
Zia sedang berdua saja dengan Sifa di dalam ruang inap ibu satu anak itu, sedangkan Abash sedang membeli roti bantal manis pesanan sang istri.
"Selamat ya sekali lagi, Mbak," ujar Zia yang berada di dekat Sifa.
"Terima kasih, Zi. Aku senang banget lihat kamu di sini."
Zia tersenyum, gadis itu pun berjalan mendekati box bayi yang ada di samping tempat tidur Sifa. Zia menatap wajah bayi mungil yang terlihat sangat tampan sekali itu. Rasanya dia ingin membawa pulang saja bayi mungil tersebut.
"Kalau kamu mau menggendongnya, gendong aja, Zi," ujar Sifa yang mana membuat Zia menoleh ke arahnya.
"Aku ingin, tapi aku takut, Mbak," kekeh Zia pelan.
"Takut kenapa?" Sifa mengernyitkan keningnya.
"Ntah lah, aku hanya takut saja." Zia pun menatap lekat wajah bayi mungil yang terlihat sedang tertidur dengan lelapnya.
"Tidak ada yang perlu kamu takuti, Zi. Aku percaya sama kamu, kalau kamu pasti bisa menggendong bayi," ujar Sifa dengan tersenyum. "Buktinya, Yumna aja bisa kamu gendong, kan?"
Ya, Yumna memang di gendong oleh Zia. Akan tetapi, sejak dia menggendong Yumna, dalam hati Zia pun muncul keinginan untuk merawat bayi itu, jika sesuatu terjadi kepada Putri dulu. Dan sekarang, Zia tidak ingin memiliki harapan apa pun, di saat menggendong Luthfi.
Ya, Zia tidak ingin memiliki keinginan dan harapan, jika dirinya bisa merasakan menjadi seorang ibu yang sesungguhnya. Menjadi seorang ibu yang sesungguhnya dalam artian jika dirinya dapat merasakan bagaimana rasanya mengandung selama sembilan bulan dan melahirkan makhluk tak berdosa dengan mempertaruhkan nyawanya. Zia takut jika dirinya berkeinginan untuk merasakan hal tersebut.
"Apa yang sedang kamu pikirkan, Zi?" tanya Sifa yang dapat melihat jika ada kekhawatiran dan harapan dari tatapan mata gadis itu.
__ADS_1
"Apa semuanya baik-baik saja?" tanya Sifa lagi.
Zia menarik napas secara perlahan dan menganggukkan kepalanya. "Iya, semuanya baik-baik saja."
Sifa tersenyum, wanita itu mengulurkan tangannya kepada Zia, meminta gadis itu untuk mendekat ke arahnya.
"Kamu yakin?" tanya Sifa saat Zia sudah menggenggam tangannya.
Zia menatap genggaman tangan Sifa yang terasa hangat di telapak tangannya. Dia merasa jika saat ini tangannya sedang di genggam oleh sang kakak.
"Ya, semua baik-baik saja," jawab Zia dengan mata yang berkaca-kaca.
Sifa mengusap punggung tangan Zia dengan penuh kasih sayang.
Zia gak tahan lagi menahan air matanya, gadis itu pun terisak secara perlahan dan meneteskan air matanya.
"Kemarilah!" Sifa menarik tangan Zia yang di genggam olehnya secara perlahan, kemudian membawa Zia ke dalam pelukannya.
"Menangislah, Zi. Menangislah. Luapkan semuanya, menangislah," bisik Sifa sambil mengusap punggung Zia dengan lembut.
"Maaf, Mbak, hiks... tidak seharusnya aku menangis di hari bahagia, Mbak. Tapi ... Hiks .." Zia terisak dan tak sanggup melanjutkan kembali kata-katanya.
"Tidak, Zi. Jangan minta maaf, kamu tidak salah, aku yang salah. Aku yang memaksa kamu untuk meluapkan semaunya. Jadi, menangislah sampai hati kamu merasa tenang."
__ADS_1
Ya, Sifa hanya menyuruh Zia menangis, bukan mengintrogasi gadis itu dan bertanya apa yang sebenarnya terjadi, sehingga membuat Zia menangis seperti ini. Sifa hanya ingin menenangkan Zia dan membuat gadis itu merasa lega saja, bukannya ingin menekannya dengan pertanyaan.
Abash dan Arash yang hendak ingin masuk ke dalam ruang inap Sifa pun, berhenti di depan pintu dan memutar langkah mereka untuk menjauh dari ruangan tersebut.
"Apa yang terjadi, Rash? Apa yang telah kamu lakukan kepada Zia?" tanya Abash menatap tajam ke arah kembarannya itu.
"Aku tidak tahu," jawab Arash jujur.
Ya, dia memang tidak tahu kan apa yang terjadi kepada Zia? Sehingga membuat gadis itu menangis sesenggukan seperti tadi.
"Mustahil kamu gak tahu, Rash. Katakan, apa yang terjadi?" tanya Abash tegas.
"Sungguh, Bash, aku gak tahu. Aku berani sumpah, jika aku tidak tahu kenapa Zia bisa menangis seperti itu," ujar Arash dengan sungguh-sungguh, bahkan pria itu sampai berani bersumpah.
"Ingat, Rash, jika kamu tidak bisa membuatnya bahagia, maka lepaskanlah dia. Biar Zia bahagia dengan orang yang mampu membahagiakannya. Zia itu istri kamu, bukan baby sister, Rash," tegur Abash. "Kamu harus ingat kewajiban kamu sebagai seorang suami."
Arash diam. Apa yang dimaksud oleh Abash sebenarnya adalah di mana pria itu harus memberikan nafkah batin kepada Zia, bukan hanya nafkah lahir saja.
Ya, selama ini Arash memang memberikan uang kepada Zia, sebagai bentuk pemberian nafkahnya. Tapi, pria itu sedikit pun tidak pernah menyentuh Zia, bahkan mengecup kening gadis itu saja hanya untuk sekedar berpamitan, tidak dia lakukan.
Arash mengabaikan nafkah batin yang seharusnya dia berikan kepada Zia. Tapi, balik lagi ke persyaratan pernikahan awal mereka, di mana Arash menawarkan perjanjian pernikahan yang di setujui oleh Zia. Untuk itulah, Arash merasa tidak memiliki kewajiban untuk memberikan nafkah batin kepada istrinya itu.
"Sebagai seorang kembaran, aku hanya mengingatkan kamu saja, Rash, agar kamu tidak mengabaikan tugasmu sebagai seorang suami."
__ADS_1