
Dua hari telah berlalu. Zia sedikit pun tidak beranjak dari ruang inap Yumna dan Rayyan. Sejak kedatangannya, gadis itu tidak kembali pulang. Zia memutuskan untuk merawat Rayyan dan Yumna sampai mereka sembuh. Selama Zia berada di rumah sakit, Arash pun di larang untuk masuk ke dalam ruang inap Yumna dan Rayyan, karena tidak ingin membuat Zia merasa tidak nyaman.
Arash sempat tidak terima, karena dia tidak bisa bertemu dengan Yumna dan Rayyan. Ya, ayah mana sih yang bisa tenang jika tidak melihat anak-anaknya? Apa lagi saat ini kedua buah hatinya sedang sakit dan di rawat di rumah sakit.
Setelah Mama Nayna dan Mama Kesya berbicara baik-baik dengan Zia, akhirnya gadis itu memberikan izin kepada Arash untuk masuk. Tapi dengan satu syarat, Zia tidak ingin berdua saja dengan pria itu.
"Bagaimana keadaan Yumna dan Rayyan, Ma?" tanya Arash kepada Mama Nayna.
"Yumna dan Rayyan sudah lebih baik dari kemarin. Bahkan, Rayyan sudah mau makan dan Yumna sudah lahap minum susunya.," ujar Mama Nayna memberitahu.
"Syukurlah kalau begitu!" Arash merasa lega, di saat mendengar kabar tentang kedua buah hatinya yang menunjukkan kemajuan.
Sebelumnya, Yumna tidak mau meminum susu, sedangkan Rayyan menolak untuk makan. Orang tua mana yang bisa tenang di saat mengetahui jika anaknya tidak mau makan. Segala cara dan upaya pun pasti akan di lakukan.
"Rash, kalau Mama boleh meminta sama kamu, apakah Mama boleh membawa pulang Rayyan dan Yumna ke rumah?" tanya Mama Nayna hati-hati.
Tentu saja pertanyaan Mama Nayna ini sangatlah sensitif. Bagaimana tidak, secara tak langsung sama saja kan Mama Nayna ingin memisahkan Yumna dan Rayyan dari ayahnya?
"Ma-maksdunya, Ma?" tanya Arash dengan kening mengkerut.
"Begini, tadi dokter sudah memberitahu kalau Rayyan dan Yumna sudah bisa pulang besok. Maka dari itu, Mama dan mama kamu sempat berbincang tentang masalah ini. Ya, kami sebagai orang tua hanya bisa memberikan saran, semua itu kamu yang memutuskan," ujar Mama Nayna.
"Saran Mama dan mama kamu adalah untuk sementara waktu Yumna dan Rayyan tinggal bersama Zia dulu, bagaimana?" tanya Mama Nayna lagi.
Arash terlihat menarik napas dan menghelanya secara perlahan. Ini bukanlah keputusan yang mudah bagi pra itu. Setelah kehilangan Putri untuk selamanya, Arash tidak ingin lagi berjauhan dari putra putrinya. Bahkan, Arash sedang mempersiapkan dirinya untuk melepas seragamnya saat ini agar dirinya bisa fokus merawat kedua buah hatinya.
"Hanya satu minggu saja, bagaimana?" Mama Nayna memperhatikan wajah Arash yang terlihat keberatan.
"Kalau kamu mau, kamu boleh tinggal bersama kami. Lagi pula, sampai kapan pun kamu akan tetap menjadi menantu Mama," tawar Mama Nayna.
__ADS_1
"Kenapa Yumna dan Rayyan harus pulang ke rumah Mama?" tanya Arash.
"Agar mereka bisa di rawat oleh Zia sampai benar-benar sembuh. Lagi pula, energi positif yang ada di dalam diri Zia, sepertinya membuat mereka merasa nyaman dan merasa dekat dengan ibunya."
Arash kembali diam, pria itu sedang memikirkan apa yang di katakan oleh Mama Nayna. Jika Yumna dan Rayyan harus tinggal bersama Zia, itu artinya dirinya tidak bisa leluasa menghabiskan waktu bersama kedua buah hatinya.
"Hanya satu minggu saja, Rash. Setelahnya Yumna dan Rayyan akan kembali pulang ke rumah mama kamu!" ujar Mama Nayna menyadarkan lamunan sang menantu.
"Jika ini semua untuk kebaikan Yumna dan Rayyan, maka Arash akan setuju, Ma, walaupun sebenarnya Arash merasa berat hati untuk tinggal berjauhan dari anak-anak Arash."
"Rash, kamu bisa menginap di rumah Mama, jika kamu mau," tawar Mama Nayna.
"Tidak, Ma. Jika Arash menginap di rumah Mama, pastinya itu akan membuat Zia merasa tidak nyaman," tolak Arash. "Arash akan berkunjung di saat pulang kerja, Ma. Lalu Arash akan kembali pulang di saat Yumna dan Rayyan sudah tertidur."
"Ya sudah kalau begitu, bagaimana baiknya sama kamu aja ya. Tapi, ini Yumna dan Rayyan beneran boleh tinggal bersama Mama, kan?" tanya Mama Nayna sekali lagi untuk memastikan.
"Iya, Ma. Mereka boleh kok tinggal sama Mama," jawab Arash. "Hanya untuk satu minggu saja kan, Ma?"
*
Zia yang mendapatkan kabar jika Yumna dan Rayyan diperbolehkan pulang ke rumahnya pun merasa sangat senang. Kasih sayangnya kepada dua balita itu benar-benar tulus. Walaupun Yumna dan Rayyan bukanlah anak kandungnya, tapi Zia seolah merasa jika dirinya memiliki ikatan batin yang sangat kuat sekali dengan kedua balita tersebut.
"Mama gak bohong, kan?" tanya Zia memastikan.
"Iya, sayang. Mama gak bohong. Arash sendiri yang telah memberikan izin kepada Mama untuk membawa Yumna dan Rayyan pulang ke rumah," jawab Mama Nayna yang mana membuat Zia merasa sangat bahagia sekali.
"Tapi, Yumna dan Rayyan hanya di perbolehkan tinggal di rumah selama satu minggu saja," ujar Mama Nayna memberitahu.
Zia menganggukkan kepalanya pelan. Satu minggu pun sudah sangat berarti bagi Zia, karena bisa bersama dengan Yumna dan Rayyan sepanjang waktu.
__ADS_1
"Horee! Kita pulang ke rumah uti!" ujar Zia kepada Yumna yang ada di dalam gendongannya.
*
Arash mengantarkan Zia, Mama Nayna, Yumna, dan Rayyan ke kediaman Bara. Walaupun pria itu masih merasa berat hati harus tinggal berpisah dengan kedua buah hatinya. Tapi, demi kebaikan Rayyan dan Yumna Arash harus menguatkan dirinya kan? Semua ini demi kedua buah hatinya yang sedang menjalani masa pemulihan pasca demam dan di rawat di rumah sakit.
"Rash! Makan siang di sini, ya?" tawar Mama Nayna kepada menantunya itu.
"Iya, Ma, boleh." Arash yang memang sengaja mengambil izin dari kantornya pun, sengaja ingin menghabiskan waktu dengan Yumna dan Rayyan.
Terlihat Arash yang sedang bermain balok susun bersama Rayyan, di mana mainan tersebut sengaja di beli olehnya kemarin. Sedangkan Zia, gadis itu bermain bersama Yumna, tak jauh dari Arash dan Rayyan bermain.
"Mbaak!" Mama Kesya memanggil baby sister yang menjaga Rayyan.
"Ya, Buk?"
"Stay di sini, ya. Saya mau ke dapur, mau bantuin Buk Nayna masak," ujar Mama Kesya yang di angguki oleh baby sisternya Rayyan.
Mbak Lasri pun duduk di samping Zia, melihat anak majikannya itu bermain dengan uti-nya.
Mama Nayna memandang dari kejauhan, pemandangan di mana Arash sedang bermain dengan Rayyan, sedangkan Zia bermain dengan Yumna yang terlihat sudah pintar membalikkan badannya.
"Mandangin apa, Mbak?" tanya Mama Kesya yang sudah berdiri di dekat Mama Nayna.
"Itu, mandangin Zia dan Arashm" ujar Mama Nayna sambil menunjuk ke arah orang yang di maksud.
Mama Kesya pun menoleh ke arah tunjuk Mama Nayna, di mana terlihat jika Arash seolah memiliki keluarga yang lengkap. Entah mengapa, harapan Mama Kesya untuk menjadikan Zia sebagi menantunya kembali mencuat.
"Andai saja Zia bisa menjadi isrti Arash dan ibu dari anak-anak mereka," ujar Mama Kesya menatap penuh harapan ke arah Zia dan Arash.
__ADS_1
Mama Nayna hanya bisa menarik napasnya panjang dan dalam. Sebenarnya, semenjak Zia merawat Yumna dan Rayyan di rumah sakit, Mama Nayna sempat memiliki pemikiran seperti itu. Mama Nayna ingin jika Zia menjadi ibu pengganti bagi cucu-cucunya. Tapi, semua itu kembali lagi kepada yang bersangkutan kan?
"Mbak, apa Mbak Nayna tidak bisa membujuk Zia untuk menjadi ibu sambung dari cucu-cucu kita?" pinta Mama Kesya kepada Mama Nayna.