Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 48 - Maaf


__ADS_3

"Aaaaaa...."


Abash, Arash, Mama Kesya, Papa Arka, Bunda Sasa, Opa Roy, Mami Shella dan Daddy Bara menoleh ke arah sumber suara.


Mata Abash membola saat Sifa berlari dengan kencang dan loncat ke arahnya, hingga posisi Sifa saat ini sudah seperti anak koala.


"Ha- hantu ... Pak, hantu ..." ujar Sifa dengan napas tersenggal dan menunjuk ke arah tempatnya tadi.


Sifa menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Abash. Pria itu terdiam membisu dengan menahan napasnya.


Tak berapa lama seorang perawat dengan mendorong kursi roda berjalan dengan cepat kearah merah.


"Maaf, tadi saya sedang bercanda dengan teman, lalu gak sengaja menyenggol kursi hingga berjalan ke tembak Nona," ujar perawat tersebut dengan gemetar.


Sifa yang mendengar pernyataan perawat tersebut langsung menahan napasnya.


Plok .. plok ...


"Kamu sudah dengar? Tidak ada hantu di rumah sakit ini," ujar Abash sambil menepuk bahu Sifa.


Sifa merenggangkan pelukannya dan memberanikan diri menatap ke arah bosnya itu.


Sreet ...


Sifa kembali di kejutkan dengan gerakan Abash yang melepaskan pegangan di tubuhnya. Gadis itu terkejut hingga reflek mengalungkan kembali tangannya leher Abash, sehingga membuat sang bos tertunduk dan ...


Cup ...


Sifa membolakan matanya saat bibirnya mendarat di pipi Abash. Begitu pun sebaliknya.


"Ma-maaf Pak," cicit Sifa dan langsung melepaskan kalungan tangannya dari leher Abash.


'Utung pipi,' batin Sifa dengan menundukkan wajahnya takut.


"Lain kali jangan ceroboh, saya gak mau hal ini terulang kembali," geram Abash tertahan.


"Ta-tapi kan gak sepenuhnya salah saya, Pak. Bapak juga sih, main turunin saya tanpa aba-aba," jawab Sifa sambil melirik takut ke arah sang bos.


"Kamu____"


"Udah, lagian Sifa gak sepenuhnya salah juga. Kamu sih yang ngagetin Sifa karena tiba-tiba menuruninya dari gendongan tanpa aba-aba," ujar Mama Kesya merelai perdebatan tersebut.


Abash hanya mendengus kesal dan melirik Sifa dengan kebencian. Dalam pikiran Abash, Sifa pasti sengaja untuk menggodanya.


Oke, malam di ruangannya mungkin tak sengaja akrena dirinya yang mengagetkan gadis itu. Tapi saat ini? Entahlah, Abash merasa jika Sifa sengaja mencium pipinya.


"Ya sudah, kamu temeni Sifa malam ini. Kasihan dia ketakutan sampai gemetar gitu," ujar Bunda Sasa yang sedari tadi juga ikut memperhatikan Sifa.

__ADS_1


"Tapi, Bun___"


"Bunda benar, kalau bukan Sifa yang menolong Mama, mungkin Mama saat ini juga ikut terluka," ujar Mama Kesya.


Abash menghela napasnya kasar, dia benar-benar tak ingin menemani Sifa karena moment barusan. Dengan terpaksa, Abash pun menuruti perintah ibu ratu.


*


"Kamu tidur Ajaz gak usah takut. Saya gak bakal tinggalin kamu," ujar Abash dengan nada jutek.


Sifa mengerucutkan bibirnya, dia sadar jika saat ini Abash pasti sedang marah dengan dirinya. Dalam diam, Sifa memperhatikan gerak gerik sang bos yang sedang membuka laptopnya.


"Bapak marah sama saya?" tanya Sifa yang sedari tadi tak bisa menahan dirinya untuk diam.


Tak ada jawaban dari Abash. Bahkan pria itu menganggap seolah tak mendengar suaranya.


"Pak," panggil Sifa lagi, tapi tetap sama, Abash masih diam tanpa repot-repot ingin menoleh ke arah Sifa.


Sifa menghela napasnya sedikit kasar. "Pak, Bapak dengar saya?"


Abash menutup laptopnya dengan sedikit keras. Pria itu menoleh ke arah gadis yang sedang menatap dirinya.


"Kamu bisa diem gak? Kalau kamu berisik, saya bakal tinggalin kamu sendirian di sini," geram Abash.


Sifa ciut, dia benar-benar takut dengan kemarahan sang bos. Gadis itu memilih diam dan membaringkan tubuhnya.


Sifa kembali mendengar sebuah pergerakan, perlahan dia menoleh ke arah sang bos. Entah berapa lama dia menatap wajah serius Abash yang terlihat guratan kemarahan di wajahnya. Tak seperti biasa, walaupun sedang serius, masih terlihat wajah tenang di garis wajah sang bos.


Sifa yakin, jika Abash mendengar suaranya. Bahkan, jika Sifa mengeluarkan kentut yang sangat pelan, gadis itu yakin jika sang bos juga akan mendengarnya.


"Maafkan saya, Pak. Saya benar-benar gak sengaja. Sekali lagi, Maafkan saya." ujar Sifa akan tetapi Abash masih tak meresponnya.


Sifa menghela napasnya pelan, gadis itu pun berbaring dan menutup tubuhnya dengan selimut. Tak lupa, Sifa membalikkan tubuhnya dan membelakangi Abash.


Ya, Sifa membelakangi Abash, karena tak ingin jika sang bos mengetahui saat ini dirinya tengah menangis.


Abash menghentikan pergerakan tangannya yang sedari tadi tengah menari-nari di atas keyboard. Pria itu menoleh ke arah gadis yang tengah berbaring dengan tubuh membelakangi dirinya.


'Aku gak tau apa yang kamu pikirkan. Awalnya aku lihat kamu berbeda dari gadis yang lain, tapi aku mulai ragu, apa kamu sama seperti mereka yang berpura-pura lugu dan mengambil keuntungan dari itu?' batin Abash.


Abash menghela napasnya lagi, kemudian pria itu melanjutkan pekerjaannya di layar hitam.


*


Jam sudah menunjukkan pukul 3 pagi, Sifa terbangun dan menoleh ke arah sang bos.


Sifa terkejut saat melihat Abash tertidur di atas kursi yang di susun bejajar. Bisakah dia tidur seperti itu? Bagaimana mungkin seorang Abash yang keturunan sultan bisa tidur seperti itu.

__ADS_1


Sifa melirik ke arah laptop yang masih menyala. Keningnya mengkerut saat melihat isi dari layar hitam itu. Yaa, Sifa tahu itu tentang apa. Gadis itu pun perlahan turun dari tempat tidur dan duduk di kursi yang telah di sediakan oleh perawat untuk Abash bekerja semalam.


Satu jam lebih telah berlalu, Abash sedikitpun tak terbangun oleh pergerakan Sifa. Padahal, Abash salah satu orang yang terbilang cukup peka dengan gerakan kecil sekalipun. Mungkin saat ini dia terlalu lelah karena sudah 2 hari tidak tidur malam.


"Selesai," lirih Sifa pelan bagaikan hembusan napas.


Gadis itu pun kembali ke atas tempat tidur dan melanjutkan tidur ya.


Abash terbangun dari tidurnya, pria itu bangkit dan merenggangkan otot-ototnya. Dia melirik ke arah jam tangannya yang menunjukkan pukul 6 pagi.


Abash bergegas kembali duduk di hadapan laptopnya, pria itu mengernyitkan keningnya saat melihat pekerjaannya telah selesai. Memang, semalam Abash hanya menyisakan. pekerjaannya sedikit lagi, karena matanya yang sudah tak bisa di ajak berkompromi. Abash pun memilih mengistirahatkan tubuhnya agar saat presentasi nanti, dia bisa fokus. Secara dua hari tak tidur membuat pikiran lelah juga kan.


Abash menoleh ke arah Sifa yang masih menutup matanya dengan rapat. Tak perlu bertanya siapa yang mengerjakan pekerjaannya, karena tak ada orang lain yang ada di ruangan tersebut.


Sreeet ...


Abash menoleh, kemudian pria itu tersenyum saat melihat kembarannya telah tiba.


"Sorry, gue terlambat."


"Gak masalah."


Abash bergegas merapikan barang-barangnya. "Gue balik ya,"


"Siipp, hati-hati."


Tak lupa Abash memakai maskernya agar tak ada yang mengenali dirinya saat keluar dari rumah sakit.


Sifa terbangun saat mendengar seseorang berbicara, gadis itu menoleh dan melihat wajah pria yang sedang berbicara di telpon tersebut. Wajah yang sama tetapi orang yang berbeda.


"Maaf, saya ganggu kamu tidur ya," ujar Arash setelah selesai dengan panggilan teleponnya.


Sifa tersenyum kecil kemudian menggelengkan kepalanya. Sifa meneliti ruangan tersebut, tak ada lagi laptop Abash di sana.


"Abash sudah pergi saat kamu masih tidur," ujar Arash seolah menjawab pertanyaan yang ada di dalam pikirannya.


"Bapak udah lama?" tanya Sifa.


Arash melirik ke arah jam tangannya. "Satu jam yang lalu."


'Ah, satu jam yang lalu. Berarti Pak Abash pergi satu jam yang lalu.' batin Sifa.


Entah mengapa, Sifa merasa sedih karena Abash tak membangunkannya dan pergi begitu saja.


'Mungkin Pak Abash masih marah, ya? wajar sih, berarti aku harus menjaga jarak dengannya mulai saat ini.'


...Jangan lupa Vote, Like, and komen ya .....

__ADS_1


...Salam sayang dari Abash n Sifa...


...Follow IG Author : Rira Syaqila...


__ADS_2