Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
S2 - Bab. 40


__ADS_3

Arash merasa jika tangannya seolah tertimpa oleh sesuatu yang berat dan terasa kebas. Pria itu pun membuka matanya secara perlahan, untuk melihat apa penyebab tangannya tidak bisa di angkat.


Arash mengernyitkan keningnya, pria itu merasa tidak yakin dengan pandangannya saat ini, sehingga dia memutuskan untuk mengucek matanya secara perlahan. Saat sudah merasa memiliki kesadaran yang lumayan penuh, Arash pun kembali membuka mata dan memastikan apa yang dia lihat saat benar atau salah.


Detik selanjutnya, Arash membulatkan matanya di saat melihat jika apa yang dia lihat adalah benar. Di mana terlihat jika Zia menggunakan lengannya sebagai bantal. Bahkan jarak di antara mereka berdua pun terbilang cukup dekat.


Bagaimana tidak dekat? Sedangkan Zia berada di dalam pelukan Arash.


Arash memandang wajah Zia yang terlihat sangat tenang dalam tidurnya. Pria itu pun mengulurkan tangannya untuk menyingkirkan beberapa helai rambut yang menutup sebagian wajah Zia.


Tanpa sadar, Arash tersenyum kecil, di saat melihat jika wajah Zia terlihat sangat menggemaskan. Pria itu pun mengusap pipi Zia yang terasa sangat lembut sekali.


"Apa yang kamu lakukan, Rash?" tanya Arash yang tiba-tiba tersadar dengan apa yang baru saja dia lakukan.


Arash pun menarik kembali tangannya menjauh dari pipi Zia. Memaki pelan dirinya di dalam hati, atas apa yang baru saja dia perbuat.

__ADS_1


Arash menahan napasnya, agar tidak berhembus ke wajah Zia. Pria itu pun bergerak secara perlahan untuk menyingkirkan tangannya dari kepala gadis itu. Dengan sangat hati-hati dan menahan napasnya, Arash akhirnya berhasil melepaskan tangannya dari kepala Zia.


"Huufff …" Arash menghela napasnya lega di saat tangannya telah terlepas dari kepala Zia, akan tetapi detik selanjutnya pria itu segera menutup mulutnya rapat-rapat, di saat Zia bergumam dan membalikkan tubuhnya.


"Huff, hampir saja," gumam Arash sangat pelan sekali.


Arash pun turun dari tempat tidur dengan gerakan yang sangat pelan, agar Zia tidak terbangun dan terganggu dengan pergerakan yang dia lakukan.


Arash bahkan sampai berjalan dengan berjinjit, agar tidak mengeluarkan suara derap langkahnya di lantai. Hal itu Arash lakukan agar tidak membuat Zia terbangun.


"Ma– Mama?" Arash menelan ludahnya dengan kasar, seolah baru saja ketahuan mengendap-endap seperti maling.


"Zia masih tidur?" tanya Mama Nayna lagi yang di jawab anggukan oleh Arash.


"A-arash ke kamar dulu ya, Ma," pamit Arash dan bergegas berlari menuju kamarnya.

__ADS_1


Mama Nayna mengulum bibirnya, merasa lucu dengan tingkah menantunya itu.


"Hmm, apa masih ada kemungkina untuk kamu membuka hati, Rash?" tanya Mama Nayna dalam hati sambil memandang ke arah pintu kamar Arash yang sudah tertutup rapat.


*


Zia merenggangkan tubuhnya, gadis itu pun membuka matanya secara perlahan.


"Perasaan aku tertidur di kursi?" gumamnya. "Apa Mas Arash yang menggendong aku ke kamar?"


Zia menghela napasnya pelan, gadis itu pun menoleh ke arah sampingnya untuk melihat keberadaan anak-anaknya.


"Yumna dan Rayyan mana? Apa mereka sudah bangun?" Zia pun mendudukkan tubuhnya, gadis itu melirik ke arah jam yang ada di dinding.


"Ah, wajar aja sih gak ada. Sudah jam setengah sembilan ternyata, pasti mereka sudah terbangun." Zia pun menurunkan kakinya secara perlahan dari tempat tidur, kemudian dia mengambil tongkat miliknya dan berjalan menuju kamar mandi untuk membasuh wajah.

__ADS_1


"Sstt … leher aku kok rasanya keran, ya? Apa salah tidur?" gumam Zia pelan di saat merasa jika lehernya terasa sedikit sakit saat di gerakkan.


__ADS_2