
Sifa benar-benar tak bisa tidur malam ini, karena dia terus memikirkan menu sarapan apa yang harus dia masak malam ini.
"Duh, Mas Abash kenapa gak bilang aja sih, Tante Kesya sukanya apa?" bingung Sifa sambil menggaruk kepalanya.
"Ayo Sifa, kamu harus tidur. Besok kamu harus bangun pagi untuk memasak makanan yang sempurna," gumam Sifa meyakinkan dirinya sendiri untuk tidur.
Sifa pun memejamkan matanya, lima menit kemudian dia menendang-nendang selimut dan bantal yang ada di dekatnya.
"Aaa ... besok harus masak apa?" rengek Sifa yang sudah galau gara-gara sang kekasih.
Di saat Sifa sedang galau dan bingung harus memasak apa untuk sarapan besok lagi, bahkan dirinya tidak bisa tidur semalaman, berbeda di apartemen Abash, pria itu tidur sangat nyenyak malam ini, karena setidaknya satu masalah sudah selesai.
Ya, setidaknya Mama Kesya sudah mengetahui hubungannya dengan Sifa.
*
"Terima kasih banyak, " ujar Putri kepada Arash.
Mereka baru saja mencari makana malam dengan menggunakan mobil baru Putri.
"Sama-sama, malahan dari tadi kamu terus yang nyetir, seharusnya aku yang bilang makasih," kekeh Arash.
Putri pun ikut terkekeh pelan, entah mengapa dia merasa Arash tak seburuk apa yang dia pikirkan. Ya, walaupun Arash terlihat suka tebar pesona dengan setiap wanita, akan tetapi pria itu tidak terlihat seperti Playboy sejati, yang mana selalu mengambil kesempatan jika bertemu dengan wanita.
Mereka berdua pun turun dari mobil, kemudian masuk ke apartemen secara bersama.
"Hai, Max," sapa Putri, sehingga membuat kucing itu langsung berlari ke arah gadis itu.
"Waah, sepertinya Max sayang banget sama kamu," ujar Arash sambil membelai kepala Max.
"Padahal kamu majikannya. Siapa suruh kamu sering tinggalin dia," ledek Putri.
"Namanya juga aku tinggal bersama orang tua. Kalau ke sini ya karena pulang malam atau kecapean aja," jawab Arash.
Drrtt .... Drrtt ....
Ponsel Arash pun berbunyi, pria itu meraih ponselnya yang ada di dalam kantong celananya.
"Mama," lirihnya pelan dan bergegas menggeser tombol hijau untuk menjawab panggilan tersebut.
"Assalamualaikum, Ma."
"Walaikumsalam. Arash, kamu di mana?" tanya Mama Kesya.
"Arash di apartemen, Ma."
"Eh, Max," ujar Putri saat kucing itu meloncat dari gendongannya.
"Loh, suara siapa itu? Kamu bawa pulang perempuan ke apartemen?" curiga Mama Kesya.
"Astagfirullah, Ma. Jangan asal nuduh deh, Arash gak gitu. Ini suara Putri, kebetulan tadi kami habis makan malam, makanya barengan."
"Putri? Jadi, Putri lagi sama kamu?" tanya Mama Kesya.
"Iya, Ma. Biasa aja nada ngomongnya," ujar Arash sambil terkekeh.
"Oh, tolong kamu bilang ke dia ya, hari minggu suruh ke rumah," titah Mama Kesya.
__ADS_1
"Ada acara apa, Ma?"
"Arisan. Bilang ke Putri, ya."
"Mama aja deh yang bilang. Bentar, Arash kasih hapenya ke Putri dulu."
"Put, Mama aku mau ngomong sama kamu," ujar Arash sambil memberikan ponselnya kepada gadis itu.
"Sama aku?" Dengan ragu, Putri pun mengambil ponsel milik Arash dan menempelkannya di telinga.
"Assalamualaikum, Tante."
"Walaikumsalam, Put. Apa kabarnya kamu?" tanya Mama Kesya .
"Alhamdulillah, baik, Tante. Tante gimana kabarnya?" tanya Putri balik.
"Alhamdulillah, baik juga. Oh ya, hari Minggu ini kamu ada acara, Gak?"
"Eng, gak ada, Tan. Kenapa ya, Tan?"
"Itu, kebetulan di rumah ada arisan, kamu ke rumah ya, bantuin Tante. Mau kan?" tanya Mama Kesya.
"Boleh, Tante. Jam berapa?"
"Arisannya sih jam-jam tiga gitu lah, jadi, kamu bisa datang jam-jam sembilan, bisa kan?"
"Insya Allah, Tante."
"Ya sudah kalau gitu, Tante tunggu ya."
"Iya, Tan."
"Ya, Ma?"
"Eh, itu hari Minggu, Putri pergi ke sini sama kamu, ya. Kamu jemput dia," titah Mama Kesya.
"Insya Allah, Ma. Soalnya Arash kan dinas malam. Takutnya terlambat buat jemput Putri."
"Iya, kalau sempat kamu jemput, ya. Kasihan dia cewek, harus bawa mobil sendiri."
"Iya, Ma. Iya. Arash usahain, ya."
"Ya sudah kalau gitu. Mama tutup dulu, Ya. Assalamualaikum."
"Walaikumsalam."
Arash pun menyimpan ponselnya kembali ke dalam saku celananya.
"Mama minta aku jemput kamu hari Minggu," ujar Arash seolah mengetahui apa yang ingin Putri tanyakan, cukup melihat dari wajah gadis itu saja.
Putri dan Arash lun masuk ke dalam apartemen, gak lupa mereka menyapa satpam hangat ada di sana, bahkan Putri sempat membelikan martabak bulan untuk para satpam yang berjaga.
"Untuk cemilan Malam, Pak," ujar Putri.
"Waduh, Mbak Putri. Jadi ngerepotin. Tapi, terima kasih ya ini martabaknya."
"Iya, Pak. Sama-sama."
__ADS_1
Putri dan Arash pun kembali melanjutkan langkahnya masuk ke dalam lift, dengan berbincang ringan dengan Arash, mereka pun tiba di apartemen masing-masing.
Di tempat lain, Mama Kesya sudah tersenyum penuh arti.
"Abash dengan Sifa, Arash dengan Putri. Duh, gak sabar buat bikin lamaran ke Mbak Nayna," lirih Mama Kesya dengan penuh harap.
*
Sifa benar-benar tak bisa tidur malam ini, gadis itu pun akhirnya memilih untuk membaca novel yang berjudul 'Gadis Bermata Kucing' karya Rira Syaqila.
Baru saja mata Sifa ingin terpejam, tiba-tiba terdengar suara azan subuh, sehingga membuat Sifa kembali terjaga dari tidurnya. Gadis itu pun bergegas bangkit untuk melaksanakan sholat subuh.
Setelah solat, Sifa pun bergegas pergi ke dapur untuk melihat bahan makanan apa saja yang tersedia, sehingga akhirnya Putri pun memilih nasi goreng jamur dan ikan yang di panggang di atas teflon dan di lumuri oleh bumbu kuning.
Untuk dirinya sendiri, Sifa memasak tumis toge jamur dan tahu.
"Hmm, semoga aja Tante Kesya suka," harap Sifa dengan cemas.
Setelah masak, Sifa pun kembali ke dalam kamar, kemudian membersihkan dirinya dan bersiap untuk berangkat kerja.
Baru saja Sifa keluar dari kamar, suara bel pun terdengar sehingga membuat gadis itu bergegas untuk membuka pintu.
"Pagi, sayang," sapa Abash dengan tersenyum lebar.
Sifa melihat ke arah kiri dan kanan Abash, kemudian gadis itu keluar dari apartemen untuk melihat keberadaan Mama Kesya.
"Hei, kok aku di cuekin?" ujar Abash merajuk.
"Tante Kesya mana?" tanya Sifa.
"Mama?"
Sifa pun menganggukkan kepalanya dengan wajah polos. Abash pun terkekeh pelan, kemduian pria itu mendorong tubuh sang kekasih untuk masuk ke dalam apartemen.
"Mas, jangan gini. Kalau Tante Kesya datang trus lihat kita gimana?" ujar Sifa dengan panik.
"Biarin aja," jawab Abas dengan tersenyum tipis.
"Mas."
Cup ...
Satu kecupan pun mendarat di sudut bibir Sifa.
"Mas," tegur Sifa lagi dengan merajuk dan wajah panik.
"Mama gak ada. Semalam Mama udah pulang. Maafin aku, ya," Ujar Abash sambil membelai pipi Sifa dengan lembut.
"Iih, kamu nyebelin banget sih," rengek Sifa sambil memukul Abash bertubi-tubi.
"Iya .. iya ... maaf ya," mohon Abash dan memeluk tubuh sang kekasih.
"Hiks, gara-gara kamu bilang Mama mau ke sini, aku jadi gak bisa tidur semalaman tau, hiks .." tangis Sifa dalam pelukan Abash.
Abash pun merasa bersalah dan terus mengusap punggung sang kekasih.
"Iya, maafin aku, ya," mohon Abash dan mengecup pucuk kepala Sifa.
__ADS_1
"Hiks, jangan di ulangi lagi," rengek Sifa.
"Iya, aku janji gak akan mengulanginya lagi."