Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 338


__ADS_3

London


Sifa sangat terkejut saat melihat siapa yang datang ke apartemennya. Walaupun dalam hati kecil gadis itu berharap jika Abash yang datang, tapi tidak menutup rasa bahagia di saat melihat ternyata Mama Kesya lah yang datang.


Sifa menyambut calon mertuanya itu dengan tersenyum lebar.


"Mama kenapa gak kasih kabar mau ke sini?" tanya Sifa saat mereka sudah duduk berdua di ruang utama.


Lalu, bagaimana dengan Arash? Pria itu sedang berjalan-jalan, menghilangkan rasa bosannya. Lagi pula, Arash ingin memberikan waktu kepada Mama Kesya dan Sifa untuk berdua saja.


"Mama sengaja ke sini, karena Mama rindu dengan kamu," ujar Mama Kesya yang tidak sepenuhnya berbohong.


Ya, selain ingin menggagalkan rencana Abash, tentunya Mama Kesya juga ingin melepas rindu dengan Sifa.


"Sifa juga rindu sama Mama," cicit Sifa dengan malu-malu.


"Kalau kamu rindu, peluk dong Mama," titah Mama Kesya dengan merentangkan kedua tangannya. Sifa pun mengangguk dan langsung berhambur ke dalam pelukan calon mertuanya itu.


"Lega banget rasanya saat sudah berada di dalam pelukan Mama," bisik Sifa sambil menghela napasnya dengan lega.


Ya, Sifa merasa lega, karena di London ini dia tidak mengenal siapapun. Bahkan, untuk berteman dengan yang lain, Sifa merasa malu, karena mereka semua berasal dari kalangan berada semua. Sifa takut, jika mereka mengetahui identitas dirinya yang asli, maka yg teman-temannya itu pada menjadinya, karena merasa tak level berteman dengan dirinya.


"Oh ya, Mama dengar Abash mau nyusul kamu ke sini?" tanya Mama Kesya pura-pura tidak tahu.


"Hah? oh, i-itu..."

__ADS_1


"Sifa, bukannya Mama ingin menjauhkan kalian berdua. Tapi, kamu tau sendiri kan bagaimana Abash? Dia pasti akan mengganggu waktu belajar kamu, sehingga membuat kamu menghabiskan waktu hanya untuknya." ujar Mama Kesya.


"Mama hanya ingin kamu fokus pada kuliah kamu, agar kamu bisa lulus dengan cepat dan segera menikah dengan Abash. Untuk itu Mama melarang Abash bertemu dengan kamu, sayang." Mama Kesya pun mengelus rambut panjang Sifa yang lembut.


"Kamu mengerti kan sayang, maksud Mama?"


"Iya, Ma. Sifa mengerti."


"Nah, makanya, kalau Abash ingin datang ke sini untuk mengunjungi kamu. Kamu larang ya," pinta Mama Kesya.


"Iya, Ma."


Di tempat lain.


"Hmm, kamu di mana, Put?" lirih Arash menatap satu persatu gadis yang lewat di dekatnya.


Sudah hampir satu jam Arash melihat orang yang lalu lalang di hadapannya, pria itu pun akhirnya bangkit dari duduknya dan kembali berjalan menuju apartemen Sifa. Sudah cukup kiranya dia mencoba berharap jika akan bertemu dengan sosok Putri.


"Miskaaa ... wait ..."


Seorang pria memanggil seorang gadis bernama Miska. Entah mengapa, Arash menghentikan langkah kakinya dan menoleh ke sekeliling. Jantungnya tiba-tiba saja berdebar dengan cepat, seolah merasakan keberadaan Putri di sekitarnya.


Arash kembali memperhatikan orang yang ada di sekelilingnya, akan tetapi, pria itu tidak menemukan sosok yang dia cari.


"Putri, di mana kamu?" lirih Arash dan mencoba menerima gadis-gadis yang memakai masker.

__ADS_1


Dengan lancangnya, Arash menyentuh bahu seorang gadis, sehingga membuat gadis itu berbalik dan menatapnya dengan sengit.


"Who are you?" tanya gadis itu dengan ketus.


Cukup melihat tatapan mata gadis itu, Arash tahu, jika itu bukanlah Putri.


"I'm sorry, i thought you were my fiancé," ujar Arash merasa bersalah.


Gadis itu pun kembali melanjutkan perjalannya, sehingga membuat Arash menghela napasnya dengan pelan.


"Miska, how about dinner?" tanya seorang pria kepada Miska, gadis berambut pirang dan bermata biru, mereka baru saja melewati Arash yang sedang termenung, karena berpikir jika Putri berada di dekatnya.


Deg ...


Miska, alias Putri, merasakan jantungnya berdetak dengan cepat, di saat melewati sosok pria tinggi dengan aroma parfume yang sangat lembut. Akan tetapi, aroma parfume itu bukanlah milik Arash.


Putri menghentikan langkahnya, dia berbalik untuk melihat siluet pria yang baru saja mereka lewati.


"Tidak mungkin Arash, kan? Aroma parfumenya berbeda," batin Putri yang merasakan keberadaan Arash di dekatnya.


"hey, what are you looking at?" tanya pria yang berjalan dengan Miska.


"Nothing," jawab Miska dan kembali melanjutkan langkahnya.


"Tidak mungkin dia Arash, parfume mereka berbeda," batin Putri yang berpikir jika pria yang dia lewati tadi memiliki posture tubuh yang sangat mirip sekali dengan Arash.

__ADS_1


__ADS_2