Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 442


__ADS_3

Saat mendapatkan kabar tentan kondisi Zia, Mama Nayna tak sanggup membayangkan apa yang akan terjadi kepada sang putri. Wanita paruh baya itu pun sampai harus di rawat di rumah sakit karena jatuh pingsan begitu mendapatkan kabar dari Mami Anggun.


Papa Arka pun menggenggam bahu Papa Satria, seolah memberikan kekuatan kepada pria paruh  baya yang usianya hanya terpaut beberapa tahun saja.


Papa Satria harus kuat sebagai kepala keluarganya, di mana saat ini kondisii Zia yang pastinya tidak akan baik-baik saja untuk masa depan gadis itu, di tambah lagi keberadaan Bara yang juga belum di ketahui di mana posisinya saat ini. Papa Satria juga harus memikirkan kondisi kesehatan sang istri saat ini yang benar-benar terkejut dan sedih saat mendengar kondisi putri kandungnya.


"Maaf Tuan, Tuan Muda Bara sudah berada di rumah sakit," ujar tangan kanan Papa Arka memberitahu.


"Bawa dia segera ke sini," titah Papa Arka.


"Baik, Tuan. Tapi, keadaan Tuan Muda Bara benar-benar kacau saat ini," ujar tangan kanan Papa Arka lagi yang mana membuat Papa Satria mendongakkan kepalanya.


"Apa maksud kamu?" tanya Papa Satria.


"Maaf Tuan, sepertinya Tuan Muda Bara baru saja mengalami pengkeroyokan. Menurut laporan yang kami dapat, wajah Tuan Muda Bara penuh dengan luka lebam."


"Apa?"


"Panggil Anggel, biar dia yang mengobati Bara. Hal ini tidak ada yang boleh tahu, selain keluarga kita," titah Papa Arka yang langsung di turuti oleh orang kepercayaannya.


"Sebaiknya kita temui Bara dan melihat kondisinya," ajak Papa Arka.


"Lalu, bagaimana dengan istri saya?" tanya Papa Satria kepada besannya itu.


Saat yang bersamaan, masuk seorang gadis cantik dengan tubuh yang tegap.


"Perkenalkan, nama saya Desi. Saya yang akan menjaga Nyonya Nayna."


Ya, Desi di tugaskan untuk menjaga Mama Nayna. Berhubung Desi juga bagian dari keluarga, maka akan sangat mudah untuk mempercayakan keselamatan Mama Nayna kepada Desi.


Papa Satria menoleh ke arah Papa Arka, seolah bertanya apakah Desi bisa di percaya?


Melihat dari tatapan mata Papa Satria, Papa Arka dapat menebak apa yang ingin besannya itu tanyakan.

__ADS_1


"Desi adalah bagian keluarga kami. Jadi, percayakan Nayna kepadanya," ujar Papa Arka yang mana membuat Papa Satria menganggukkan kepalanya.


"Baiklah kalau begitu." Dengan berat hati, Papa Satria pun terpaksa meninggalkan sang istri yang sedang tertidur akibat obat penenang yang di berikan oleh Mami Anggun.


Papa Arka pun membawa Papa Satria menuju ruangan khusus di mana mereka akan membahas tentang Neli. Di sana sudah ada Arash dan Abash, begitu juga dengan Anggel yang sudah siap untuk mengobati Bara.


"Pa," tegur Bara saat mereka berpas-pasan di pintu masuk ruangan yang akan mereka gunakan untuk membahas hal tersebut.


"Astaghfirullah, Bara! Apa yang terjadi kepada kamu, Nak?" tanya Papa Satria yang merasa jika tubuhnya kembali tersambar oleh petir.


Kondisi Bara benar-benar sungguh menyedihkan, wajah pria itu benar-benar penuh dengan luka lebam. Bahkan, Bara berjalan sambil memeluk perutnya. Apa pria itu terkena luka tusukan?


"Sebaiknya kita obati Bara dulu di dalam," titah Papa Arka yang langsung di turuti oleh Papa Satria.


Papa Satria pun menuntun Bara untuk masuk ke dalam ruangan. Kedatangan Bara pun langsung di sambut oleh Dokter Anggel.


"Tolong periksa lukanya, An," titah Papa Arka yang di angguki oleh Anggel.


"Baik, Pa."


Butuh waktu empat puluh lima menit untuk Bara melakukan semua pemeriksaan, sebelum mereka membahas tentang apa yang telah mereka sembunyikan dari para orang tua.


"Untuk saat ini semuanya baik-baik saja, Pa. Tidak ada yang menjanggal," ujar Anggel memberitahu kepada Papa Arka dan Papa Satria tentan kondisi Bara.


"Syukurlah," Papa Satria pun bernapas dengan lega.


"Baiklah kalau begitu, kamu boleh keluar, An," titah Papa Arka yang langsung di turuti oleh Anggel.


Papa Arka tidak ingin Anggel ikut terlibat dalam pembahasan yang akan mereka bicarakan saat ini dengan Arash, Abash, dan Bara.


"Jadi, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Neli sampai melukai Zia?" tanya Papa Arka.


Abash menghela napasnya panjang dan pelan, semua ini bermula karena Bara yang ingin melindungi Sifa. Dan untuk itu, dia harus bertanggung jawab atas apa yang terjadi dengan gadis malang itu.

__ADS_1


"Semua ini salah Bara, Om. Bara yang telah memicu api, sehingga membuat ledakan sepert ini," ujar Bara sebelum Abash membuka mulutnya.


"TIdak, bukan salah kamu, Bar. Ini salah aku. Seharusnya aku yang melindungi Sifa, bukan kamu. Andai saja aku yang berhadapan langsung dengan Neli saat itu untuk membela Sifa, mungkin hal ini tidak akan terjadi," sambar Abash.


"Tidak, Bash. Ini semua salah aku. Andai saja aku mendengarkan kamu dan tidak meremehkan Neli, mungkin semua ini tidak akan pernah terjadi." Bara mengepalkan tangannya, merasa bersalah dengan sang adik yang tidak berdosa.


Ya, Zia tidak ada sangkut pautnya dengan masalah yang sedang dia hadapi saat ini, tetapi gadis malang itu malah harus menanggung semua akibatnya seumur hidup.


Papa Arka dan Papa Satria pun mendengarkan apa yang sedang Bara dan Abash perdebatkan, hingga akhirnya Papa Arka meminta keduanya untuk diam.


"Jelaskan bagaimana awal mula semua ini terjadi," titah Papa Arka dengan nada suaranya yang menuntut.


"Biar Bara yang menjelaskannya, Om, Pa."


Bara pun menjelaskan asal mula kejadian di mana Neli menghina Sifa. Karena Sifa sudah menjadi bagian keluarganya, walaupun hanya sebatas ipar ke ipar, akan tetapi yang namanya keluarga tetaplah keluarga. Bara pun membela Sifa sebagaimana seharusnya pria itu lakukan. Lagi pula, jika hal serupa terjadi kepada Zia, mungkin Abash juga akan melakukan hal yang sama.


Bara juga mengakui jika Neli membuat kesepakatan dengannya agar tidak mengganggu Sifa lagi. Bara menyetujui kesepakatan tersebut karena dia harus mencari sebuah informasi dari Neli, dan juga, pria itu ingin mengungkap kebohongan yang diciptakan oleh keluarga wanita itu. Bara membuat sebuah rencana dan perangkap untuk Neli, akan tetapi dirinya lah yang terperangkap dalam rencananya sendiri.


Awalnya Abash sudah memberikan peringatakan kepada Bara, akan tetapi dengan percaya dirinya Bara mengatakan jika dia bisa mengelabui Neli. Kesombogannya itu pula ternyata membuat petaka bagi Zia. Bara tidak peduli jika dirinya yang harus mengalami kecacatan, asal bukan adik kesayangannya. Tapi, semuanya sudah terlanjur terjadi. Nasi sudah menjadi bubur. Bara tidak bisa mengulang apa yang telah terjadi kepada adiknya.


Hanya satu harapan Bara, semoga adiknya baik-baik saja. Bara berjanji akan menjaga sang adik agar tidak kembali terluka akibat kecerobohannya.


Papa Arka dan Papa Satria bersamaan menghela napasnya dengan berat dan panjang. Darah muda yang mengalir pada tubuh Bara pastinya membuat pria itu tidak bisa berperilaku layaknya seorang pria dewasa. Lagi pula, Bara masih berumur dua puluh dua tahun. Wajar saja kan jika darah mudanya masih menggebu-gebu dan suka bersikap ceroboh?


Semoga dengan kejadian ini, Bara bisa menjadi pribadi yang lebih dewasa dan berhati-hati ke depannya.


"Semua ini sudah terlanjur terjadi. Lalu, apa rencana kalian sekarang?" tanya Papa Arka kepada Bara dan Abash.


"Untuk saat ini, sebaiknya kita biarkan Neli melakukan semua rencananya," ujar Abash yang mana membuat Bara menoleh.


"Kita tidak bisa tinggal diam. Kita harus membalas dendam," sahut  Bara.


"Bara! Tenanglah," tegur Papa Satria. "Ini bukan masalah sepele. Kamu harus tahu dan lihat siapa lawan yang sedang kamu hadapi. Jangan gegabah dalam mengambil keputusan, karena bukan hanya ada satu korban, melainkan masih akan ada korban yang lainnya lagi yang akan jatuh jika kamu bertindak ceroboh," ujar Papa Satria menahan emosinya.

__ADS_1


Bara terdiam, apa yang dikatakan oleh Papa Satria memang ada benarnya.


"Untuk saat ini, sebaiknya kita ikuti rencana Abash," titah Papa Satria yang mana membuat Bara hanya bisa menurut patuh.


__ADS_2