
Jakarta.
Seluruh keluarga sudah heboh untuk menjemput kepulangan Abash dan Sifa. Bahkan para tetua dan senior pun sudah menunggu di landasan pesawat pribadi milik keluarga Moza. Mereka semua ingin tahu, apakah bulan madu Sifa dan Abash kali ini benar-benar berhasil untuk menjadikan mereka pasangan suami dan istri?
Ya, walaupun Mama Kesya pernah melihat tanda kemerahan di leher Sifa, tapi apakah tanda itu benar sebagai bukti jika Abash dan Sifa telah menjadi suami istri?
Sifa dan Abash pun baru saja turun dari pesawat. Di saat Abash membisikkan sesuatu kepada sang istri, Sifa pun langsung membulatkan matanya.
"Serius, Mas?" tanya Sifa tak percaya.
"Iya, sayang. Mereka semua sudah menunggu kita di luar," sahut Abash yang mana membuat Sifa menahan napasnya.
"Kenapa Mama dan Papa sampai menjemput kita di sini, Mas?" tanya Sifa bingung.
"Karena mereka pasti penasaran dengan sesuatu," ujar Abash di mana kalimatnya terlalu ambigu bagi Sifa.
"Maksudnya, Mas?"
"Nanti kamu akan tahu, sayang."
__ADS_1
Abash pun merangkul sang istri untuk berjalan lebih cepat.
Mama Kesya yang sudah melihat kedatangan Abash dan Sifa, langsung melambaikan tangannya, sehingga membuat semua orang yang ada di sana langsung menoleh ke sumber tujuan mereka.
"Sayaaangg .... kesayangan ...." pekik Mama Kesya dengan tangan yang melambai ke atas.
Sifa pun langsung tersenyum kikuk, dia benar-benar tidak percaya dengan apa yang dia lihat saat ini. Hampir seluruh tetua hadir untuk menjemputnya.
"Ma," sapa Sifa dan mencium punggung tangan Mama Kesya, Mama Puput, dan yang lainnya.
"Ya ampun, sayang, kok kulit kamu gosong sih?" tanya Mama Kesya saat melihat kulit sang menantu tak seputih sebelumnya.
"Iya, Ma, kami seharian main panas terus," sahut Abash dan mencium punggung tangan Mama Kesya.
Sifa pun mencium punggung tangan Papa Arka, dan para papa yang lainnya.
"Duh, gimana sih kamu, Bash? Di suruh bulan madu kok malah ngajak Sifa main panas, sih?" kesal Mama Kesya.
"Loh, Ma, bulan madu kan tujuannya untuk berjalan-jalan juga, Ma," sahut Abash.
__ADS_1
"Mana ada, dulu saat Mama dan Papa berbulan madu, papa kamu malah mengurung Mama di kamar."
"Yang bener, Ma?" tanya Papa Arka dengan kening mengkerut.
Seingat Papa Arka, mama Kesya malah meminta waktu agar Papa Arka tidak menyentuhnya dulu, sebelum Mama Kesya benar-benar jatuh cinta dengan Papa Arka. Jadi, di mana letak Papa Arka mengurung Mama Kesya di dalam kamar saat mereka pergi berbulan madu?
"Perasaan Papa gak pernah ngurung Mama di kamar, deh. Papa kan ajakin Mama jalan-jalan juga," sambung Papa Arka.
Bugg ...
Papa Arka meringis pelan, di saat perutnya di siku oleh Mama Kesya.
"Sttt, jangan berisik," ancam Mama Kesya dengan mata melotot, sehingga membuat Papa Arka tersenyum dan memahami apa maksud ancaman sang istri.
"Ma, kalau di kamar aja kan bosan juga, Ma. Butuh istirahat dan hiburan di luar," ujar Abash.
"Ya tetap aja, Bash. Seharian jalan-jalan pasti udah kecapean. Terus malamnya udah ketiduran karena merasa lelah. Jadi, gimana kamu mau memberi Mama cucu?" tanya Mama Kesya.
"Atau, kalian kembali saja lagi sana naik pesawat, pergi ke mana gitu untuk berbulan madu. Kalau perlu, jangan pulang sampai Sifa hamil," titah Mama Kesya yang mana membuat Sifa membulatkan matanya.
__ADS_1
Yang benar saja, masa baru pulang sudah di suruh pergi lagi?