
"Abash?" tegur Mama Kesya, di saat pria itu hanya menatap ke arah pintu kamarnya.
"Ya, Ma?"
"Kok kamu malah melamun sih? Gak jadi ke kantor polisinya?" tanya Mama Kesya.
"Hah? Ah, ya. Abash ganti baju dulu ya," ujar Abash dan bergegas menuju kamarnya.
Abash membuka pintu kamar dengan pelan, pria itu bersiap untuk memberikan kode kepada Sifa agar tak bersuara. Saat melihat gadis itu duduk di lantai dan menyandarkan kepalanya di pinggir tempat tidur, membuat Abash merasa bersalah.
Abash berjongkok dan menatap wajah Sifa yang tertidur dengan pulas.
"Hmm, pasti kamu ketiduran karena menahan lapar, ya?" lirih Abash.
Abash pun perlahan mengangkat tubuh Sifa dan memindahkannya ke atas tempat tidur. Pria itu menyelimuti tubuh Sifa dengan selimut miliknya.
"Tidur yang nyenyak," bisik Abash sambil mengusap rambut Sifa.
__ADS_1
Sifa menggeliat dan menggeser tubuhnya menjadi menghadap ke arah Abash, sehingga membuat jarak wajah mereka sangatlah dekat.
Abash mengerjapkan matanya, pria merasakan kembali detak jantungnya yang berdegup dengan sangat kencang.
"Apa ini? Kenapa perasaanku seperti ini? Lalu, kenapa aku selalu ingin menyentuhnya?" batin Abash bertanya.
Tok ... tok ... tok ...
"Abash, kamu masih lama?" tanya Mama Kesya dari luar pintu kamar.
"I-iya, Ma. Sebentar lagi," jawab Abash dengan sedikit berteriak dan menoleh ke arah pintu, kemudian pria itu menoleh ke arah Sifa yang berada di atas tempat tidurnya.
Abash mengambil sebuah kertas dan pulpen di laci nakas, kemudian pria itu menulis sebuah pesan di atas kertas tersebut, yang mana pesan itu di tujukan untuk Sifa, di saat gadis itu terbangun nanti.
Setelah meletakkan pesan tersebut di atas tas milik Sifa, Abash pun kembali melirik ke arah gadis itu dan mengusap sekali lagi rambut Sifa, sebelum dia pergi. Tak lupa pria itu mengganti kemejanya dengan kemeja yang lain.
Ceklek ...
__ADS_1
Abash menutup pintu kamarnya dengan perlahan, kemudian dia berjalan mendekati Mama Kesya.
"Ayo, Ma," ajak Abash yang di angguki oleh Mama Kesya.
Di dalam kamar, Sifa yang mendengar suara pintu terbuka kemudian kembali tertutup pun, perlahan membuka matanya. Tangannya perlahan naik ke atas kepala untuk menyentuh rambutnya yang baru saja di usap oleh Abash.
"Kenapa jantung Aq berdebar-debar gini ya? Masa iya aq jatuh cinta dengan Pak Abash?" lirih Sifa dengan pelan.
Gadis itu pun bangkit dari tidurnya dan melirik ke arah meja di samping tempat tidur, di mana tasnya berada. Sifa meraih sebuah potongan kertas yang ada di atas tas miliknya. Gadis itu pun membaca setiap kata yang tertulis di sana.
"Kalau kamu sudah bangun, makanlah dulu sebelum pergi. Saya menyimpan makanan yang di bawa mama ke dalam lemari es. Hangatkan makanan itu menggunakan microwave."
Sifa menghela napasnya pelan, gadis itu melihat kondisi tubuhnya yang berada di atas tempat tidur sang bos, serta tubuh yang di hangatkan oleh selimut milik sang bos, di mana aroma tubuh Abash masih tertinggal di sana.
Sifa menarik selimut itu dan menciumi aroma khas milik Abash.
"Hmm, wangi banget. Beda sama selimut aku yang bau iler," lirih Sifa kemudian dia tertawa.
__ADS_1
"Kok aku jadi seperti orang kasmaran gini yaa? Masa iya aku beneran jatuh cinta sama bos?"