
"Apa yang kamu lakukan, Rash?"
Putri mendorong dada Arash agar pria itu menjauh darinya. akan tetapi tenaga Putri seolah tiada, karena aras menahan dorongan tangan Putri dengan sekuat tenaganya.
"Rash," pekik Putri dengan kesal.
Merasa diabaikan oleh Arash, Putri pun mengumpulkan seluruh tenaganya untuk mendorong tubuh pria itu. Tak sia-sia Putri mengeluarkan tenaga dalamnya, karena akhirnya tubuh Arash pun terdorong dan menjauh dari Putri.
"kamu apa-apaan sih, Rash?" kesal Putri dengan menatap tajam ke arah Arash.
Arash menatap Putri dengan lekat, sehingga pria itu mengunci tatapan mata Putri yang memandangnya dengan tajam.
"Apa benar kamu akan menikah dengannya?" tanya Arash dengan harapan jika Putri menjawab tidak.
"Itu bukan urusan kamu," kesal Putri.
Gadis itu berbalik dan siap untuk membuka pintu kamar hotel, akan tetap Arash dengan cepat menarik lengan Putri dan mengunci pergerakan gadis itu yang ingin melawannya.
"Arash, mau kamu apa?" kesal Putri sambil berusaha melepaskan lengannya yang sudah di kunci lelah Arash kebelakang tubuhnya sendiri.
"Aku ingin kamu," jawab Arash tanpa ragu.
"Apa maksud kamu?" tanya Putri menatap tajam ke arah Arash. Pria itu tidak ingin memperkosanya saat ini kan?
Eh, jangan salahkan Putri jika berpikiran seperti itu. Coba deh baca ulang apa yang Arash katakan.
'Aku ingin kamu'.
Nah, bukannya kalimat itu selalu di tujukan kepada pria yang ingin memilik wanita tersebut dengan seutuhnya? Dalam artian ingin meniduri wanita tersebut.
"Jangan kurang ajar kamu, Rash. Ingat, aku ini seorang pengacara. Aku bisa menuntut kamu dan membuat diri kamu membusuk di penjara," ujar Putri dengan tatapan matanya yang merah dan basah.
"Jika aku di penjara, lalu siapa yang akan menafkahi kamu?"
__ADS_1
"Arash!" pekik Putri yang tak tahan lagi dengan setiap ucapan-ucapan yang di lontarkan oleh Arash. Di mana pria itu seolah memberikan harapan yang indah kepada Putri.
"Aku lagi gak mau bercanda, Rash. Aku gak mau. Lagi pula, urusan hati bukan untuk di buat bercandaan," kesal Putri.
"Aku lagi gak bercanda, Put. Aku serius." Arash masih menatap manik mata Putri dan menguncinya, agar gadis itu melihat kesungguhan yang dia utarakan.
"Rash, umur kita itu terpaut dua tahun. Aku lebih tua dari kamu. Gak mungkin kalau kamu bisa membimbing aku, Rash. Aku butuh pria yang matang dan lebih dewasa dari aku. Tapi kamu----"
"Jadi, apa menurut kamu, aku kurang dewasa?" tanya Arash memotong ucapan Putri.
"Rash, umur kita----"
"Apa kedewasaan seseorang di ukur melalui umur, sekarang?" tanya Arash lagi memotong ucapan Putri.
"Rash!"
Melihat Putri yang tak lagi memberontak untuk melepaskan tangannya, Arash pun perlahan merenggangkan kunciannya pada lengan Putri, membiarkan tangan gadis itu terlepas dan bebas.
"Rash, aku gak tau kamu mengerti dan paham atau tidak akan yang aku maksud. Aku ingin memiliki pasangan hidup yang dewasa, yang bisa membimbing aku, Rash," lirih Putri dengan air mata yang berderai.
Tidak, sebenarnya bukan itu yang ingin Putri katakan, tetapi dia ingin bertanya, apakah Arash bisa membimbing dirinya dalam segi apapun?
"Jadi, menurut kamu aku kurang dewasa?" tanya Arash.
"Rash ...."
"Put, aku tau kalau umur kita itu terpaut dua tahun berbeda. Tapi itu bukan masalah bagi aku, Put. Karena jika hati aku sudah memilih kamu, maka aku akan tetap memperjuangkan kamu, walaupun umur kita terpaut sepuluh atau dua puluh tahun. Aku akan tetap memperjuangkan kamu, Put. Karena kamu lantas untuk di perjuangkan."
"Rash ..."
Jujur, Putri tersentuh dengan apa yang Arash katakan. Tapi, akankah Arash benar-benar bisa di percaya untuk membimbingnya, sedangkan Putri ingin memiliki pasangan yang lebih dewasa darinya.
Setidaknya pemikirannya yang dewasa. Toh, banyak orang yang umurnya sudah dewasa, tapi sifatnya masih anak-anak kan?
__ADS_1
Tidak, bukan itu yang Putri mau. Tapi Putri membutuhkan seseorang yang benar-benar bisa membimbingnya.
"Aku akan buktikan, jika aku lebih dewasa dari apa yang kamu pikirkan."
Arash membuka pintu hotel, kemudian dia mengambil tangan Putri dan menggenggamnya.
"Rash..."
Entah terkena hipnotis atau bagaimana, Putri menurut saja dengan apa yang Arash lakukan terhadapnya.
Soni berbalas lega di saat pintu kamar telah terbuka, pria itu bersiap menghajar Arash, di saat rivalnya itu keluar bersama Putri. Akan tetapi, pergerakan tangan Soni yang sudah menarik kerah baju Arash pun, terdiam di saat melihat mata Putri yang sudah basah.
"Put, kamu kenapa?" tanya Soni dengan perasaan khawatir.
Putri menggeleng, menjawab jika dirinya tidak kenapa-napa dan baik-baik saja.
"Kamu apain Putri, hah?" pekik Soni yang sudah kembali mencengkram kerah baju Arash.
"Bisa anda lepaskan? Karena saya butuh membuktikan sesuatu kepada calon istri saya," tegas Arash dengan nada suara yang tenang, tetapi tersirat sebuah perintah.
Soni mengerjapkan matanya, pria itu pun refleks melepaskan tangannya dari kerah baju Arash, di saat pria itu melepaskan tangannya dari kerah baju Arash.
"Permisi," pamit Arash dan melanjutkan jalannya.
"Soni, maaf," cicit Putri dan mengikuti Arash..
Soni terdiam dan membiarkan mereka pergi, bukan karena dia tak mampu untuk menghentikan Arash dan membawa Putri kembali kepadanya. Akan tetapi, pria itu melihat jika tak ada sedikitpun penolakan yang di berikan oleh gadis yang dia cintai.
"Rash, kamu mau bawa aku ke mana?" tanya Putri yang tak bisa menolak keinginan Arash.
Lagi-lagi, bahasa tubuh dan pemikirannya tidak sejalan.
"Aku mau bawa kamunke suatu tempat," ujar Arash dengan tersenyum.
__ADS_1
"Rash, kamu gak berniat bawa aku ke KUA kan?" tanya Putri di saat pria itu sudah membuka pintu mobil dan menyuruhnya untuk masuk ke dalam.