Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
S2 - Bab. 38


__ADS_3

Zia merasa bingung dengan apa yang Mama Nayna katakan. Enam bulan menikah dengan Arash, mungkin masih bisa di katakan waktu yang cukup singkat. Lagi pula, Rayyan dan Yumna masih terlalu kecil.


Zia membalikkan tubuhnya, dirinya tak bisa tidur karena terus terniang oleh perkataan sang mama. Haruskah dia mengakhiri pernikahan ini?


Tidak. Untuk apa Zia mengakhiri pernikahan ini? Toh dirinya sendiri yang telah memutuskan untuk menikah dengan Arash, pastinya beserta dengan konsekuensi yang harus dia tanggung.


Tapi! Apa yang di katakan oleh Mama Nayna ada benarnya. Perlahan, dirinya telah jatuh cinta kepada suaminya. Cinta yang sejak awal tidak dia harapkan. Dan berharap jika perasaan itu tidak pernah muncul di dalam hatinya.


Namun, siapa yang menyangka? Jika dirinya terjerat dalam pesona dingin sang suami. Zia membenci Arash, tapi rasa bencinya itu malah membuat dirinya terkurung dalam cinta sang suami.


Kembali lagi dengan perkataan Mama Nayna, di mana seolah memperingatkan dirinya agar tidak terlalu dalam jatuh ke dalam pesona Arash. Karena, jika terlalu dalam Zia terjatuh, maka akan sangat sulit untuknya bangun, keluar, dan terlepas dari pria itu.


Bukankah itu sama saja dengan menyakiti diri sendiri?


Zia kembali menghela napasnya dengan pelan. Sepertinya meneguk coklat hangat akan membuat dirinya merasa lebih baik.


Zia bangkit dari tidurnya, gadis itu pun berjalan perlahan menuju pintu kamar. Dengan gerakan yang benar-benar hati-hati, Zia menekan handle pintu dan membukanya.


Zia menghela napasnya pelan, di saat Rayyan, Yumna, dan Mama Nayna tidak terbangun dari tidurnya. Gadis itu pun kembali melanjutkan langkahnya menuju ke dapur.


"Kamu belum tidur?" tegur Arash yang sedang duduk di sofa.


Mendengar suara Arash yang tiba-tiba, membuat Zia terkejut dan hampir saja terjatuh.


"Sstt … aww …" ringis Zia pelan, di saat merasa kakinya berdenyut.


Arash bangkit dari duduknya, pria itu pun berjalan mendekati sang istri. "Pelan-pelan kalau jalan, Zi. Dan maaf, jika aku mengejutkan kamu."


Zia mengangguk pelan. "Iya, Mas. Gak papa. Aku aja yang jalannya sambil melamun," sahut Zia.


"Kenapa kamu bisa sampai melamun, Zi? Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Arash.


"Jangan bilang kalau kaku memikirkan Ibra?" jawab Arash dalam hati. "Tidak, jangan, Zi. Jangan mikirin Ibra. Kamu hanya perlu fokus kepada Rayyan dan Yumna saja," sambungnya lagi dalam hati.

__ADS_1


"Aku lagi mikirin kerjaan, Mas. Minggu depan Bang Fatih mengajak aku untuk menghadiri pertemuan di Malaysia," jawab Zia.


Arash sedikit bernapas lega, karena ternyata Zia tidak sedang memikirkan Ibra.


"Oh, ternyata itu. Aku pikir apa tadi!" gumam Arash pelan. "Berapa malam?" tanyanya lagi.


"Satu malam."


"Hmm, baiklah. Aku akan mengambil cuti untuk menemani Rayyan dan Yumna."


"Engg, gak usah, Mas. Aku sudah meminta tolong kepada Mama Nayna untuk menjaga Rayyan dan Yumna," ujar Zia memberitahu.


"Ah, begitu ya …"


"Iya, Mas." Zia pun melanjutkan kembali niatnya untuk membuat coklat hangat.


"Kamu mau ke mana, Zi?" tanya Arash yang mana membuat Zia kembali menghentikan langkahnya.


"Kamu duduklah di sana, biar aku yang buatkan," ujar Arash dan berlalu melewati Zia menuju dapur.


Zia mengernyitkan keningnya. Sudah beberapa hari ini Arash terlihat bersikap baik kepadanya. Apa yang sebenarnya terjadi? Apa kepala pria itu baru saja terbentur ke tembok?


Tak ingin berdebat, Zia pun menuruti perintah Arash dan duduk di sofa. Gadis itu melihat layar laptop yang ada di atas meja, di mana ternyata suaminya itu sedang bekerja.


Zia menyapukan matanya untuk melihat barang-barang yang ada di atas meja, di mana terlihat banyak berkas yang berserakan di sana. Tapi, ada satu barang yang mencuri perhatian Zia, yaitu sebuah buku majalah dengan gambar kartun kelinci di depannya, di mana di dalam buku tersebut terdapat banyak cerita dongeng.


Zia tersenyum kecil, buku yang ada di atas meja itu benar-benar mencuri perhatian dan membuatnya merasa penasaran.


"Ternyata Mas Arash suka buku anak-anak? Atau buku ini di beli khusus untuk Rayyan dan Yumna?" tanyanya entah kepada siapa.


"Buku itu punyaku. Aku memesannya karena buku tersebut memiliki edisi terbatas," jawab Arash yang mana membuat Zia kembali terkejut.


Arash berjalan semakin mendekat ke arah Zia, kemudian pria itu mengulurkan satu mug coklat hangat untuk gadis itu.

__ADS_1


"Aku pikir Mas beli buku ini untuk Rayyan dan Yumna," ujar Zia sambil terkekeh.


"Ya, bisa jadi juga sih. Secara kan buku ini nantinya akan menjadi milik Rayyan dan Yumna juga. Kalau mereka sudah bisa membaca," kekeh Arash.


"Tapi, kamu bisa membacakan buku ini untuk mereka, sebagai dongeng pengantar tidur," sambung Arash sambil mencicipi coklat hangat yang ada di tangannya.


"Iya, Mas." Zia ikut mencicipi coklat hangat yang dibuat oleh Arash.


"Emph …" Zia mengernyitkan keningnya, di saat merasa jika coklat hangat yang di buat oleh Arash terasa terlalu manis.


"Kenapa? Kamu gak suka?" tanya Arash.


"Bukan begitu, Mas. Tapi, rasanya terlalu manis banget," sahut Zia.


"Aku akan membuatkan yang lain," ujar Arash dan berdiri dari tempat duduknya.


"Eh, gak usah, Mas. Aku masih bisa meminumnya kok." Zia bersusah untuk menghentikan pergerakan Arash.


"Tidak apa, aku akan membuatkan yang lain." Arash kembali melanjutkan langkahnya, mengabaikan penolakan Zia.


"Padahal aku masih bisa meminumnya," gumam Zia dan menatap coklat hangat yang ada di tangannya saat ini.


Tak berapa lama, Arash kembali dengan membawa satu mug coklat hangat dan memberikannya kepada Zia.


"Minumlah," titahnya.


Zia mengangguk pelan, gadis itu mengambil mug yang diberikan oleh Arash dan meneguk isinya.


"Bagaimana?" tanya Arash yang sedari tadi terus memandang ke arah Zia.


"Rasanya sudah pas, Mas."


"Baguslah kalau begitu. Ayo di minum, kemudian kamu harus kembali tidur," titah Arash yang di angguki oleh Zia.

__ADS_1


__ADS_2