Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 321


__ADS_3

Bara menatap tajam ke arah dua orang yang saat ini terlihat ketakutan di hadapannya. Jika bukan seorang wanita, maka mungkin pria itu sudah memukulnya habis-habisan.


"Maafin kamu, Tuan," lirih salah satu dari wanita itu.


"Tutup mulut kalian, dasar pelacur," geram Bara.


Tak berapa lama, Abash dan Arash pun muncul. Terlihat jika mereka berjalan dengan terburu-buru.


"Apa mereka pelakunya?" tanya Abash kepada Bara.


Adik dari Putri itu pun menganggukan kepalanya. Ya, Bara ikut bekerja sama dengan Abash dan Arash untuk menyelidiki kasus yang telah menimpa kepada Putri dan Abash. Benar saja dugaan mereka, jika semua kejadian itu adalah rekayasa, karena selain berpelukan dengan Putri, Abash tidak mengingat kejadian apapun lagi.


Abash melangkahkan kakinya, mencengkram pipi salah satu dari kedua wanita itu.


"Katakan, apa yang terjadi malam itu?" tanya Abash dengan nada suara yang terdengar sangat dingin.


"Ka-kami di suruh oleh seseorang untuk membuka semua pakaian Anda dan nona itu, Tuan," jawab wanita yang wajahnya di cengkrem oleh Abash.


"Apa hanya itu?" tanya Abash lagi.


"To-tolong lepaskan, saya akan menceritakan semua kejadiannya yang sebenarnya," pinta wanita itu dengan suara dan tubuh yang bergetar.


Abash pun melepaskan cengkraman tangannya dari wajah wanita itu.


"Di-dia di bayar untuk memasukkan obat ke dalam minuman Tuan dan Nona," ujar wanita itu sambil menunjuk ke arah temannya.


"Kami tidak tahu itu obat apa dan siapa yang memberikannya, karena pria yang menyuruh kami saat itu menggunakan masker wajah, sehingga kami tidak bisa mengenali wajahnya," jelasnya lagi.


"Saat Tuan dan Nona jatuh pingsan di depan kamar penginapan, dua orang pria yang memakai masker pun membawa kalian ke dalam kamar, kemudian menyuruh kami untuk membuka pakaian Anda dan Nona itu," sambungnya lagi.


"Tap-tapi, agar semuanya terlihat benar-benar nyata jika kalian telah melakukan suatu hubungan yang terlarang, saya pun memberikan ide untuk mengoleskan darah ke bagian itu .." tunjuk wanita itu ke arah pusaka Abash, sehingga membuat pria itu sedikit tidak nyaman.


"Tidak hanya itu, saya juga mengambil kesempatan untuk membuat itu menjadi lemas kembali," ungkap wanita itu yang mana membuat Abash membulatkan matanya.

__ADS_1


"Ap-apa? Mak-maksud kamu apa, hah?" tanya Abash dengan murka.


"Ampun, Tuan. Saya tidak memasukkannya ke milik saya, tetapi saya hanya menggunakan mulut dan tangan saja, saya berani bersumpah," ujar wanita itu tanpa malu.


"Dasar brengsek," maki Abash dan sudah tidak bisa menahan amarahnya.


Pria itu pun mendaratkan sebuah tamparan ke wajah wanita itu, sehingga membuatnya tersungkur dengan sudut bibir yang berdarah.


"Jadi bercak cairan itu benar dari ****** milik dia?" tanya Bara yang di angguki oleh keduanya.


"Am-ampun, Tuan. Ampuun. saya tidak bermaksud unt---"


"Cukup hentikan," geram Abash hingga suaranya memekik menggelegar.


Inilah yang membuat Abash bersikeras untuk menikahi Putri, walaupun dia tidak bisa mengingat apa yang terjadi malam itu, akan tetapi dia dapat merasakan jika ada lahar yang keluar dari tubuhnya. Ya, setiap pria pasti bisa merasakan jika laharnya telah keluar, walaupun tidak ada bukti sama sekali. Ada rasa puas dan lega yang berbeda Abash rasakan pagi itu. Maka dari itu, dia meyakini jika benar-benar telah menodai Putri, walaupun tidak mengingat satu pun kepingan kejadian malam itu.


Ternyata, malam itu yang ternoda bukanlah Putri, melainkan Abash. Abash lah yang telah ternoda malam itu, tanpa dia ketahui dan sadari.


"Jadi, bercak darah itu ulah dari kalian?" tanya Arash untuk memastikan sekali lagi.


"Astaghfirullah, berapa duit yang kalian dapatkan, hah? Sehingga tega melakukan pekerjaan keji seperti itu?" geram Bara.


"Ma-masing-masing dari kami mendapatkan sepuluh juta," jawabnya.


Sumpah, rasanya ingin sekali Abash melemparkan kedua wanita itu kepemukiman buaya.


"Jadi, kalian tidak tahu siapa yang menyuruh kalian?" tanya Arash  lagi.


"Iya, Tuan. Kami tidak tahu."


"Sebutkan rekening yang kalian berikan kepada mereka, untuk menerima bayaran atas pekerjaan keji yang telah kalian lakukan," geram Arash.


"Tu-tuan, mereka memberikan uang tersebut secara kontan," jawab wanita itu.

__ADS_1


Arash mengusap wajahnya dengan kasar, jika begini, sekarang  mereka seolah kembali mendapatkan jalan buntu.


"Baiklah, kalian harus katakan saat di kantor polisi, apa yang telah kalian lakukan," tegas Arash.


Arash bernapas lega, nyatanya Putri tidak pernah di sentuh oleh Abash. Mungkin, dengan ungkapan ini, tanpa menjalankan rencana dirinya yang di setujui oleh Abash dan di dukung oleh Bara dan Mama Nayna, tidak perlu terjadi. Dengan terungkapnya kebenaran, Arash juga tidak perlu merasa bersalah dengan profesi yang sedang dia jalani.


"Bash, kenapa kamu?" tanya Arash saat melihat Abash terlihat berwajah lemas dan pucat.


"Aku sudah ternoda, Rash," lirih Abash yang mana membuat Arash ingin tertawa tapi takut kualat.


"Apa perlu wanita itu bertanggung jawab?" tanya Bara yang juga sudah mengulum bibirnya.


"Dasar brengsek," maki Abash sehingga lepaslah tawa Bara dan Arash.


Ya, setidaknya mereka sudah keluar dari masalah yang tidak ingin mereka jalani.


*


"Apa? Mbak Putri hilang?" tanya Bara yang baru saja sampai rumah dan mendapatkan kabar, jika sang kakak belum juga pulang sehabis melarikan diri untuk bertemu dengan Abash.


"Iya, Bar. Mbak kamu sedari tadi tidak dapat dihubungi. Mama khawatir, Bar, hiks .. Kamu tolong cariin di mana Mbak kamu, Bar, cari Mbak kamu, jangan sampai dia terluka, hiks ..." tangis Mama Nayna.


"Iya, Ma. Bara akan mencari Mbak Putri," ujar Bara dan memeluk tubuh sang mama untuk menenangkannya.


Bara menghela napasnya dengan sedikit kasar. Di saat semuanya sudah terungkap, kenapa malah ada masalah lain yang muncul? Kapan semua ini akan berakhir?


Bara pun menghubungi Abash dan Arash, di mana mereka juga sudah mendapatkan kabar jika Putri menghilang dan belum kembali.


"Aku rasa, semua ini salah aku," lirih Abash merasa menyesal.


"Apa maksud kamu, Bash?" tanya Bara.


"Saat Putri menemui aku tadi, dia menyuruh aku untk kabur, tetapi aku malah menyarankan agar dia saja yang kabur," ujar Abash. "Apa dia benar-benar menerima saran dari aku?" tanya Abash kembali dengan wajah merasa bersalahnya.

__ADS_1


"Astaghfirullah, Bash. Kenapa kamu berkata seperti itu?" lirih Arash sambil mengusap wajahnya dengan kasar.


"Ya, aku mana tau, jika Putri akan menerima saran aku, Rash. Aku kan cuma bercanda aja tadi," jawab Abash yang mana membuat Arash merasa geram terhadap kembarannya itu.


__ADS_2