
"Kenapa diem? sariawan mendadak?" tanya Abash karena belum mendengar jawaban Sifa.
Sifa menghela napasnya pelan. "Administrasi buka sampai jam 3, pengurusan surat izin cuma diterima pagi. Kalo udah siang, mereka males buat nya. Sama aja, saya buat saat itu, tapi disuruh balik besok paginya. Lagian, saya harus siapkan berkas pendukungnya untuk membuat surat izinnya," jelas Sifa dengan tersenyum paksa.
"Oh"
Sifa benar-benar kesal, panjang lebar ia menjelaskan namun Abash hanya merespon n
dengan kata 'Oh'.
'Dasar bos aneh," batin Sifa.
Abash mulai melajukan kembali mobilnya menuju kejalan tikus belokan buntu. Yang mana disanalh terdapat rumah Sifa.
Abash baru tahu, diantara toko-toko itu, terdapat rumah dibelakangnya. Entah kenapa Abash merasa penasaran dengan rumah Sifa.
Abash memarkirkan mobilnya dipinggir toko, kemudian ia keluar dari mobil dengan disusul oleh Sifa.
Sifa ingin menurunkan sepedanya, namun karena mobil Abash tinggi, sehingga membuat Sifa tak mampu meraih sepedanya.
"Sepeda nya saya yang bawa kebengkel aja," ujar Abash saat sudah berada di samping Sofa.
"Eh, gak usah Pak. Biar besok saya aja yang bawa."
"Gak papa, itung-itung balas Budi saya, karena kamu telah mengurut pinggang saya,"
Sifa pun akhirnya menganggukkan kepalanya.
"Kalau begitu, terima kasih banyak, Pak, atas bantuannya," ujar Sifa sambil membungkukkan sedikit badannya.
"Ya sudah kalau begitu, sepertinya mau hujan, saya balik dulu."
"Hati-hati, Pak, Terima kasih sekali lagi atas bantuannya."
Abash mengangkat tangannya sekilas untuk menjawab ucapan Sifa. Sifa masih berdiri disana hingga mobil Abash pun berlalu menjauhinya, barulah Sifa berjalan memasuki gang sempit dan buntu tersebut.
*
"Sepeda siapa?" tanya Shaka, saat Abash baru saja turun dari mobil.
Shaka dan Abash hanya berselang beberapa menit saja sampai dirumah.
"Temen," jawab Abash santai.
"Cewek?" tanya Shaka dengan alis yang terangkat sebelah.
"Kamu dari mana? kenapa pulang larut malam?" bukannya menjawab pertanyaan Shaka, Abash malah balik melemparkan pertanyaan.
__ADS_1
"Baru pulang futsal." jawab Shaka sambil menunjukkan sepatunya.
"Liburin dulu futsalnya, fokus kepelajaran aja. Sebentar lagi ujian kan?"
"Iya, tinggal dua kali main lagi, makanya Aku ikut."
Shaka dan Abash pun masuk kedalam rumah berbarengan. Abash langsung menuju kamarnya, sedangkan Shaka masih menyapa Empus yang belum dimasukkan kedalam kandang oleh Quin, Mungkin Quin belum pulang.
Abash membersihkan dirinya, saat ia menutup mata dan merasakan air yang membasahi tubuhnya, tiba-tiba saja bayangan wajah Sifa yang jaraknya sangat dekat dengan dirinya kembali terniang.
Abash mengernyit dan membuka matanya, satu tangannya pun mulai naik untuk memegang jantungnya yang tiba-tiba saja berdetak dengan cepat.
'Ada apa ini?' batinnya.
Abash menggelengkan kepalanya untuk mengusir fikiran anehnya. Dengan gerakan cepat, Abash menyambar botol shampo dan menuangkannya keatas kepalanya. Sepertinya Abash harus membersihkan kepalanya.
*
Sifa tak bisa tidur, sedari tadi jantungnya terus berdetak cepat. Bahkan saat Abash tak lagi bersamanya pun, Sifa tetap tak merasakan debaran jantungnya.
Debaran ini terjadi saat dirinya tanpa sengaja menubruk tubuh Abash. Pengendalian diri Sifa cukup baik, maka dari itu ia dapat mengontrol dirinya dengan berhadapan dengan orang.
Mungkin pengalaman hiduplah yang membuat Sifa bisa mengendalikan dirinya dalam situasi apapun.
Sifa memegang dadanya, ia tak tahu kenapa jantungnya masih berdetak dengan cepat, padahal saat ini tak ada alasan yang akan membuat jantungnya harus bekerja dua kali lipat.
'Hei Sifa, sadar dirilah. Jangan berharap hidupmu bagaikan di novel-novel romance,' batin Sifa.
Sepertinya Sifa harus menjaga jarak dengan Abash. Selama ini tak ada pria yang bisa membuat jantungnya berdebar-debar seperti ini.
*
Arash yang baru saja pulang, mengernyit saat melihat ada sepeda di kabin belakang mobil Abash. Karena rasa penasarannya, Arash pun memeriksa sepeda tersebut.
"Kayak kenal, dimana ya?" batinnya.
Kemudian ingatannya dengan cepat tertuju kepada gadis si pemilik jalan tikus gang buntu.
"Ini bukannya sepeda gadis t*ror*s itu ya?" gumam Arash.
Karena sangat penasaran, Arash pun masuk kedalam rumah dan langsung menuju kamar Abash.
Tak perlu mengetuk pintu kamar, Arash langsung masuk dan mendapati Abash yang baru saja selesai memakai pakaian segitiganya.
Karena terkejut dengan kehadiran orang yang masuk kedalam walk in closet nya, Abash pun hampir terjatuh. Untungnya ia cepat berpegangan kemeja penyimpanan pakaian Boxer dan segitiga nya.
"Apaan sih, ngagetin aja." Abash menatap Arash dengan kesal.
__ADS_1
"Itu sepeda cewek cleaning servis di kantor Lo, kan?" tanya Arash langsung.
"Hmm, kenapa?"
"Kok bisa sama Lo? bikin Masalah lagi dia?" tanya Arash dengan nada tak suka.
Pasalnya, saat Arash ke kantor lagi ini, Arash sudah dicecar dengan pertanyaan tentang kehadiran sang kembaran yang membawa seorang cewek dan juga dua penjahat.
"Ban sepedanya kempes, ya udah gue tolong aja. Lagian rumahnya gak terlalu jauh dari kantor." jawab Abash sambil memakai deodorant nya.
"Baik banget Lo? atau jangan-jangan Lo naksir ya dengan dia?" goda Arash sambil menaik turunkan alisnya.
"Lo merasa bersalah gak? jika ada orang yang Lo kenal? terus Lo abai saja gitu saat dia lagi kesusahan?" tanya Abash.
"Ooh, jadi ceritanya ada yang simpati nih,"
Abash langsung menatap tajam Arash. "Gue bukannya simpati, tapi kalo semisalnya besok gue dapat kabar buruk tentang tu cewek, padahal Gue tau dia sedang kesusahan, maka gue juga ikut andil berdosa." jelas Abash.
Arash pun menganggukkan kepalanya, kemudian ia berjalan kearah Abash yang masih sibuk mengenakan celana pendeknya.
Plookk ...
Arash memukul bokong Abash dengan kuat sehingga menimbulkan bunyi nyaring, dan itu jelas saja membuat Abash berbalik dan menatap Arash dengan tajam.
"Gak nyangka si dingin ini ternyata bisa berbuat baik," ujar Arash dan sambil tersenyum jahil.
Abash mnggerutu kesal dan kembali memakai celananya.
Ploookk ....
Lagi, Arash memukul bokong Abash, kemudian ia langsung berlari karena sudah bisa menebak jika Abash akan mengejarnya.
"Tunggu Pembalasan Gue," pekik Abash sehingga membuat Empus mengaum mendengar suara Abash yang menggema.
Arash tertawa terbahak-bahak sambil berlari menuju kamarnya yang bersebelahan dengan kamar Abash. Bisa dipastikan, jika Abash akan membalas Arash keesokan paginya. Arash pun sudah mempersiapkan pertahanan dirinya agar tak mudah tumbang disaat musuh melawannya.
*
Abash benar-benar kesal dengan Arash. Ia mengelus bokongnya yang terasa perih karena pukulan Arash. Jika saja ia sudah memakai pakaian, bisa di pastikan jika Abash akan mengejar Arash hingga kekamarnya.
Beruntung Arash karena Abash masih menggunakan sem to the pak merk buaya, dan memamerkan tubuh atletisnya yang aduhai dan menggoda iman dan jiwa.
Abash akan fikirkan, pembalasan apa yang akan ia berikan kepada sang kembaran.
\=\= Jangan lupa Vote, Like, and komen ya ..
Salam sayang dari ABASH dan ARASH.
__ADS_1