Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 55 - Genggaman tangan


__ADS_3

"Pak, Awas," pekik Sifa.


Buukk ....


"Akkkhh ...."


Abash menatap plat mobil yang melaju kencang tadi, menghapal nomornya dan akan melaporkan hal ini kepada pihak berwenang di gedung apartemen nya.


"Kamu gak papa?" tanya Abash kepada Sifa yang ada di bawahnya saat ini.


"I-iya, Pak. Saya gak papa."


Abash bangkit dari atas tubuh Sifa, kemudian pria itu membantu Sifa untuk berdiri.


"Awww...." Sifa meringis saat merasakan perih pada sikunya.


"Kenapa? Coba saya lihat." Tanpa menunggu jawaban dari Sifa, Abash menarik pelan lengan gadis itu. Sikunya terlihat berdarah, mungkin karena benturan dan juga gesekan saat mereka terguling di lantai.


Ya, saat Sifa melihat sebuah mobil yang melaju kencang, gadis itu langsung berteriak dan mendorong tubuh Abash. Akan tetapi, pria itu menarik lengan Sifa dengan cepat sehingga mereka terjatuh bersamaan dengan posisi berpelukan dan berguling di lantai.


"Gak terlalu parah kok, Pak. Cuma lecet aja."


"Tetap aja harus d obati, ayo." Abash menggenggam tangan Sifa San membawanya masuk menaiki lift.


Entah Abash sadar atau tidak melakukan hal tersebut, yang jelas perlakuan Abash itu membuat Sifa menatap tangannya yang di genggam oleh Abash dengan hangat. Gadis itu terus menatap tangannya hingga mereka sampai ke dalam.


Abash masih belum menyadari hal tersebut, pria itu masih setia menggenggam erat dan hangat tangan gadis yang tengah berada di dalam lift bersamanya saat ini.


Abash menatap angka yang bertuliskan warna merah di dalam kotak besi itu, angka yang terus naik satu tingkat dari angka sebelumnya tanpa melirik ke arah Sifa. Yang ada di dalam pikiran Abash saat ini adalah, membersihkan siku Sifa yang terluka akibat menolongnya.


Ting ...


Pintu terbuka, akan tetapi bukan di lantai apartemen mereka berada, melainkan di lantai yang lain. Ada beberapa orang yang masuk ke dalamnya, sehingga membuat Abash memundurkan langkahnya dan berdempetan dengan Sifa.


Pintu lift kembali tertutup, saat ini di dalam lift benar-benar hampir penuh. Terlalu banyak orang yang mana membuat Abash dan Sifa terpaksa saling merapatkan tubuhnya.


Ting ...


Pintu lift terbuka di lantai apartemen Sifa, mereka pun keluar dari desaknya orang-orang yang ada di dalam lift.


Masih dengan tangan yang saling menggenggam, Abash membawa Sofa menjauh dari desakan orang-orang tersebut.


"Tumben banget full," gerutu Abash dengan kesal.


Sifa masih terdiam dengan mata yang masih setia menatap ke arah jari jemarinya yang di genggam oleh Abash. Hingga tibalah mereka di depan apartemen Abash yang di tempati oleh Sifa.

__ADS_1


Abash mengangkat tangannya untuk memasukkan kode password, akan tetapi, saat dia melihat tangannya menggenggam erat tangan Sifa, pria itu perlahan menoleh ke arah Sifa yang juga sedang menatapnya.


Sedari tadi Sifa sebenarnya mencoba untuk melepaskan tangannya, akan tetapi Abash menggenggamnya dengan erat sehingga membuat gadis itu kesusahan untuk melepaskan tangannya.


"Sejak kapan?" tanya Abash.


"Hah? Apanya?" tanya Sifa balik.


"Ini, sejak kapan?" tanya Abash sambil mengangkat tangannya yang sedang menggenggam tangan Sifa.


"Oh, i-itu.. se-sejak dari di baseman," ujar Sifa dengan gugup.


Abash terdiam, dia mencerna ucapan Sifa dengan baik, sehingga membuat pria itu memikirkan sesuatu hal yang hanya dialah yang tau.


"Maaf," ujar Abash sambil melepaskan genggaman tangannya.


"Iya, Pak. Saya tau kok, kalau Bapak gak sengaja."


Tak ada jawabn dari Abash, pria itu menghela napasnya pelan dan memasukkan kode password apartemennya.


Sifa mengikuti Abash saat pria itu telah berhasil membuka pintu dan masuk kedalamnya.


"Duduk dulu di situ, saya ambil p3k," ujar Abash dan berlalu ke dapur.


Sama halnya dengan Abash yang berada di dapur. Pria itu berdiam diri dengan memegang dadanya, yang mana dapat di rasakan betapa kuatnya detak jantung pria itu saat ini.


"Apa ini? Kenapa jantungku begini? Apa ada kelainan?" lirihnya.


Pria itu menggelengkan kepalanya saat pikiran yang sangat mustahil baginya pun singgah membisikkan segala sesuatu itu.


"Gak mungkin, ini hanya kebetulan saja," gumamnya menolak semua pemikiran-pemikiran tersebut.


Abash segera mengambil kotak p3k yang ada di dalam lemari, pria itu pun kembali berjalan menuju living room, di mana Sifa sedang menunggunya di sana.


Sifa yang menyadari kehadiran Abash, langsung dengan cepat menurunkan tangannya dari dada.


"Sini, saya lihat lukanya," ujar Abash dan duduk di sebelah Sifa.


"Sa-saya bisa sendiri kok, Pak," tolak Sifa.


"Udah, gak usah bawel." gerutu Abash DNA menarik tangan Sifa dengan lembut.


Pria itu mengambil kapas dan menuangkan rivanol ke atasnya. Dengan perlahan, Abash mengusap lembut luka Sifa dan membersihkannya.


"Sssst, Aaw, pelan-pelan, Pak." lirih Sifa dengan mata yang berkaca-kaca.

__ADS_1


Ya, Sifa ini orangnya paling tidak bisa ada luka sedikit pun pada tubuhnya, karena trauma yang pernah di alaminya dulu saat kecil. Dimana saat kakinya patah dengan daging yang hancur, gadis kecil itu harus merasakan sakit yang luar biasa, di tambah lagi saat itu perawat yang merawat dirinya, mengganti perban tanpa dengan kelembutan, sehingga Sifa harus merasakan sakit yang luar biasa saat plaster perban di buka.


Baiklah, kembali ke saat ini. Abash meniup pelan siku gadis itu, agar Sifa tak merasakan sakit. Entahlah, apa itu berpengaruh atau tidak, yang jelas seingat Abash, saat dirinya terluka, sang mama melakukan hal tersebut.


Satu tetes air mata Sifa jatuh membasahi lengan Abash, sehingga membuat pria itu menoleh ke arah Sifa dengan kening mengkerut.


"Sakit banget?" tanyanya.


Sifa menggelengkan kepalanya, air matanya kembali jatuh membasahi pipi.


"Hei, tenanglah. Aku akan melakukannya secara perlahan. Tahan sedikit ya," ujarnya dengan lembut.


"Iya, tapi, hiks ..." Sifa tak bisa melanjutkan kata-katanya.


Abash kembali teringat dengan perkataan Lucas, jika Sifa memiliki trauma dengan rumah sakit. Semua itu mungkin alasannya ada pada bekas luka yang ada di kaki Sifa.


Abash yang pintar pun sedikit memahami pernyataan tersebut. Rasa trauma itu kembali di saat gadis ini terluka. Dia akan mengingat semua kenangan pahit itu dan tanpa dia inginkan, air mata pun keluar membasahi wajahnya untuk mewakili perasaannya saat ini.


Abash memang tak tahu, rasa sakit seperti apa yang telah di lalui oleh Sifa.


Tangan Abash terangkat dan mengusap lembut pipi Sifa, menghapus air mata yang mengalir dan membasahi wajah manis gadis itu.


"Aku akan melakukannya secara perlahan. Kamu tau, setiap luka akan meninggalkan rasa sakit, tapi, dari luka tersebut kita bisa belajar untuk menjadi lebih kuat. Percayalah," ujar Abash dengan lembut dan menatap dalam ke mata Sifa.


Gadis itu pun membalas tatapan mata sang bos, sehingga mereka saling menatap satu sama lain. Entah berapa lama itu terjadi, hingga secara perlahan Abash mendapatkan wajahnya.


Mendekat dan semakin dekat, hingga perlahan Sifa menutup matanya.



hai, aku Sifa ... Salam kenal semuanya...


\=\= Hai readers tercinta..


Maaf ya, bulan ini gak bisa tepati janji untuk up setiap hari.. Dan, kalau ada novel q d NT yang baru terbit, itu bukan karena aku ingin melupakan kewajiban q dengan twins yaa, akan tetapi itu karena syarat tamat buku.


yups, Keajaiban cinta Kesya akan segera tamat, dan aku harus rilis buku baru agar bisa mendapatkan bonus. maklum, aku hanya manusia biasa yang juga butuh pendapatan..


Terima kasih semuanya, dan selamat berpuasa bagi yang menjalankan, ya..


...Jangan lupa Vote, Like, and komen ya .....


...Salam sayang dari Abash n Sifa...


...Follow IG Author : Rira Syaqila...

__ADS_1


__ADS_2