Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 178 - Aku Siap


__ADS_3

Acara sudah selesai, Sifa pun ikut membantu membersihkan ruang tamu yang dijadikan tempat untuk berkumpul para tamu Mama Kesya.


"Sifa, sudah, entar biar dibersihkan dengan pelayan aja," larang Mama Kesya yang sedari tadi melihat jika Sifa tidak berhenti bekerja membersihkan ruma.


"Gak papa, Tante, sedikit lagi kok," jawabnya.


"Sifa, Tante suruh kamu ke sini bukan untuk bersih-bersih, ya," ketus Mama Kesya yang mana akhirnya membuat Sifa menghentikan pekerjaannya.


"Ayo, kita kumpul di ruang tengah," ajak Mama Kesya yang diangguki oleh gadis itu.


Sifa pun mengikuti Mama Kesya yang sudah duluan berjalan di depannya.


"Sifa, sini duduk," panggil Quin sambil menebuk tempat di sebelahnya.


"Serius? Kue Sus-nya Putri yang buat?" tanya Lucas yang sedari tadi mulutnya tidak berhenti mengunyah.


"Iya, ih, dari tadi itu aja yang di tanyain," kesal Quin.


Sifa memasang telinga dengan baik, setiap orang yang memakan kue sus buatan Putri pasti langsung memuji betapa enaknya kue tersebut. Sifa pun juga mengakui hal tersebut, jika kue sus buatan Putri memang terasa enak.


"Waah, ternyata pinter bikin kue juga si Putri," puji Lucas.


"Huum, brownis bikinannya tadi juga menggunakan bahan yang seadanya aja. Tapi, rasanya mantap, kan?" ujar Quin.


"Iya, gak pakai susu kan ya. Waah, bisa di jadiin calon mantu nih, Ma," goda Fatih kepada Mama Kesya.


"Kamu ini, suka banget menjodoh-jodohkan orang. Ntar kalau kamu di jodohi nangis," ledek Mama Kesya.


"Kalau di jodohinya dengan Layca sih, Fatih mau, Ma," kekehnya.


"Itu sih maunya kamu, tapi gak dengan Ica," cibir Mama Kesya yang mana membuat Fatih tertawa terbahak-bahak.


"Sifa, kamu tidur di sini aja, ya," bujuk Mama Kesya.


"Jangan, Tan, Sifa pu---,"


"Gak terima penolakan. Pokoknya malam ini kamu tidur di sini. Lagi pula, besok libur kan?" potong Mama Kesya.


Sifa tak memiliki alasan untuk menolak, dengan terpaksa gadis itu pun menganggukkan kepalanya.


Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam, tetapi keluarga Moza itu masih asyik bercengkrama sambil mendengar cerita Fatih dan Lucas.


Sifa pun permisi untuk menerima panggilan masuk dan beranjak ke dapur.


"Assalamualikum, Mas?" sapa Sifa kepada orang yang berada di seberang panggilan.


"Walaikumsalam. Kamu di mana?" tanya Abash.


"Masih di rumah Mas. Di suruh nginap sini sama Tante Kesya."


"Waah, curang banget, Mama. Lagi gak ada aku aja di suruh nginap kamu-nya," kekeh Abash. "Minta tidur di kamar aku, ya," goda Abash.


"IIh, gak lah. Gak mau, ntar di kira aku apaan lagi inta tidur di kamarnya, Mas," tolak Sifa.


"Kamu 'kan calon istri aku," jawab Abash yang mana membuat sifa tersenyum dengan malu.


Andai saja Abash ada dihadapannya saat ini, mungkin pria itu sudah menggodanya sekarang.

__ADS_1


"Tunggu aku selesai kuliah dulu, ya," pinta Sifa.


"Iya, tapi aku akan umumkan hubungan kita setelah kasus ini selesai," ujar Abash.


"Mas, kok gitu sih?" tolak Sifa.


"Aku gak mau orang salah paham dengan hubungan aku dengan Putri. Aku hanya ingin semua orang, terutama keluarga aku, kalau kamu itu calon istri aku," tegas Abash yang mana lagi-lagi membuat Sifa tersipu malu.


Untungnya sang kekasih tidak melihat wajah meronanya saat ini, jika tidak, bisa di pastikan jika Abash akan menggodanya terus-terusan.


"Kita bicarakan nanti saja ya, Mas," pinta Sifa akkhirnya.


"Oke. Tapi tetap saja kamu harus mempersiapkan diri kamu dari sekarang untuk menjadi calon istri aku," ujar Abash yang di jawab 'iya' oleh Sifa.


"Sifa, udah dulu ya," pamit Abash karena melihat Putri sudah mendekati mobilnya.


"Iya, Mas. Mas hati-hati ya."


"Iya, miss u."


"Miss u too, Mas," ujar Sifa dengan tersenyum malu.


Sifa pun kembali bergabung dengan yang lainnya.


"Telponan sama siapa? Pacar?" tanya Quin dengan menggoda saat Sifa sudah duduk di samping wanita itu.


"Enggak, Mbak, cuma teman yang iseng aja," jawab Sifa dengan tersenyum malu.


"Boong banget, pasti dari pacar, kan?" goda Quin.


"Doain aja ya, Mbak, tapi jangan ribut-ribut," bisik Sifa yang mana hal tersebut pun jadi rahasia mereka berdua.


"Siapa? Mbak kenal gak?" tanya Quin lagi.


"Emangnya Mbak kenal semua karyawan Pak Abash?" tanya Sifa yang di jawab gelengan oleh Quin.


"Karyawan Veer aja, Mbak gak kenal," kekeh wanita itu dengan pelan.


Ya, begitulah Quin. Dia tidak pernah tahu dan kenal karyawan yang bekerja di perusahaan milik keluarganya. Dan mereka juga tidak mengenal wanita itu--dulu.


Sekarang, siapa yang tidak mengenal Quin? Setelah identitas wanita itu pun di munculkan ke media.


Ponsel Quin berbunyi, menampilkan nama sang adik di sana. Quin pun membuka pesan yang masuk ke dalam ponselnya.


"Iih, lucuu," seru Quin yang mana mengambil perhatian semua orang.


Quin bergegas membuat panggilan video call kepada Abash.


"Abaash, bawa pulang yaa ...." pekiknya yang mana membuat Putri dan Abash tertawa.


Sifa dapat melihat senyuman sang kekasih yang terlihat lepas, belum lagi keakraban di antara Putri dan Abash, membuat rasa sakit itu kembali menusuk di dalam hati Sifa.


"Putri pelihara hewan Alpaca?" tanya Lucas dengan terkejut.


"Woow, sultan banget ternyata dia ya," sambung Fatih yang mana membuat Sifa mengernyitkan keningnya.


"Sultan? Emangnya sesultan apa Mbak Putri?" batin Sifa penasaran.

__ADS_1


Setelah seluruh keluarga bubar dan masuk ke dalam kamar masing-masing, begitu pun dengan Sifa. Dia pun mengambil ponselnya dan mencari tahu berapa harga satu ekor hewan alpaca yang cantik dan menggemaskan itu.


Sifa membelalakkan matanya di saat melihat nominal yang tertulis di sana.


"Se-seratus juga lebih?" lirihnya dengan gemetar.


"Wow, ternyata Mbak Putri bukan hanya kaya, tetapi memang kaya raya," lirihnya dengan lemah.


"Hmm, jauh banget sama aku yang doyannya makan tahu tempe."


Sifa terkejut di saat mendengar ponselnya berbunyi notif sebuah pesan masuk. Dengan segar dia membuka pesan tersebut di saat membaca nama sang kekasih.


"Belum, Mas udah tidur?" send.


*


Putri masuk ke dalam kamarnya, tak lupa dia membawa caca bersamanya untuk teman tidur.


"Ca, malam ini temani Mama tidur, ya. Mama takut kalau harus tidur sendirian," lirihnya sambil memeluk tubuh hewan berbulu itu.


Sedangkan Abash, pria itu sudah masuk ke dalam kamar tamu yang sudah di siapkan. Dia juga sudah mencuci mukanya sebelum tidur.


Di ambilnya ponsel dan mengecek beberapa laporan yang masuk ke dalam email, setelahnya dia membuka aplikasi chating dan mengirimkan pesan kepada sang kekasih.


"Sudah tidur?" send.


Cling ...


Bergegas Abash membuka pesan yang masuk di saat melihat nama sang kekasih.


"Belum, Mas udah tidur?"


Abash pun langsung membuat panggilan video call untuk menatap wajah sang kekasih yang dirindukan.


"Assalamualaikum, Mas?" sapa Sifa dengan tersenyum manis.


"Walaikumsalam. Kenapa belum tidur?" tanya Abash.


"Baru masuk kamar, Mas. Tadi habis ngobrol di ruang keluarga."


"Oh, udah kamu kasih tau tanggalnya?" tanya Abash.


"Tanggal apa, Mas?" tanya Sifa bingung.


"Tanggal pernikahan kita," jawab Abash yang mana membuat Sifa kembali tersenyum malu dengan wajah merona.


"Maas," rengek Sifa yang sangat suka di dengar oleh Abash.


"Aku ingin segera mempersunting kamu, Sifa," lirih Abash dengan sungguh-sungguh.


Sifa menatap wajah sang kekasih yang terlihat bersungguh-sungguh mengatakannya dengan tatapan sendunya. Dia pun menghela napasnya pelan dan tersenyum lembut.


"Aku siap, Mas. Saat masalah ini selesai, aku siap kalau kamu ingin mengumumkan tentang hubungan kita ke semua orang," ujar Sifa kepada Abash, yang mana membuat pria itu terlilhat terkejut mendengarnya.


"Kamu serius?" tanya Abash memastikan.


"Iya, Aku serius, Mas. Aku tidak ingin kehilangan kamu."

__ADS_1


Ah, mungkinkah malam ini Abash akan tidur dengan nyenyak setelah mendengar kalimat manis yang keluar dari mulut sang kekasih?


Atau sebaliknya, malah tidak bisa tidur karena memikirkan bagaimana cara mengakhiri semua masalah yang sedang terjadi saat ini.


__ADS_2