoleh ke arahnya.

__ADS_1


"Benar, Nak. Sifa itu dulu---"


"Jika Pakde suka menyuapi Sifa dulu, apa makanan kesukaan Sifa?" potong Abash cepat. Rasanya sungguh sangat malas sekali mendengar bualan pakde.


Pria itu sengaja bertanya dengan pertanyaan yang mudah, hanya untuk memancing sedekat apa pakde-nya Sifa itu dengan calon istrinya. Jika pertanyaan yang segampang itu saja tidak bisa di jawab, maka bukankah mereka terlihat sekali jika sedang membual sekarang?


"Oh, makanan kesukaan Sifa?" ujar Pakde dan melirik ke arah bukde, serta anak dan saudaranya yang lainnya.


Mereka pun terlihat sedang berbicara melalui mata, di mana satu persatu memberi kode makanan apa yang  sekiranya di sukai oleh Sifa.


"Bagaimana, Pakde? Apa makanan kesukaan Sifa?" tanya Abash lagi dengan tersenyum miring. "Apa Pakde tau makanan kesukaan Sifa? Atau tidak? Atau sudah lupa?" pancing Abash lagi, kali ini tidak ada senyuman di wajah pria itu.


Mama Kesya dan Papa Arka sengaja membiarkan Abash meluapkan kekesalannya. Tujuan Abash mengundang sanak saudara Sifa bukan untuk mempermalukan mereka, akan tetapi ingin menunjukkan siapa Sifa sekarang. Tapi, melihat bagaimana mereka mengumbar jika Sifa bisa seperti sekarang berkat bantuan mereka, membuat Mama Kesya, Papa Arka, Abash, dan yang lainnya merasa geram.


"Duh, calon suaminya Sifa. Tentu saja Pakde tau apa makanan kesukaan Sifa," kekeh Pakde. "Sifa ini dia tidak suka pilih-pilih makanan, apa yang di kasih, pasti akan dia makan," ujar Pakde masih dengan tertawa sok akrabnya.


"Sifa ini suka nasi goreng buatan Bukde, setiap pagi Sifa selalu minta dimasakin nasi goreng dengan bukde," jawab Bukde dengan cepat dan penuh rasa bangga. "Iya kan Sifa" ujar Bukde sambil memberikan tatapan yang sedikit mengintimidasi.


Sifa hanya diam. Dia tidak menjawab atau pun merespon perkataan Bukde. Sifa juga ingin lihat, sejauh mana mereka berani berbohong. Walaupun sebenarnya di dalam hati Sifa sudah merasa geram dan hatinya juga kembali terluka.


"Iya, bener, Sifa suka banget sama nasi  goreng," sahut sepupu-sepupunya yang lain.


Ya, nasi goreng pun menjadi pilihan mereka. Siapa sih yang tidak suka dengan makanan yang terbuat dari nasi dan di aduk dengan sambal, atau cabe dan bawang goreng yang di campur dengan kecap. Pastinya setiap orang menyukai makanan tersebut kan? Makanan yang bisa dipastikan akan tersaji di atas meja setiap pagi. Itu pun kalo emaknya gak malas masak. he.. he.. he..


"Oh, nasi goreng, ya?" lirih Abash  sambil mengangguk-anggukan kepalanya.


"Kira-kira, kapan ya Sifa makan nasi goreng buatan Bukde?" tanya Abash dengan tersenyum tipis dan ramah.

__ADS_1


Senyuman itu pun membuat sepupu-sepupu Sifa yang lainnya menjadi tertarik, hingga mereka sedari tadi tidak berhenti berkedip memandang wajah Abash yang terlihat tampan. Gak senyum aja tampan, gimana kalu senyum, kan? Pastinya akan membuat siapa saja terklepek-klepek.


"Emm, terakhir kali Sifa makan nasi goreng buatan Bukde, ya?" lirih Bukde dengan gugup. "I-itu, saat Sifa duduk di bangku sekolah menengah pertama," jawabnya cepat.


"Owh, benarkah?" tanya Abash kepada Bukde dan Pakde.


"Iya, waktu itu kamu minta telor mata sapi aku. Karena kita sangat akrab, aku selalu memberikan telorku untuk kamu," sahut anak bukde.


"Wow, baik sekali anda," ujar Abash dengan tersenyum.


"Kami bersaudara, makanya harus saling berbagi," jawab anak bukde dengan tersenyum malu saat ditatap oleh Abash.


Sudah muak dengan kebohongan yang diciptakan oleh sanak saudara Sifa, Abash pun mengakhiri basa basi tersebut.


"Sayang, benar kamu suka nasi goreng buatan Bukde?" tanya Abash kepada Sifa dengan tersenyum lebar dan lembut. "Bukannya kamu tidak suka makan nasi?"


"Kamu tau, kalau aku tidak bisa makan nasi, bagaimana bisa aku memakan nasi goreng?" jawab Sifa dan tersenyum kepada Abash.


"Sifa, jangan bohong kamu. Kamu itu dulu  sangat suka dengan nasi goreng buatan ibuku. Bahkan dulu kamu suka meminta telor mata sapi ku," sahut anak bukde tak terima di saat Sifa mengatakan jika dia tidak pernah memakan nasi.


Ya, pada kenyataannya Sifa memang tidak pernah memakan nasi sedari umurnya enam bulan. Masih ingat kan, kalau Sifa pertama kali di kasih makan bubur tim? Atau nasi yang di jadikan bubur bayi? Sifa langsung sakit dan muntah-muntah, untuk itu, Sifa sewaktu umur enam bulan, hanya memakan pisang  yang di haluskan saja.


"Ya, kamu benar. Aku memang pernah meminta telor mata sapi kamu. Waktu itu aku masih berumur lima tahun," ujar Sifa dengan nada yang dingin. "Aku masih sangat ingat sekali, karena saat itu bukde dan pakde mengusir aku dari rumah, karena tubuhku bau dengan sampah," ujar Sifa sambil menggenggam erat tangannya.


"Dan kamu, kamu tidak pernah membagi sepotong telor pun untuk aku. Kamu bahkan memilih melemparnya ke tanah dan memberikannya kepada ayam. Kamu bilang, makanan itu lebih pantas di makan oleh ayam, bukan aku," sambung Sifa menahan air matanya yang hendak keluar.


"Sifa, kamu jangan berbohong. Mana mungkin anak umur lima tahun dapat mengingat hal itu?" bentak Bukde.

__ADS_1


"Jika aku berbohong, bisakah Bukde berbicara jujur? Di mana Bukde saat aku dan nenek kelaparan? Di mana kalian semua?" tanya Sifa dengan air mata yang jatuh membasahi pipinya.


__ADS_2