Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
S2 - Bab. 19 - Bagaikan Mimpi Buruk


__ADS_3

Zia menatap cincin emas yang melingkar di jari manisnya. Tiga puluh menit yang lalu, gadis itu telah resmi berstatus sebagai Nyonya Arash.


Ya, pernikahan Zia dan Arash pun langsung dilaksanakan seminggu setelah jawaban Zia yang bersedia menjadi ibu sambung untuk Rayyan dan Yumna. Siapa yang menyangka, jika hal ini terjadi di dalam kehidupan Zia.


Satu-satunya orang di muka bumi ini yang tidak akan menjadi kandidat sebagai suami bagi Zia, nyatanya saat ini telah resmi berstatus suaminya.


Zia menghela napasnya pelan dan panjang. Rasa apa yang sedang dia alami saat ini, terasa bagaikan mimpi yang sangat panjang. Mimpi buruk yang benar-benar sangat panjang yang harus dia jalani.


Pernikahan impian yang Zia impikan selama ini pun, nyatanya hanya menjadi sebuah mimpi indah saja. Pernikahan dengan konsep princess, yang selama ini dia harapkan, nyatanya hanya terlaksana di kantor KUA saja, di mana hanya acara itu hanya di hadiri oleh keluarga inti saja.


Ya, pernikahan Arash dan Zia bisa di katakan menjadi pernikahan yang di rahasiakan oleh keduanya dari publik.


"Zi," terus Mama Nayna.


Zia dengan cepat menghapus air matanya, gadis itu pun tersenyum kepada wanita yang telah melahirkannya ke dunia ini. Senyuman yang lebar dan terlihat sangat tidak natural.

__ADS_1


Mama Nayna hanya bisa menghela napasnya berat dan panjang. Tangan wanita paruh baya itu pun terangkat untuk menghapus air mata sang putri tercinta.


"Mama hanya berharap kamu bisa hidup bahagia," ujar Mama Nayna sambil menangkup pipi Zia.


"Zia janji, Zia akan hidup bahagia, Ma."


Mama Nayna memandang wajah putri kecilnya. Putri kecilnya yang tumbuh dewasa dengan begitu cepatnya. Putri kecilnya yang sudah harus menanggung tanggung jawab yang besar dan merelakan kebahagiannya begitu saja.


Mama Nayna pun hanya bisa berdoa, jika suatu saat nanti, Zia benar-benar bisa bahagia dengan Arash. Semoga suatu saat nanti, akan ada cinta yang tumbuh di antara mereka berdua.


Mama Nayna pun menarik Zia ke dalam pelukannya, hingga membuat tangis keduanya pun pecah.


"Mama gak salah. Semua ini sudah menjadi keputusan Zia, Ma. Mama gak salah sama sekali. Jadi, Zia mohon, jangan pernah meminta maaf atas keputusan yang sudah Zia buat, Ma," sahut Zia dengan berbisik pula.


Dari kejauhan, Mama Kesya hanya bisa menatap sendu ke arah ibu dan anak yang sedang berpelukan itu. Bulir bening pun ikut terjatuh membasahi pipi, sehingga secara perlahan rasa sesak di dada pun mulai terasa.

__ADS_1


"Mas, hiks ...." Mama Kesya langsung memeluk tubuh sang suami, di saat Papa Arka meremas pelan bahu Mama Kesya, seolah mengatakan jika semuanya akan baik-baik saja.


Di ruangan lain, Papa Satria sedang duduk bersama Arash. Mereka hanya berdua saja saat ini, karena apa yang akan di bicarakan oleh Papa Satria bersifat pribadi.


"Pernikahan ini tidak menguntungkan bagi Zia. Bahkan, pernikahan ini membuat Zia harus berkorban banyak," ujar Papa Satria membuka percakapan mereka.


"Dulu, Zia adalah gadis yang manja dan keras kepala. Jika dia sudah menginginkan sesuatu, maka apa yang diinginkannya itu harus tercapai. Tapi, seiring berjalannya waktu, sifat Zia berubah, membuat Papa sendiri hampir tidak mengenalinya." Papa Satria pun menghela napasnya pelan dan panjang.


"Kejadian saat itu, membuat Zia berubah menjadi orang lain. Papa dan Mama merasa sulit untuk menggapainya dulu. Rasa kecewa yang Zia rasakan, membuat hubungan kami, sebagai orang tua dan anak pun seolah berada di antara sungai yang berarus deras."


Papa Satria kembali menghela napasnya pelan.


"Sebagai orang tua, Papa hanya bisa berharap atas kebahagiaan Zia. Kebahagiaan yang tidak bisa Papa berikan kepadanya. Kebahagiaan yang membuat dirinya kembali menjadi Zia yang dulu. Zia yang manja dan menggemaskan," ucap Papa Satria, di mana terlihat jika mata pria paruh baya itu sudah terlihat merah dan berkaca-kaca.


"Papa tahu, kamu tidak mencintai Zia. Atau bahkan, kamu tidak akan pernah mencintainya." Papa Satria menggantung kalimat yang ingin dia ucapkan lagi. Pria itu menatap ke arah Arash yang juga menatap ke arahnya.

__ADS_1


"Tapi, Papa hanya minta satu hal saja sama kamu, Rash. Hanya satu saja. Tolong, kamu buat Zia bahagia, walaupun kamu tidak mencintainya," ujar Papa Satria dengan tatapan memohon.


"Ini adalah permintaan Papa yang terakhir untuk kamu, Rash. Jangan pernah buat Zia menangis, tolong, kamu buatlah Zia bahagia menikah denganmu." Satu bulir bening pun terjatuh membasahi pipi Papa Satria. "Dan jika kamu tidak bisa membahagiakannya, Papa mohon, jangan sakiti dan buat Zia menangis. Cukup kembalikan Zia kepada Papa, dan Papa tidak akan pernah menyalahkan kamu."


__ADS_2