Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 181 - Foto Lagi


__ADS_3

"Terima kasih, Mas," ujar Sifa saat Arash mengantarkannya pulang ke apartemen.


"Sama-sama, ini sepeda kamu." Arash pun memberikan sepeda Sifa yang baru saja dia turunkan dari atap mobilnya.


"Terima kasih sekali lagi, Mas," ujar Sifa sambil mengambil alih sepedanya.


"Iya, ya sudah kalau begitu, kamu masuk terus ke dalam. Di luar dingin," titah Arash.


"Iya, Mas. Kalau begitu saya masuk dulu, sekali lagi terima kasih banyak. Mas hati-hati ya pulangnya." Sifa pun melambaikan tangannya kepada Arash, kemudian dia berbalik dan masuk ke basemen untuk menyimpan sepedanya.


"Hmm, saat waktunya tiba, aku akan menyatakan perasaan aku ke kamu, Sifa," lirih Abash sambil menatap punggung Sifa yang semakin menjauh.


Arash pun kembali masuk ke dalam mobil dan melajukannya dengan kecepatan sedang membelah jalanan yang mulai terlihat sepi dari kendaraan. Malam ini, akan menjadi malam ternyenyak untuknya tidur, karena dia baru saja menghabiskan waktu bersama gadis yang sudah menggetarkan hati dan perasaannya.


"Ah, Sifa," lirihnya dengan tersenyum lebar.


*


Putri sudah mengatakan kepada Mama Nayna dan Papa Satria, jika dirinya harus kembali esok pagi ke Jakarta.


"Gak, kak Putri gak boleh pulang dulu," rengek Zia yang tak ingin berpisah dengan sang kakak.


"Zia, Kakak harus kerja, sayang. Kakak gak boleh sering-sering bolos," ujar Putri mencoba memberikan pengertian kepada sang adik.


"Tapi, Zia masih kangen dengan kakak," rengek gadis belia itu. "Lagian, kenapa Kakak harus pindah ke Jakarta, sih?"


"Nanti, saat liburan kakak kembali lagi, ya," ujar Putri mencoba menenangkan sang adik.


"Janji?"


"Iya, janji." Putri pun mengaitkan jari kelingkingnya ke jari kelingking sang adik.


"Mas Bara kapan pulang, Ma?" tanya Zia kepada sang mama.


"Mas Bara baru bisa kembali lusa, sayang," ujar Mama Nayna kepada sang putri.


"Mas Bara udah tau aku kecelakaan kenapa gak balik sih?" kesal Zia dengan manja.


Ya, gadis itu sangat di manja sekali dengan Putri dan Bara, karena dia adalah adik paling kecil di antara mereka bedua.


"Huss, kamu ini. Mas Bara 'kan harus kuliah, sayang," tegur Putri kepada sang adik.


Ya, walaupun Bara sudah menjabat sebagai CEO di perusahaannya, tetapi pria itu masih harus melanjutkan sekolahnya untuk ke jenjang yang lebih tinggi.


Bisa di katakan, Jika Bara lebih di tuntut menjadi seorang pemimpin perusahaan oleh Opa Dimas. Sejak saat berumur 16 tahun, Bara yang masih duduk di bangku sekolah menengah awal itu pun sudah di persiapkan untuk menjabat sebagai pemimpin perusahaan, di mana pria itu sudah terjun ke dunia bisnis dan bertemu dengan klien untuk menangani proyek yang harus dia menangkan.

__ADS_1


Terlalu sibuk sejak umur yang belia di bidang bisnis, membuat pria itu kehilangan masa remajanya yang indah. Tapi itu bukanlah sebuah masalah bagi Bara, karena kebahagiaan sang kakak dan keluarganya adalah yang utama untuknya. Untuk itu, Bara melepaskan masa remajanya dan berkorban menggantikan Putri menjadi pemimpin perusahaan di saat umurnya masih delapan belas tahun. Maka dari itu, saat ini Bara sedang menyelesaikan S2 di london.


"Kalau Kak Putri besok pulang, berarti malam ini kakak harus menginap di sini, ya," pinta Zia.


"Iya, kakak akan menginap di sini," ujar Putri menuruti keinginan sang adik.


Karena Putri menginap di rumah sakit, membuat Abash pun terpaksa harus menginap juga di rumah sakit.


"Anda pulang saja, saya tidak apa-apa," ujar Putri yang menolak keberadaan Abash di rumah sakit.


Dia tidak ingin jika sang mama dan papa akan berpikiran, jika dirinya memiliki hubungan yang spesial dengan pria tu.


Ingat, harus ada hati yang di jaga di Jakarta sana. Ya, walaupun sebenarnya Sifa juga tidak akan tahu apa yang mereka lakukan di sini.


"Tidak, saya akan tetapi menginap di sini," ujar Abash tanpa tergoyahkan sedikit pun dengan penolakan Putri.


"Tapi, Pak, di rumah sakit ini hanya boleh dua orang saja yang menunggui. Tidak mungkin juga kan kita menginap di ruangan ini bersama?" ketus Putri.


"Saya akan bermalam di dalam mobil," putus Abash dan berbalik meninggalkan Putri.


"Uugghh ... Dasar keras kepala," kesal Putri dan membiarkan Abash untuk menginap di mana pun pria itu mau.


Putri sudah ingin menutup matanya, tetapi dia masih kepikiran dengan Abash yang akan menginap di dalam mobil.


Gadis itu pun bangkit dari tidurnya, kemudian mengambil sebuah selimut dan membawanya ke parkiran.


Putri mengetuk kaca jendela mobil Abash, sehingga pria itu pun menurunkan kaca jendelanya.


"Ya?" tanya Abash yang terlihat baru saja terbangun dari tidurnya.


"Ini, ambilah," ujar Putri sambil menyodorkan selimut kepada Abash.


"Oh, baiklah kalau begitu. Terima kasih banyak," ujar Abash sambil mengambil selimut yang di berikan oleh Putri.


"Sama-sama," jawab Putri dan kembali masuk ke dalam kamar inap sang adik.


*


Sifa baru saja masuk ke dalam apartemennya, gadis itu pun meraih ponselnya yang berbunyi.


Dia mengernyitkan kembali keningnya di saat melihat nomor asing kembali masuk ke dalam ponselnya. Tiba-tiba saja gadis itu merasa jantungnya berdebar dengan cepat, sehingga membuat tangannya gemetar untuk membuka pesan singkat tersebut.


"A-apa lagi ini?" gugupnya dengan takut dan perlahan membuka pesan singkat tersebut.


Betapa terkejutnya Sifa, di saat melihat foto sang kekasih di dalam mobil sedang mengulurkan tangannya ke leher Putri, kemudian kepala pria itu menutupi wajah gadis itu. Terlihat seakan jika Abash tengah mencium Putri.

__ADS_1


"A-apa mereka berciuman?" tanya Sifa dengan air mata yang mengalir deras di pipinya.


"Hiks, Mas Abash. Apa kamu baru menyadari, jika kamu sebenarnya tidak mencintai aku?" tanya Sifa kepada foto Abash.


Sifa kembali teringat akan perkataan Quin saat di dapur, jika pria itu pernah mengatakan jika dia ingin memiliki istri yang sangat pintar membuat kue sus. Dan juga, Putri adalah perempuan yang sepertinya masuk ke dalam kriteria pria itu.


"A-apa mungkin Mas Abash akan berpaling dari aku? Hisks .. Jika, iya. Aku harus apa? Dia telah menjanjikan kehidupan yang bahagia bersama. Tapi, kenapa di saat aku bersedia mengungkapkan hubungan kami? Mas Abash seolah menunjukkan perasaannya yang sebenarnya?" tangis Sifa yang sudah terduduk di lantai.


"Hiks, Mas Abash. Apa yang harus aku lakukan jika kehilangan kamu?"


*


Sifa terbangun dan menyadari jika dirinya tertidur di lantai. Di mana dirinya menangis semalaman karena sang kekasih.


"Akkh ..." Sifa meringis di saat kepalanya terasa pusing. Mungkin dia menangis terlalu lama, sehingga membuatnya sedikit merasa pusing saat ini.


"Sifa, kamu harus kuat," lirihnya dan mencoba menata kembali perasaannya untuk melupakan sang kekasih.


Sifa baru saja keluar dari apartemen, gadis itu mengernyitkan keningnya di saat melihat sang sahabat sudah berada di lobi.


"Amel?" lirihnya.


"Hai, Sifa. Aku sengaja jemput kamu ke sini, biar kita pergi kerja bareng," ujar Amel dengan tersenyum lebar.


Sifa tersenyum, sebenarnya dia saat ini sedang tidak ingin bertemu dengan siapa pun, karena matanya yang terlihat sembab. Tapi, mau tak mau Sifa harus pergi berkerja, kan?


"Mata kamu kenapa, sifa?" tanya Amel dengan perasaan iba.


"Hah? Oh, gak papa. Semalam aku cari angin malam, tetapi malah kemasukan binatang," bohong Sifa yang mana membuat Amel sedikit merasa kecewa.


Gadis itu sengaja pergi menjemput Sifa, karena dia ingin melihat wajah sedih dari sahabatnya itu. Ya, walaupun keinginan Amel itu terwujud, tetapi dia tetap merasa kecewa karena Sifa tidak mengatakan hal yang sejujurnya.


"Sudah di kasih obat?" tanya Amel penuh perhatian.


Sifa hanya menggelengkan kepalanya pelan.


"Ayo, masuk ke mobil. Kita beli obat mata untuk kamu ya, baru kita pergi ke kantor," ujar Amel sambil menarik tangan sang sahabat.


Sifa menganggukkan kepalanya, kemudian dia melirik ke arah ojek yang bertugas untuk mengantarkannya ke kantor dan pulang kembali ke rumah.


"Tunggu sebentar." Sifa menghentikan langkahnya, dia mengeluarkan ponsel dan mengirimkan pesan kepada mbak ojek jika dirinya akan pergi ke kantor bersama sahabatnya.


Pesan yang Sifa kirimkan ke mbak ojek pun, juga sampai ke pada Abash.


"Sifa pergi bersama Amel? Bagaimana bisa?" lirih Abash dengan kening mengkerut di saat membaca pesan yang dikirmkan oleh orang kepercayaannya itu yang di buktikan dengan sebuah foto.

__ADS_1


__ADS_2