Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 377


__ADS_3

Sifa mengulum bibirnya, di saat melihat tubuh sang suami sudah di basahi oleh keringat. Padahal, Abash hanya membuka jepitan rambut yang ada di kepalanya, bukan lari maraton. Tapi, wajah dan tubuh pria itu sudah dipenuhi oleh keringat.


Sifa merasa bagaikan mendapatkan oksigen yang melimpah, di saat kepalanya sudah terlepas dengan sempurna oleh jepitan-jepitan rambut yang seolah menjambak rambutnya itu.


"Huff, rasanya lega banget, Mas," ujar Sifa tersenyum lebar.


Abash menghela napasnya pelan, wajah pria itu terlihat sudah dipenuhi oleh keringat.


"Mas, kamu kenapa?" tanya Sifa yang sudah mengulum bibirnya.


Hanya melepaskan jepitan rambut Sifa sebanyak sepulu jepitan, membuat Abash harus menghabiskan waktu sekitar hampir satu jam. Bahkan tubuh pria itu sudah dipenuhi oleh keringat, sehingga membuat kaos putih yang dia kenakan pun basah.


"Gak papa," jawab Abash sambil membersihkan wajahnya dengan tisu.


"Badan kamu sudah penuh keringat, Mas, sebaiknya kamu mandi dulu," saran Sifa yang sudah bergerak untukk menyiapkan handuk suaminya itu.


"Masa sih?" Abash melihat penampilannya.


Benar saja, tubuhnya sudah basah kuyup karena bermandi keringat, padahal suhu ruangan tersebut terbilangn cukup sejuk.


"Kenapa kamu senyum-senyum?" tanya Abash yang sudah melihat wajah sang istri di cermin.


"Hmm? enggak kok, aku gak senyum-senyum," bohong Sifa yang sebenarnya sangat terlihat sekali, jika gadis itu tidak bisa menyembunyikan kedutan pada sudut bibirnya.


Abash menuntun tubuh Sifa untuk menghadap ke arahnya.


"Kamu pasti lagi ketawain aku, kan? Karena sudah satu jam lebih aku belum selesai membuka jepitan rambut kamu?

__ADS_1


Ya, sampai detik ini Abash belum juga selesai membuka jepitan rambut sang istri. Bahkan, saat ini rambut Sifa sudah terlihat mengembang bagaikan rambut singa.


"Lagian kamu itu lucu banget sih, Mas? Masa buka jepitan rambut aja sampai Berjam-jam?" kekeh Sifa yang sudah tidak sanggup lagi menahan tawanya.


"Sifaa .... kamu gak tau betapa takutnya aku menyakiti kamu, sayang," lirih Abash dengan bibir yang dicemberutkan.


"Aku takut kamu terluka, sayang. Aku takut rambut kamu tertarik dan membuat kamu kesakitan," akui Abash.


Sifa menghela napasnya pelan, gadis itu tidak tahu, jika Abash begitu menyayanginya, sehingga pria itu sampai tidak tega membuatnya dirinya merasakan rasa sakit.


"Maaf, Mas, aku gak tahu kalau kamu sebesar itu berusaha untuk tidak membuat aku kesakitan. Aku pikir, kamu merasa kebingungan saat melepaskan jepit rambutnya, Mas," ujar Sifa yang sudah menangkup pipi sang suami.


Andai saja Sifa tahu, jika apa yang dikatakan oleh wanita itu tidak sepenuhnya salah.


Ya, alasan lain yang membuat Abash membutuhkan waktu lama untuk melepaskan penjepit rambut yang ada di kepala Sifa adalah karena pria itu bingung, bagaimana cara melepaskannya.


"Gak papa, sayanh. Yang terpenting sekarang kamu tahu, kan? kalau aku itu sangat menyayangi kamu dan tidak tega jika harus menyakiti kamu, sayang."


Sifa dan Abash pun saling memandang satu sama lain, hingga tangan hangat dan besar milik Abash, terangkat untuk mengusap pipi Sifa yang merona.


"Kamu cantik sayang, walaupun saat ini rambut kamu seperti singa," puji Abash.


Tunggu, sebenarnya ini pujian atau ngejek sih?


"Maasss?" rengek Sifa karena Abash mengatainya singa.


Sifa pun dengan cepat menoleh ke arah kaca, benar saja, jika rambutnya sudah benar-benar hampir mirip dengan Sifa.

__ADS_1


Abash kembali mengulurkan tangannya dan menarik pipi Sifa untuk kembali menatap ke arahnya.


"Seperti yang aku katakan tadi, walaupun rambut kamu mirip singa, tapi kamu tetap terlihat cantik di mata aku, sayang. Aku tidak peduli bagaimana rambut kamu, atau penampilan kamu. Asal gadis berambut singa ini masih sama dengan Sifa yang aku kenal. Dan aku sangat mencintai kam, sayang."


Abash mengusap pelan wajah Sifa yang merona, detik selanjutnya, pria itu mendekatkan wajahnya ke wajah sang istri. Sifa memejamkan matanya, di saat merasakan benda kenyal dan basah sudah menempel di bibirnya. Perlahan, Sifa pun membalas setiap gerakan bibir Abash yang menari di atas bibirnya.


*


Zia tersenyum kepada sang kakak, di saat wanita hamil itu tengah menghampirinya.


"Mbak sudah tahu semuanya," ujar Putri yang mana membuat Zia mengernyitkan keningnya.


"Tahu apa, Mbak?" tanya Zia bingung.


"Kamu yang membantu Sifa untuk melamar Abash, kan?" tebak Putri yang di jawab dengan senyuman oleh Zia.


"Iya, Mbak."


"Sejak kapan kamu dekat dengan Sifa? Kok Mbak gak tahu?" tanya Putri penasaran.


Sejak kapan?


Zia tersenyum kecil. Pertanyaan Putri kembali mengingatkan Zia pada hari itu.


Ya, pada hari Arash menaikkan bendera perperangan dengan Zia. Dan saat itu, Sifa datang menghampiri Zia. Wanita itu menarik tubuh Zia ke dalam pelukannya.


Ya, Sifa adalah tempat sandaran, di mana Zia menangis saat itu.

__ADS_1


"Kok diem sih? Bikin penasaran Mbak aja," kekeh Putri.


"Aku tidak tahu sejak kapan, Mbak. Intinya hubungan kami berjalan begitu saja," akui Zia yang tidak ingin Putri tahu, jika dirinya dan Arash tidak akan pernah damai.


__ADS_2