Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 307


__ADS_3

Acara perpindahan Sifa dari perusahaan Abash ke perusahaan Farhan pun dirayakan dengan besar-besaran. Gadis itu terlihat terkejut dengan apa yang dilakukan oleh sang kekasih.


"Mas, apa ini tidak terlalu berlebihan?" send.


Sifa yang tidak bisa langsung berbicara dengan Abash pun, terpaksa mengirimkan pesan kepada Abash. Terlihat pria itu membaca pesan yang masuk ke dalam ponselnya, akan tetap dia hanya membaca pesan masuk dari sang kekasih tanpa niatan untuk membalasnya.


"Kenapa cuma di read doang, sih? Gak di baca," gumam Sifa.


"Kenapa?"


Sifa terkejut di saat Bimo tiba-tiba berada di sampingnya.


"Eh, Mas Bimo."


Bimo terkekeh di saat melihat wajah gugup Sifa.


"Tegang amat, Fa? Kenapa?" tanya Bimo di saat Sifa dengan terburu-buru menyimpan ponselnya.


"Gak, gak papa kok." Sifa mencoba menunjukkan senyuman senetral mungkin, akan tetapi tetap saja dia terlihat gugup di depan Bimo.


Sebenarnya bukan gugup, melainkan lebih ke terkejut aja. Di sisi lain, Abash yang sedari tadi memang terus memperhatikan Sifa pun, mengepalkan tangannya erat, di saat lagi-lagi melihat Bimo mendekati calon tunangannya itu.


Ya, rencananya Abash ingin melakukan acara pertunangan dengan Sifa di saat malam keberhasilan di mana gadis itu selesai sidang. Akan tetapi, berhubung cincin yang Abash pesan tiba-tiba saja tertinggal di kantor, membuat pria itu mengurungkan niatnya. Lagi pula, Mama Kesya sudah memiliki agenda, jika akan mengadakan acara pertunangan Abash dengan Sifa, setelah gadis itu diterima di perusahaan Farhan.


Didi yang melihat ekspresi wajah sang bos berubah pun, langsung mengikuti ke mana arah pandang Abash.


"Sabar, Pak. Saya yakin, kalau Nona Sifa tidak akan tergoda dengan Bimo," bisik Didi untuk menenangkan hati sang bos.


Abash menoleh ke arah pria yang umurnya lebih tua dua tahun di atasnya, sehingga membuat Didi menelan ludahnya dengan kasar di saat ditatap dengan tatapan laser sang bos.


"Saya percaya sama tunangan saya, kalau Sifa tidak akan berpaling dari saya," geram Abash. "Tapi saya tidak suka, jika ada pria lain yang berani mendekatinya."


Didi kembali menelan ludahnya dengan kasar, di saat merasa jika dirinya telah salah dalam berkata.


"Iya, Pak. Maafkan saya," sesal Didi.


"Makanya kamu jomblo, karena suka su'uzon sama pasangan kamu," ketus Abash.


Didi mengerjapkan matanya, pria itu pun menatap sang bos dengan kening mengkerut.

__ADS_1


"Lah, yang buat gue jomblo, siapa? Kan dia yang bikin gue jadi jomblo karena tidak punya waktu untuk pasangan?" batin Didi.


"Kalau Pak Abash sih enak, bisa pacaran di dalam kantor. Lah gue? Mau pacaran sama siapa? Jadi cicak-cicak di samping iya," gerutu Didi di dalam hati.


"Udah puas mengatai saya?" tanya Abash yang mana membuat Didi kembali menoleh ke arahnya.


"Tidak, Pak. Saya tidak mengata-ngatai Bapak," bohong Didi.


"Saya tau, kalau kamu pasti sedang menggerutu di dalam hati. Iya, kan?"


Didi kembali menelan ludahnya dengan kasar. "Dari mana dia tau? Apa Pak Abash bisa membaca pikiran?" batin Didi lagi.


"Iya, saya bisa membaca pikiran kamu," ujar Abash yang mana lagi-lagi membuat Didi terkejut.


Didi pun berhenti untuk mengatai sang bos di dalam hatinya. Karena dia takut jika akan ketahuan lagi jika dia sedang mengata-ngatai Abash.


Abash pun tersenyum miring di saat melihat Didi terdiam, pria itu pun berlalu untuk menghampiri sang kekasih.


"Huff, aman," lirih Didi. "Eh, jangan-jangan Pak Abash selama ini tau apa yang aku katakan untuknya?" gumam Didi.


"Mampus, gue!"


"Asik banget? Lagi bahas apa?" tanya Abash.


Wajah Abash mungkin saat ini terlihat sedang tersenyum, akan tetapi tatapan matanya tetap memancarkan sinar kecemburuan. Sifa yang paham akan tatapan mata sang kekasih pun, perlahan menelan ludahnya dengan kasar. Gadis itu mencoba untuk tersenyum, akan tetapi dia malah mendapatkan lirikan maut yang sangat menakutkan.


"Iya, Pak. Lagi pula, belum tentu bisa bertemu dengan Sifa lagi. Jadi, lepas kangen lah sama Sifa-nya," ujar Bimo sambil tertawa pelan.


Abash ikut tertawa, kemudian dia melirik ke arah Sifa dengan bibir yang terukir senyuman manis.


"Benar begitu, Sifa?" tanya Abash.


Sifa hanya tersenyum kecil menanggapi apa yang ditanyakan oleh sang kekasih.


Tak berapa lama, teman-teman satu tim Sifa pun ikut bergabung. Mereka mengajak Sifa untuk berfoto bersama, karena kemungkinan mereka tidak akan bertemu lagi dengan gadis itu. Atau, bisa dikatakan akan sulit untuk bertemu Sifa, karena dia telah berada di kantor yang berbeda.


"Ah ya, Sifa. Katanya kamu lulus dengan nilai terbaik?"


"Iya, Kak, Alhamdulillah," jawab Sifa.

__ADS_1


"Syukurlah. Aku ikut senang mendengarnya. Ah ya, kapan nih wisudanya?"


"Tiga hari lagi, kalau tidak ada perubahan lagi, Kak."


"Waah, kamu benar-benar beruntung ya, Sifa. Tapi, menurut aku sih, kamu memang pantas bergabung dengan tim cobra, karena kamu itu memang pintar," pujinya.


"Terima kasih, Kak."


"Nanti, kalau kamu sudah pindah kantor, sering-sering dong main ke sini. Jangan sampai melupakan kami, ya?"


"Insya Allah, Kak. Kalau ada waktu senggang, pasti saya akan berkunjung ke sini," jawab Sifa.


"Harus itu, jangan sampai kamu tidak berkunjung ke sini, Sifa," sambung Abash yang mana membuat Sifa tersenyum dengan kikuk.


Melihat cara Sifa dan Abash saling berinteraksi melalui tatapan mata pun, membuat Bimo merasa jika ada sesuatu yang telah terjadi di antara mereka berdua. Atau, dugaan Bimo selama ini memang benar adanya?


Di tempat lain, Bara sedang membujuk sang kakak untuk menggantikannya menghadiri pesta yang akan diselenggarakan dua hari lagi. Pria itu tidak bisa hadir ke pesta tersebut, karena ada urusan yang juga harus dia selesaikan dalam waktu yang bersamaan. Untuk itu, Bara meminta kepada Putri untuk menggantikannya.


"Mau ya, Mbak?" bujuk Bara.


Putri menghela napasnya pelan, gadis itu pun terpaksa menerima tawaran sang adik. Tidak enak jika harus menolak, karena orang yang membuat pesta tersebut adalah salah satu partner kerja mereka yang paling berpengaruh untuk kemajuan perusahaan.


"Iya, aku gantiin kamu," ujar Putri dengan terpaksa.


"Oke, aku bikin daftar nama kamu di buku tamu, ya!"


Bara pun bergegas memberitahu kepada sang asisten, jika yang akan menggantikannya pergi ke pesta tersebut adalah Putri.


"Sudah aku kasih daftar nama kamu, Mbak. Ingat, jangan sampai lupa datang, ya?"


"Iya .. iya .."


Putri pun kembali merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, tubuhnya terasa sangat lelah, setelah mempelajari kasus yang sedang dia tangani saat ini.


*


Pria yang duduk di kursi mahal itu tersenyum lebar, di saat melihat siapa daftar nama tamu yang akan hadir saat di acara pesta yang akan diselenggarakan oleh salah satu pengusaha berpengaruh di negara ini.


"Waktu yang sangat tepat," ujarnya saat membaca dua nama yang akan dia hancurkan demi membalaskan dendamnya.

__ADS_1


"Segera siapkan ide untuk menghancurkan mereka," titahnya.


__ADS_2