Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 373


__ADS_3

Abash menatap cincin yang melingkar di jari manisnya, sedangkan tangannya satu lagi menggenggam tangan Sifa.


"Bagaimana bisa kamu merencanakan semua ini, sayang?" tanya Abash merasa penasaran dan juga rasa haru yang luar biasa.


Sebelumnya tak pernah dia bayangkan jika akan di lamar oleh seseorang yang sangat dia cintai. Siapa yang bisa menyangka, jika hal yang tidak mungkin terjadi, nyatanya terjadi di dalam kehidupan Abash. Apa hal ini bisa dikatakan jika Abash adalah salah satu pria yang beruntung dan sangat spesial?


"Itu semua berkat bantuan seseorang, Mas. Kamu tau, aku berlatih menari melalui video call. Dan saat lagu akad dinyanyikan tadi, aku belajar dance sebentar di belakang. Itu juga berkat bantuan seseorang, Mas." ujar Sifa yang mana membuat Abash merasa penasaran.


"Oh ya, siapa orang itu, sayang?" tanya Abash.


Sifa melihat ke sekeliling, hingga dia menemukan sosok yang dicari. Seorang gadis cantik yang telah membantunya memberikan kejutan kepada Abash.


"Tuh," tunjuk Sifa ke arah Zia yang sedang berjalan ke arah mereka.


Ya, gadis yang telah membantu Sifa adalah Zia. Abash menoleh ke arah tunjuk Sifa, hingga pria itu membulatkan matanya di saat mengetahui siapa orang yang telah membantunya.


"Zia?" lirih Abash dengan kening mengkerut menatap ke arah Sifa.


"Iya, Mas, Zia. Semua ini berkat bantuan dia, Mas. Cincin ini juga aku pesannya dari dia," ungkap Sifa.


Abash menatap cincin yang ada di jari jemarinya, kemudian dia tersenyum kecil. Pantas saja dia seolah mengenal dengan bentuk cincin yang melingkar di jarinya saat ini. Ternyata, desainer cincin tersebut adalah orang yang sama.


"Haii .." sapa Zia dengan tersenyum lebar saat sudah berada di dekat Abash dan Sifa.


Abash menaikkan alisnya sebelah dengan tatapan mata yang penuh arti kepada Zia. Gadis yang ditatap oleh Abash pun hanya terkekeh pelan, seolah tidak merasa bersalah dengan apa yang telah dia lakukan.


"Terima kasih, Zia, berkat bantuan kamu, semua rencana aku berjalan dengan lancar," ujar Sifa dengan tulus.


"Sama-sama, Mbak. Aku senang kok bisa membantu kalian berdua." Zia pun memanggil pelayan untuk membawa ice cream pesanannya.


"Selamat ya untuk kalian berdua. Ini ada hadiah ucapan selamat dari aku." Zia menyuruh pelayan untuk meletakkan ice cream tersebut di atas meja.


Untungnya Abash dan Sifa sudah selesai makan, jadi ice cream pun menjadi makanan penutup bagi keduanya. Bentuk ice cream yang Zia pesan untuk Abash dan Sifa adalah di mana bagian tengah ice cream, terdapat sebuah coklat yang berbentuk bundar seperti tempurung kelapa, di mana biasanya orang-orang yang memakan ice cream itu akan memecahkan coklat yang berbentuk tempurung tersebut demi mendapatkan kejutan di dalamnya.


"Selamat menikmati," ujar Zia.


"Kamu gak duduk dan gabung dengan kita dulu?" tanya Sifa yang melihat gelagat Zia seakan ingin pergi.


"Maaf, aku tidak bisa. Tugasku sudah selesai. Jadi, aku harus kembali dan mengerjakan tugas yang lainnya. Oke." Zia pun mengedipkan matanya sebelah kepada Sifa.


"Padahal kamu bisa bergabung dengan kami tadi," lirih Sifa dengan sendu.

__ADS_1


"Apa? Bergabung? Oh tidak. Mana mungkin aku merusak moment romantis kalian," kekeh Zia. "Baiklah kalau begitu, selamat menikmati ice cream-nya. Aku pergi dulu, ya," pamit Zia kepada Sifa dan Abash.


"Zia, sekali lagi terima kasih banyak," ujar Sifa dengan tulus.


"Sama-sama, Mbak."


Zia pun berbalik dan meninggalkan dua insan yang tengah kasmaran itu.


"Jadi, kapan kita akan menentukan tanggal pernikahan kita?" tanya Abash setelah melihat Zia menjauh dari mereka.


Sifa menoleh ke arah Abash, gadis itu tersenyum dengan sangat manisnya.


"Aku ikut kapan kamu mau aja, Mas. Kalau pun besok kamu mau mengajak aku menikah, maka aku akan bersedia," jawab Sifa dengan malu-malu dan wajah yang merona.


"Baiklah, aku akan mempersiapkan pernikahan kita besok," ujar Abash yang mana membuat Sifa membulatkan matanya.


"Serius, Mas?" tanya Sifa dengan mata yang membulat sempurna.


"Apa aku terlihat bercanda?" Abash pun memasukkan sesendok ice cream ke dalam mulutnya.


Sifa menggelengkan kepalanya, gadis itu pun ikut menyendokkan ice cream ke dalam mulutnya.


"Oh ya, Mas, ini fungsinya apa sih?" tanya Sifa sambil menunjuk ke arah coklat tempurung tersebut.


"Oh," lirih Sifa dan mengabaikan coklat tersebut.


Beberapa detik selanjutnya, Abash teringat akan sesuatu. Pria itu menduga jika Zia pasti sudah merencanakan suatu kejutan untuk Sifa.


"Sayang, coba kamu pecahin coklatnya. Mungkin aja ada harta karun di dalamnya," kekeh Abash, kemudian pria itu memecahkan coklat tempurung miliknya.


"Yaah, sepertinya aku kurang beruntung," lirih Abash dengan sendu, di saat di dalam coklat itu hanya terdapat madu.


"Masa sih ada harta karunnya? Aku gak percaya."


Kletaak ...


Sifa pun memecahkan tempurung coklat, hingga gadis itu langsung terdiam di saat melihat sesuatu yang berkilau di dalamnya.


"Mas, ini?" Sifa mengambil cincin yang ada di dalam pecahan coklat tersebut.


Abash mengulurkan tangannya, kemudian mengambil cincin yang ada di tangan Sifa. Pria itu pun memakaikan cincin tersebut ke jari manis sang kekasih.

__ADS_1


"Untuk calon istriku, Sifa Agustina." Abash pun mendaratkan sebuah ciuman di punggung tangan Sifa.


"Kaan, beneran dugaan aku. Pasti kamu bakal buat kejutan untuk aku, Mas. Untungnya aja aku yang duluan kasih kejutan untuk kamu," seru Sifa yang merasa terharu di saat melihat betapa cantiknya cincin yang sudah berada di jari manisnya itu.


"Eh tunggu, es krim ini kan Zia yang kasih?" lirih Sifa bingung.


Gadis itu pun menatap kearah Abash yang sudah tersenyum manis kepadanya.


"Jangan-jangan kamu juga sekongkol dengan Zia?" tebak Sifa yang diangguki oleh Abash.


"Iya, sayang."


"Apa itu artinya, kamu juga sudah tau rencana aku ini?" tebak Sifa lagi.


"Tidak sayang, aku tidak tahu dengan rencana kamu ini. Aku pikir tadi semua lagu yang dinyanyikan itu adalah untuk kamu. Tapi ternyata?"


Abash dan Sifa saling memandang dalam beberapa detik, kemudian mereka tersenyum bersama.


"Aku rasa ini semua ulah Zia, Mas. Dia benar-benar tahu apa yang harus dia lakukan," puji Sifa.


"Ya, aku salut dengan kepintarannya."


Sifa menghela napasnya pelan, kemudian gadis itu mengernyitkan keningnya di saat melihat cincin yang melingkar di jari manisnya mirip dengan cincin yang dikenakan oleh Abash.


"Mas, jangan bilang kalau kamu pesan cincin dengan Zia juga?" tebak Sifa.


Abash pun menautkan tangannya yang mengenakan cincin pemberian Sifa. "Iya sayang, dan aku juga tidak tahu, jika mengukir sepasang cincin untuk kita berdua."


"Ya ampun, Zia, dia bikin aku benar-benar merasa terharu dan sangat berterima kasih sekali," lirih Sifa dengan mata yang berkaca-kaca.


"Iya, sayang. Kita gak boleh melupakan kebaikan dia ini, ya. Karena bantuan dia, aku mendapatkan kejutan yang sangat luar biasa."


"Iya, Mas. Karena dia juga, aku banyak belajar tentang dunia fashion. Jadi, saat aku menjadi istri kamu nanti, aku gak akan membuat kamu malu dengan penampilan aku, Mas."


"Sayang, aku tidak pernah mempermasalahkan penampilan kamu. Apapun yang kamu kenakan, aku akan tetap menyukainya."


"Tapi tidak di mata orang lain, Mas. Pendapat kamu memang baik, tapi alangkah baiknya jika aku bisa berpenampilan yang tidak membuat kamu malu. Dan satu lagi, Mas, aku suka dengan penampilanku yang sekarang. Tidak glamor, tapi juga tidak terlihat rendahan. Iya kan, Mas. Aku belinya diskon loh, Mas," kekeh Sifa.


"Iya sayang, tapi, kamu harus ingat. Apapun yang kamu kenakan, aku tidak akan mempermasalahinya. Apa lagi kalau kamu tidak mengenakan baju di depan aku, pasti aku akan senang sekali," bisik Abash di akhir kalimatnya dengan menggoda.


"Maasss ..." rengek Sifa dengan wajah yang merona.

__ADS_1


Abash pun tertawa puas, melihat bagaimana wajah Sifa bisa memerah dan merona dengan begitu cantiknya.


"Minggu depan kita menikah. Aku akan siapkan semuanya. Kamu hanya cukup mempersiapkan diri kamu, sayang."


__ADS_2