Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 337


__ADS_3

Abash mengambil nampan berisi nasi dan lauk pauk yang diberikan oleh Quin. Pria itu pun melangkahkan kakinya menuju kamar sang mama. Quin mengikuti Arash di belakang pria itu, takut jika Arash membutuhkan bantuannya untuk membuka pintu kamar, karena kedua tangan Arash sudah memegang nampan berukuran bulat yang lumayan besar.


Benar saja, pintu kamar Mama Kesya tertutup dengan rapat. Quin bergegas membuka pintu kamar itu secara perlahan dan membiarkan Arash masuk.


"Makasih, Mbak," bisik Arash yang di angguki oleh Quin.


"Tunggum" tahan Quin dengan berbisik. Wanita itu pun mengusap pipi Arash yang basah, merapikan pakaian Arash dan rambutnya, setelah penampilan Arash cukup rapi, Quin pun membiarkan Arash masuk sendiria.


"Masuklah, bujuk mama, Rash," lirih Quin pelan sambil mengusap pipi Arash.


"Iya, Mbak."


Arash pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar Mama Kesya dan Papa Arka, pria itu pun menghampiri sang mama yang terlihat sedang berbaring di tempat tidur dan masih menggunakan pakaian yang rapi. Pakaian yang rapi dalam artian belum mengganti pakaian yang di kenakan tadi dengan baju tidur.


"Ma," panggil  Arash yang sudah meletakkan nampan tersebut ke atas meja.


Mama Kesya menoleh, di saat mendengar suara putra kesayangannya itu.


"Arash?" lirih Mama Kesya dengan mata yang sembab.


Arash tak mampu lagi menahan air matanya. Pria itu pun langsung berlari dan berlutut di kaki Mama Kesya. Arash mencium kaki Mama Kesya dan meminta maaf kepada wanita paruh baya itu.


"Maafin Arash, Ma, maafin Arash," lirih Arash dengan suaranya yang parau.


Mama Kesya mengusap kepala sang putra, wanita paruh baya itu pun menuntuk Arash untuk duduk di sebelahnya.


"Mama sudah memaafkan kamu, Rash, sebelum kamu meminta maaf. Mama hanya merasa kecewa, saat kamu tidak menepati janji-janji kamu, Rash," ujar Mama Kesya sambil menangkup pipi Arash.


"Arash janji, Arash gak akan membuat Mama merasa kecewa lagi. Dan Arash mulai hari ini akan kembali tinggal di sini, bersama Mama dan Papa." Arash menggenggam tangan Mama Kesya yang ada di wajahnya, kemudian pria itu mengambil tangan mama Kesya dan mengecupnya.


Mama kesya pun menarik Arash ke dalam pelukannya, wanita paruh baya itu berharap, jika Arash bisa menepati janjinya dan kembali menjadi Arash yang dulu. Arash yang ramah, periang, dan selalu membuat orang-orang yang ada di sekitarnya merasakan keceriaan.


*


"Gimana di sana? Nyaman?" tanya Abash yang sedang berbicara dengan Sifa melalui panggilan video.


"Bukan nyaman lagi, Mas. Tapi sangat nyaman," kekeh Sifa.


Ya, bagaimana tidak Sifa merasa sangat nyaman. Sedangkan Abash sudah memberikan fasilitas yang terbaik dan paling baik untuk calon istrinya itu. Bahkan, Arash juga menyediakan supir pribadi untuk Sifa. Akan tetapi, wanita itu menolaknya, karena tidak ingin terlihat menonjol di depan mahasiswa yang lain. Ya, tau sendiri, kan. Jika sudah membawa mobil dan di supiri, itu artinya orang tersebut bukan dari kalangan biasanya. Sedangkan Sifa?

__ADS_1


Sifa tidak ingin menghilangkan jati dirinya sebagai gadis dari kalangan bawah. Di mana dia memang sudah terbiasa berjalan kaki dan juga menggunakan angkutan umum. Lagi pula, status Sifa adalah sebagai mahasisa yang mendapatkan sebuah beasiswa, kan?


Dan ya, Abashmemang sengaja mencari apartemen yang tidak terlalu jauh dari kampus, karena mengingat Sifa yang ingin hidup sebagai mahasiswa biasa pada umumnya. Berjalan kaki ataupun menggunakan kendaraan umum dan menggunakan kartu mahasiswanya untuk mendapatkan biaya khusus.


"Oh ya, minggu depan aku akan ambil cuti tiga hari. Aku akan ke London untuk bertemu kamu," ujar Abash yang mana membuat Sifa membulatkan matanya.


"Mas sengaja mengambil cuti? Hanya untuk ke sini?"


"Iya, aku rindu banget sama kamu, Sifa ...' lirih Abash dengan manja.


"Emangnya Mama kasih izin Mas ke sini?" tanya Sifa.


Ya, Mama Kesya memang melarang Abash untuk sering mengunjungi Sifa. Hal itu bertujuan untuk menghindari fitnah dan zina, begitu juga demi kebaikan Sifa, agar gadis itu bisa fokus belajar. Jika ada Abash di sana, maka bisa di pastikan kegiatan belajar Sifa pasti akan terganggu, karena Abash yang tidak ingin berpisah dan hanya ingin menghabiskan waktunya bersama calon istrinya itu.


"Jangan bilang-bilang mama, ntar gak di kasih," bisik Abash.


Sifa pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Gadis itu sebenarnya juga merindukan Abash, tapi mau bagaimana lagi? Ini adalah mimpi dan impiannya. Usahanya sudah sampai sejauh ini, jadi Sifa harus bertahan dan tetap berjuang.


"Aku juga rindu kamu, Mas."


Saat Sifa mengatakan kalimat tersebut, rasanya Abash saat itu juga ingin terbang untuk menemui calon istrinya itu.


Abash sedang berbicara dengan petugas bandara, di mana pria itu saat ini sedang melakukan chek in.


"Mau ke man kamu?" tanya suara wanita paruh baya yang terdengar merdu, tetapi sangat mengintimidasi.


Abash berbalik, pria itu pun tersenyum kikuk saat melihat sang  mama berada di belakangnya.


"Mama?"


Mama  Kesya pun mengambil tiket dan paspor Abash yang ada di tangan petugas chek in, wanita paruh baya itu pun tersenyum miring dan langsung meng-cancel tiket yang sudah Abash beli. Walaupun tidak bisa mengembalikan sepenuh uang yang telah di bayarkan, tetapi lumayanlah, bisa dapat setengahnya saja.


Lumayan kan duitnya. bisa beli es krim di London.


"Maaa ..." lirih Abash dengan lesu.


"Nanti biar Mama sampaikan salam rindu kamu kepada Sifa," ujar Mama Kesya dan memberikan tiket serta paspornya kepada petugas.


"Maaa....." rengek Abash yang sudah merangkul lengan Mama Kesya.

__ADS_1


"Kamu sudah janji kan sama Mama, untuk tidak menemui Sifa?"


"Tapi kan sekarang ada Mama, kenapa harus di cancel, sih? Kan Abash bisa temeni Mama," rengek Abash lagi.


"Gak perlu, Mama sudah punya teman yang akan melindungi Mama," tolakk Mama Kesya  dan menunjuk ke arah pria yang menggunakan kacamata dan berjalan ke arah mereka.


"Mama pergi sama Arash?" tanya Abash.


"HMm,"


"Ma, Abash ikuuut," rengek Abash.


"Gak boleh. Kalau kamu ikut, yang ada kamu ntar ganggu Sifa."


"Memangnya kedatangan Mama ke sana, gak ganggu Sifa?" tanya Abash.


"Ya gak, lah. Mama kan nginap di hotel sama Arash. Lagian, Mama di sana mau belanja, bukan mau bertemu Sifa. Ya, walaupun nantinya bakal mengunjungi Sifa," ujar Mama Kesya sambil tersenyum penuh kemenanga.


"Abash ikut, ya? Abash pesan lagi tiketnya ini," ujar Abash yang sudah siap untuk kembali membeli tiket.


"Awas aja kalau berani beli tiket. Gak Mama kasih restu baru tau," kesal  Mama Kesya.


"Ya jangan dong, Ma."


"Makanya, dengar kalo Mama  ngomong."


Abash pun terpaksa menganggukkan kepalanya. Pria itu pun harus menerima keputusan sang ratu yang ada di dalam rumahnya itu.


"Salam buat Sifa, Ma. Tolong bilangin, kalau Abash  rindu berat," ujar Abash saat mengantarkan Mama Kesya dan Arash ke ruang tunggu.


"Oke."


Arash mengedipkan matanya sebelah kepada Abash, sehingga membuat pria itu merasa kesal. Setelah Mama Kesya dan Arash masuk ke dalam ruang tunggu, Abash pun terpaksa berbalik dan keluar dari bandara. Padahal, kepergiannya dengan menaiki pesawat umum secara diam-diam, agar tidak diketahui oleh Mama Kesya. Tapi nyatanya...


"Huuf, untung Mama pasang mata-mata buat awasin Abash," kekeh Mama Kesya.


"Iya, Ma."


Arash yang sebenarnya sedang bertugas pun, terpaksa mengambil izin dadakan, demi menemani sang mama ke London untuk memeriksa keadaan Sifa dan menggagalkan kepergian Abash.

__ADS_1


Ya, Arash sudah berjanji, untuk membuat Mama Kesya bahagia dan menuruti semua perkataan wanita yang pernah melahirkannya ke dunia itu.


__ADS_2