
Arash melajukan motornya dengan kecepatan sedang, pria itu pun mengikuti maps yang ada di ponselnya. Sepanjang perjalanan pun gak ada percakapan antara dirinya dan Putri, hingga mereka pun tiba di kantor firma hukum, di mana Putri mengais rezeki.
"Ini, makasih ya," ujar Putri sambil mengulurkan selembar uang lima puluh ribu.
"Eh, gak usah, gratis buat kenalan," kekeh Arash.
"Mana bisa gitu, ini," ujar Putri sambil mengulurkan kembali selembar uang lima puluh ribu rupiah.
"Aku serius. Kalau Mama tau aku ambil uang dari kamu, pasti mama bakal marah sama aku," kekeh Arash.
"Tapi---,"
"Bisa aku minta helmnya?" potong Arash.
"Helm? Oh, ya." Putri pun berusaha melepaskan kaitan tali pada helm, akan tetapi dia tak bisa melepaskannya.
"Sini, aku bantu lepasin," ujar Arash.
"Hah? Ah ya, boleh." Putri pun mendekat ke Arash, membiarkan pria itu melepaskan kaitan helm yang masih dia gunakan.
"Sudah," lirih Arash sambil melepaskan helm yang ada di atas kepala Putri.
"Terima kasih," ujar Putri. Gadis itu pun dengan cepat meletakkan selembar uang lima puluh ribu ke dalam kantong jaket Arash, kemudian dia bergegas menjauh dari pria itu.
__ADS_1
"Put, ini kok?"
"Terima kasih," ujar Putri sambil melambaikan tangannya.
Arash pun menghela napasnya pelan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Dasar si Putri," cibirnya dan melihat uang yang di berikan oleh gadis itu. "Lumayan lah, bisa buat isi minyak."
Arash pun melakukan motornya meninggalkan kantor Putri, pria itu pun memilih untuk mencari beberapa pelanggan lainnya.
*
"Mas yakin kita pergi bareng sampai ke kantor?" tanya Sifa dengan ragu.
"Iya, kenapa memangnya?" tanya Abash.
"Biarin aja," jawab Abash cuek.
Pria itu mengingat bagaimana Bimo menatap Sifa penuh damba, rasanya ingin sekali Abash mencongkel mata pria itu. Belum lagi anak buahnya yang lain berbondong-bondong ingin menjodohkan Sifa dengan Bimo. Pria mana yang bisa diam saja jika melihat wanitanya di jodohkan dengan pria lain tepat di depan mata.
"Mas," lirih Sifa dengan manja. "Mas gak lupa kan sama janji, Mas? Aku gak mau loh, kalau saat aku ujian nanti, semua nilai dan usahaku jadi bahan gosipan. Aku gak mau," ujar Sifa.
"Aku tau. Tapi, Bimo itu suka sama kamu," rengek Abash.
__ADS_1
"Iya, tapi kan aku gak suka sama dia, Mas. Mas percaya kan sama aku?" bujuk Sifa.
"Hmm, Sifaaa...." geram Abash sambil meremas rambutnya.
"Mas..."
"Iya ... iya ... kita gak akan pergi ke kantor bareng," ujar Abash akhirnya mengalah.
"Makasih, Mas," Sifa pun tersenyum kepada sang kekasih.
"Ingat, jangan tunjukkan senyuman itu ke orang lain. Aku gak suka," ancam Abash dengan nada cemburunya.
"Iya, Mas. Aku gak akan tebar senyuman dengan pria lain. Cukup sama kamu aja ya," ujar Sifa.
"Nah gitu dong." Abash pun mengusap kepala Sifa dengan sayang, kemudian pria itu membenarkan kembali rambut sifa yang sedikit kusut.
"Aku turun di sini ya," pamit Sifa.
"Hmm, iya," jawab Abash dengan gak rela.
Dari beberapa meter mobil Abash, Amel pun terus memperhatikan pergerakan Sifa dan Abash.
"Dasar pelakor," desis Amel dengan menatap tajam ke arah Sifa yang sudah turun dari mobil.
__ADS_1
Sifa pun memanggil ojek online yang kebetulan lewat di sana, gadis itu naik ke atas motor untuk menuju ke kantornya, sedangkan Abash mengikuti Sifa dari belakang.
"Huff, kenapa tukang ojeknya harus laki-laki sih?" geram Abash menahan sesuatu yang panas di dalam hatinya.