Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 421


__ADS_3

"Rash," tegur Putri.


Arash menoleh ke arah sang istri, pria itu tersenyum dan menepuk tempat yang ada di sebelahnya.


"Sini," panggil Arash sambil mengulurkan tangannya menyambut Putri yang semakin dekat dengannya.


Putri meraih tangan Arash, wanita hamil itu pun duduk di samping suami tercintanya.


"Kamu lagi mikirin apa? Kok beberapa hari ini aku perhatiin, kamu sering melamun?" tanya Putri merasa penasaran.


"Oh, gak ada mikirin apa-apa, kok. Hanya pekerjaan kantor saja," bohong Arash sambil tersenyum kecil agar sang istri tidak mencurigainya.


"Benarkah? Kamu gak bohong kan?" tanya Putri lagi sambil menelisik ekspresi wajah sang suami.


"Enggak kok."


"Baiklah, jika kamu mau bercerita, aku siap kok mendengarkannya."


Arash menggeleng pelan, pria itu menarik tubuh sang istri ke dalam pelukannya.


"Maaf, bukannya aku tidak mau cerita sama kamu, sayang. Aku hanya tidak ingin membebani kamu saja." Arash mengusap rambut Putri dengan lembut.


"Aku tau. Tapi, tetap saja kamu harus memiliki teman untuk berbagi, Rash. Jika kamu tidak ingin bercerita dengan aku, maka kamu bisa bercerita dengan Abash," ujar Putri sambil mendongakkan kepalanya menatap ke arah sang suami.


"Mungkin dengan bercerita kepada Abash, beban pikiran kamu akan sedikit berkurang," sambung Putri lagi.


"Baiklah, jika aku tidak sanggup memikirkannya sendiri, maka aku akan berbagi dengan Abash." Arash pun mengusap rambut Putri dengan lembut.


"Maaf ya, semenjak kamu hamil, aku tidak bisa bercerita banyak dengan kamu," ujar Arash dengan suara yang lirih. "Aku tidak mau kamu kepikiran dengan masalah yang sedang aku hadapi, apa lagi saat ini kamu sedang mengandung buah cinta kita," sambungnya lagi.


"Iya, aku mengerti kok."

__ADS_1


"Terima kasih, sayang." Arash pun mendaratkan sebuah kecupan di kening Putri.


"Oh ya, Rash, besok Zia sudah bisa pulang dari rumah sakit. Kamu ada waktu senggang, gak?" tanya Putri kepada sang suami.


"Kamu ingin ikut mengantar kepulangan Zia?" tebak Arash yang di angguki oleh Putri.


"Iya, Rash. Aku ingin berada di sisi Zia, aku ingin mengganti semua waktuku yang hilang bersamanya," ujar Putri mengungkapkan apa yang sedang dia rasakan.


"Baiklah, aku akan meluangkan waktuku besok."


"Terima kasih, sayang. Terima kasih banyak!" seru Putri bahagia sambil memeluk tubuh sang suami.


"Sama-sama, sayang. Aku akan melakukan apa pun untuk membuat kamu merasa bahagia."


*


Zia memandang sapu tangan dengan ukiran unik di sudut sisinya. Lima bulan lalu, Zia yang sedang mencari kenang-kenangan pada zaman sekolah biru putih pun, untuk di bawa ke acara reunian, tak sengaja menemukan sapu tangan berwarna abu-abu tersebut.


Kenangan tentang pria bermasker dengan tatapan mata yang lembut dan teduh pun, terus muncul dalam benaknya. Zia merasa heran, kenapa pria yang memiliki sapu tangan tersebut selalu hadir di dalam mimpinya setiap malam. Hingga akhirnya, Zia memutuskan untuk mencari tahu siapa pemilik sapu tangan tersebut.


"Kenapa juga aku harus memikirkannya, mungkin saja pria itu sudah menikah," lirih Zia dan meletakkan sapu tangan tersebut di atas nakas.


Zia pun memilih untuk merebahkan tubuhnya di atas brankar, mengistirahatkan tubuh dan pikirannya yang terasa sedikit lelah.


*


Pagi menyapa, Zia terbangun di saat sang mama sedang menyiapkan sarapan untuk papa Satria.


"Eh, kamu sudah bangun, sayang?" tanya Mama Nayna dan menghampiri sang putri.


"Iya, Ma."

__ADS_1


Mama Nayna pun membantu Zia untuk turun dari tempat tidur.


"Mau ke kamar mandi?" tebak Mama Nayna yang di angguki oleh Zia.


"Iya, Ma."


Mama Nayna pun membantu sang putri untuk berjalan menuju ke kamar mandi.


Setelah Zia selesai membersihkan diri, Mama Nayna pun kembali menuntun sang putri untuk kembali menuju brankarnya.


"Sarapan dulu, ya!" titah Mama Nayna yang diangguki oleh Zia.


Tak berapa lama, Putri dan Arash pun datang. Mereka membawa bubur untuk di makan bersama di rumah sakit.


"Loh, Mama udah beli bubur ya?" kekeh Putri yang diangguki oleh Mama Nayna.


"Iya. Kalian beli lebih?"


"Huum, kirian Mama belum beli."


"Gak papa, nanti bisa kasih ke suster yang sedang berjaga aja."


Putri dan Arash pun ikut menikmati sarapan mereka bersama mama Nayna, papa Satria, dan Zia di rumah sakit. Setelah makan, Mama Nayna pun membersihkan meja dan membuang steroform yang mereka gunakan untuk memakan bubur.


"Rash, tolong ambilin buah yang ada di atas meja nakas, dong," pinta Putri kepada sang suami.


"Iya."


Arash pun bangkit dari duduknya, dia pun berjalan menuju meja nakas di samping brankar Zia. Pria itu sempat melirik ke arah adik ipar yang sedang terlihat sibuk menggambar sketsa sebuah perhiasan.


"Sapu tangan itu?" batin Arash, saat melihat sapu tangan yang ada di atas meja nakas.

__ADS_1


Perlahan, pria itu mengambil sapu tangan tersebut dan mengantonginya.


"Aku akan membuang sapu tangan ini."


__ADS_2