
Quin sudah menyiapkan acara penyambutan kepulangan Putri dan Rayanza di kediaman Mama Kesya. Untuk sementar, Putri dan Arash kembali tinggal di rumah Mama Kesya sampai Rayanza berumur tiga bulan. Tak lupa, Quin juga menyiapkan kamar untuk Mama Nayna dan Papa Satria tempati. Ya, walaupun mertua dari Arash sudah mengatakan tidak perlu repot-repot untuk menyiapkan tempat tinggal mereka, tetap saja Quin menyiapkan tempat tinggal untuk Mama Nayna dan Papa Satria. Mana tau kan, kalau mertua Arash itu berubah pikiran dan ingin tinggal di dekat sang cucu
"Mereka sudah sampai mana, Ca?" tanya Quin kepada Raisa yang baru saja selesai berbicara dengan Mbak Anggel di sambungan telepon.
"Baru mau keluar rumah sakit, Mbak."
"Oh, ya sudah kalau begitu, kita cek ulang kembali apa-apa saja yang belum siap, ya!" ajak Quin.
Raisa dan Quin pun kembali memastikan persediaan untuk menyambut kepulangan Rayanza dan Putri ke rumah.
Beberapa puluh menit kemudian.
Mobil yang ditumpangi oleh Putri dan Rayanza pun tiba di kediaman Mama Kesya. Arash bergegas turun dari dalam mobil dan membukakan pintu untuk istirnya itu.
"Pelan-pelan, sayang," ujar Arash dan membantu Putri untuk turun dari mobil.
Berhubung Rayanza di gendong oleh Mama Nayna, jadi Arash hanya memfokuskan perhatiannya kepada sang istri yang masih harus bergerak secara perlahan, agar jahitan yang ada di perutnya tidak terbuka atau infeksi.
"Rayanza rewel gak, Ma?" tanya Putri saat dirinya sudah turun dari mobil dan melihat sang mama menimang putranya itu.
"Anteng. Ayo, masuk. Rayanza gak boleh lama-lama di luar," ajak Mama Nayna dan duluan berjalan di depan Putri.
Arash pun kembali menuntun sang istri dan berjalan secara perlahan, karena sesekali Putri masih meringis kesakitan jika dirinya harus berjalan sedikit cepat.
"Assalamualaikum," ujar Mama Kesya dan membukakan pintu rumah semakin lebar untuk besan dan juga cucunya itu.
"Walaikumsalam, selamat datang Rayanza," seru Quin dengan suara yang berbisik, di saat Mama Kesya langsung memberikan kode dengan jari telunjuk di bibirnya agar tidak bersuara keras.
"Masya Allah, semakin hari semakin terlihat ganteng aja Rayanza, ya?" puji Quin yang diangguki oleh Raysa.
"Ayo, silahkan masuk, Tante." Quin pun mempersilahkan Mama Nayna untuk masuk ke dalam rumah.
Quin menunggun kedatangan Putri untuk menyambut adik iparnya itu.
__ADS_1
"Selamat datang, Ibu Muda," seru Quin dengan tangan yang terbuka untuk memeluk Putri.
"Ya ampun, Mbak, ini semua kejutan buat aku?" tanya Putri di saat melihat Raysa memberikan buket bunga untuknya.
"Iya, ini semua untuk menyambut kepulangan kamu dan Rayanza," jawab Quin dengan tersenyum lebar.
"Masya Allah, terima kasih banyak, Mbak." Putri pun tak mampu lagi menahan rasa harunya, di saat kepulangannya di sambut dengan begitu hangat seperti saat ini.
"Ayo masuk, semuanya sudah menunggu di dalam."
Quin pun menggantikan Arash untuk merangkul Putri masuk ke dalam rumah.
"Pelan-pelan, Mbak, Putri masih sakit," tegur Arash mengingatkan.
"Iya, Mbak tahu, Rash," sahut Quin sambil memutar bola matanya malas.
Kepulangan Putri dan Rayanza pun membuat suasana rumah Mama Kesya menjadi ramai.
"Emm, gimana ya?" Mama Nayna pun melirik ke arah sang suami.
"Kalau Mama mau nginep di sini, gak papa kok. Papa bisa pulang sama Bara," ujar Papa Satria yang mengerti dengan tatapan mata sang istri kepadanya.
"Beneran?" tanya Mama Nayna memastikan.
"Iya, beneran."
"Ya udah kalau gitu, Mama tidur di sini ya?" izin Mama Nayna kepada sang suami.
"Iya, sayang."
"Nah, gitu kan enak. Jadi bisa tetap deket sama cucu kan?" ujar Mama Kesya yang diangguki oleh Mama Nayna.
"Quin, kamu sudah siapin kamar untuk Tante Nayna, kan?" tanya Mama kesya kepada sang putri.
__ADS_1
"Sudah, Ma. Ada di sebelah kamar Putri."
"Terima kasih, Quin," ujar Mama Nayna kepada putri sulung Mama Nayna.
"Sama-sama, Tante."
*
"Kenapa? Kok kamu terlihat gugup gitu?" tanya Abash kepada sang istri.
Saat ini Abash baru saja menjemput Sifa yang baru saja pulang bekerja.
"Aku gak tau, Mas, apa aku sanggup menahan air mataku nanti, di saat melihat Putri menggendong Rayanza," lirih Sifa yang saat ini matanya sudah berkaca-kaca.
"Sayang--" Abash pun menarik Sifa ke dalam pelukannya.
"Mas, hiks … sudah dua bulan ini aku tidak meminum pil KB, Mas. Karena aku merindukan sosok malaikat mungil hadir di dalam perut aku, hiks … Aku menyesal, Mas, karena sudah menunda kehamilanku, hiks .. Aku ingin hamil, Mas, aku ingin hamil." Ungkapan hati Sifa pun membuat Abash ikut meneteskan air matanya.
Bukannya Abash tidak tahu, jika Sifa telah berhenti meminum pil KB. Walaupun Abash terlihat diam dan cuek, tetapi pria itu terus saja memperhatikan gerak gerik dari sang istri.
"Kalau kamu siap untuk hamil, aku akan membuat kamu hamil, sayang," bisik Abash sambil mengusap punggung sang istri dengan lembut.
"Iya, Mas, hiks … sekarang aku siap untuk mengandung buah cinta kita."
"Lalu, bagaimana dengan pekerjaan kamu, sayang? Apa kamu akan menyerah?" tanya Abash memastikan.
"Mas, apalah artinya sebuah prestasi dan perjuangan yang telah aku capai saat ini, jika aku sendiri tega membunuh benih yang sudah kamu tanamkan di rahim aku, Mas. Untuk apa semua ini, jika aku tidak bisa menjadi wanita yang sempurna. Hiks … Maas, maafin aku yang terlambat menyadari jika diriku terlalu egois karena lebih mempertahankan karirku, dari pada harus melahirkan keturuan dari kamu, Mas. Hiks … maafin aku."
"Iya, sayang. Aku sudah memaafkan kamu." Abash merelai pelukannya, tangannya terulur untuk menghapus air mata sang istri.
"Aku akan bicara dengan Kak Farhan tentang kamu. Semoga saja ada jalan keluar yang bisa mempermudah kamu untuk berhenti bekerja."
"Iya, Mas."
__ADS_1