
"Mbak, kue-nya udah Putri susun ke piring ya, udah Putri tutup juga dengan plastik wrap," ujar Quin yang mana membuat semua orang menoleh ke arahnya.
"Putri, kue buatan kamu ternyata lebih enak dari kue buatan, Mbak," ujar Quin yang mana membuat Putri mengernyitkan keningnya.
"Maksudnya?"
"Abash suka kue sus buatan kamu," ujar Quin yang mana tanpa wanita itu sadari, ada hati yang terluka.
Putri melirik ke arah Sifa, gadis terlihat sedang menatap sang kekasih, sehingga Putri bisa langsung memahami perasaan gadis itu.
"Mbak bisa aja. Putri cuma ikuti apa yang Mbak bilang aja kok, jadi secara tak langsung semuanya itu buatan, Mbak," ujar Putri dengan tersenyum kikuk.
"Tapi, tadi Mbak lihat kamu ada tambah sesuatu di dalamnya. Dan Mbak gak pernah loh pakai itu," ujar Putri. "Jadi, resep itu berubah saat di tangan kamu, dan artinya itu buatan kamu," sambung Putri.
"Ya kan, Ma?"
"Iya," jawab Mama Kesya dengan tersenyum.
"Putri belajar kue dari mana?" tanya Mama Kesya. "Pasti dari Mama kamu ya?" tebaknya.
"Iya, Tante, dari Mama. Tapi, lebih sering Putri belajar buat kue-nya dari Opa Muklis," ujar Putri.
"Opa Muklis?" tanya Mama Kesya.
Setau Mama Kesya, orang tua dari Papa Satria bukan bernama Opa Muklis.
"Opa Muklis itu ayahnya Mama, Tante," ujar Putri seolah tahu jika wanita paruh baya yang ada di hadapannya saat ini pasti sedang bingung dengan siapa Opa Muklis sebenarnya.
"Oh, iya .. iya .. Maaf ya, Tante gak tau.".
"Gak papa, Tante."
Mama Kesya menoleh ke arah lain, sehingga wanita paruh baya itu pun dapat melihat Sifa yang sedang berdiri termenung di sana.
"Loh, Sifa. Kamu di sini juga? Kok malah termenung gitu?" tegur Mama Kesga.
"Eh, Tante, iya. Ah ya, ini ada lagi yang bisa Sifa kerjain?" tanya Sifa mencari kesibukan.
"Gak ada lagi, semua sudah selesai. Kamu duduk aja bareng Quin dan Putri, ya," titah Mama Kesya yang di angguki oleh Sifa.
Abash mengambil satu piring kue sus dan membawanya pergi, tak pula pria itu menatap ke arah sang kekasih dan mengedikan kedua matanya seolah sedang memberi isyarat cintanya.
__ADS_1
"Quin, bikinin pizza dong?" pinta Fatih yang baru saja tiba.
"Kamu ya, datang-datang malah suruh bikin makanan. Makan apa yang ada aja," titah Quin dengan kesal.
"Kamu tau kan, aku gak suka susu. Kue sus kan buatnya pake susu, aku gak mau. Buatin aku pizza?" rengek Fatih persis seperti anak kecil.
"Ih, Fatih. Malu sama Sifa dan Putri," tegur Quin.
"Gak peduli, buatin aku pizza!" rengek Fatih lagi yang mana membuat telinga Quin berdengung.
"Oke-oke, aku buatkan. Udah sana, jangan ganggu aku," usir Quin yang mana tidak di dengar oleh Fatih.
"Aku tungguin di sini aja, sekalian mau kenalan sama siapa ini?" tanya Fatih sambil menunjuk ke arah Putri.
"Putri, Mas," jawab Putri.
"Jangan panggil, Mas, panggil Abang aja. Abang Fatih," ujar Fatih sambil mengulurkan tangannya yang di terima oleh Putri.
"Aku bilangin Ica baru tau rasa kamu," ancam Quin.
"Jangan dong, aku kan cuma mau kenalan sama adik ipar aja," kekeh Fatih.
"Pacar siapa? Arash atau Abash?" tanya Fatih dengan nada menggoda.
"Sifa, kamu ikut bantuin bikin pizza ya, kita bikin yang banyak untuk makan di taman belakang rame-rame," ajak Quin yang di angguki oleh Sifa.
"Putri, kamu tau adonan pizza kan? Kamu yang adon ya," Titan Quin yang di angguki oleh Putri.
Quin pun berjalan menuju lemari pendingin, kemudian wanita itu mengambil paprika, bawang bombay, saus spageti barbeque, dan juga sosis.
Quin berbalik membawa semua bahan-bahan tersebut ke dekat Putri.
"Sifa, tolong tolong potong-potong Sosis ya," titah Quin yang mana membuat Putri menoleh ke arah tangan wanita itu.
Tubuh Putri langsung bergetar, dalam pandangannya kembali teringat akan jari yang berlumuran darah, sehingga membuat gadis itu menutup telinganya dan berteriak.
"Aaaaa ...." pekik Putri yang mana membantu Quin, Sifa, dan juga Fatih terkejut.
Abash yang memang sedang berjalan menuj dapur untuk mengembalikan piring bekas keu sus yang dia makan pun, langsung meletakkan piring tersebut dan menutup mata Putri dengan tangannya.
Sifa yang melihat betapa sigapnya Abash untuk menenangkan Putri pun, membuat hatinya terasa sakit dan nyeri.
__ADS_1
"Tenang, Put, aku di sini, tenang ya," bisik Abash sambil mengusap punggung gadis itu dan memeluknya.
Quin dan Fatih saling melirik, dalam hati berpikir jika Putri adalah wanita yang sedang di taksir oleh Abash. Padahal, awalnya Quin sempat berpikir jika Abash tertarik dengan Sifa. Melihat bagaimana Abash dengan cepat melindungi Putri, membuat dugaan wanita itu pun berubah.
Semua itu di dukung dengan foto yang tersebar beberapa hari lalu. Di mana Abash menggenggam tangan Putri dan membawanya masuk ke dalam mobil.
"Ada apa?" tanya Mama Kesya dengan panik, saat mendengar suara teriakan.
Abash menoleh ke arah Mama Kesya, di belakang wanita paruh baya itu ada Naya yang baru saja datang dan berjalan dengan tergesa.
"Nah, tolongin Putri," pinta Abash yang langsung di angguki oleh Naya.
Abash pun menuntun Putri untuk ikut bersamanya, di mana gadis itu masih sesenggukan dengan tubuh yang bergetar hebat.
"Mbak, tolong jangan kasih lihat sosis ke Putri, ya. Soalnya dia ada trauma dengan sosis," ujar Naya yang langsung di angguki oleh Quin.
Quin pun bergegas mengambil kembali sosis tersebut dan menyimpannya kembali ke dalam kulkas.
"Sifa, tolong ambilin air gula ya," pinta Naya yang di angguki oleh gadis itu.
Setelahnya, Naya pun mengikuti Abash dan Putri yang sudah berjalan duluan menuju kamar tamu.
Abash membaringkan tubuh Putri di atas kasur, akan tetapi gadis itu menolaknya.
"Gak mau, hiks ..." lirih Putri dan memeluk pinggang Abash.
Naya masuk ke dalam kamar dan melihat cara Abash menengahkan Putri. Pria itu mengusap lengan gadis itu dengan lembut dan membiarkan pinggangnya di peluk oleh Putri. Naya pun duduk di pinggir kasur di sebelah Putri.
"Mbak, tenang ya, tarik napas, buas pelan-pelan," titah Naya yang di ikuti oleh Putri.
"Lagi, ya, tarkm napas, buang pelan-pelan," titah Naya yang di turuti oleh Putri lagi.
Sifa pun masuk ke dalam kamar, lagi-lagi hatinya terasa sakit dan tertusuk-tusuk di saat melihat adegan yang ada di depan matanya saat ini. Di mana sang kekasih sedang di peluk oleh wanita lain.
Sifa pun meletakkan air yang di minta oleh Naya kebatas nakas yang ada di sebelah kiri Abash, kemudian gadis itu langsung berbalik karena tak ingin melihat adegan yang ada di depan matanya saat ini.
Langkah Sifa terhenti di saat lengannya di cekal oleh Abash, sehingga gadia itu menoleh ke arah sang kekasih yang juga sedang menatap ke arahnya.
Dapat Abash lihat, jika mata Sifa sudah berkaca-kaca menahan tangis. Pria itu tahu, jika saat ini pasti kekasihnya itu sedang cemburu. Bukannya bahagia, tetapi Abash malah merasa sakit melihat sang kekasih menahan rasa sakitnya itu sendiri.
Sifa menatap ke arah lengannya yang di cekal oleh Abash, sehingga membuat gadis itu ingin melepaskan tangannya dari cekalan tangan Abash.
__ADS_1
"Jangan pergi," lirih Abash yang hanya di dengar oleh Sifa.
Melihat tatapan mata sang kekasih, membuat Sifa tahu, jika Abash juga merasakan sakit yang sama dengannya.