
Mendengar suara tawa yang berasal dari orang lain, membuat Abash dan Sifa langsung menjaga jarak. Keduanya terkekeh pelan saat saling memandang.
Keduanya pun tersenyum malu. Tatapan mereka tertuju pada beberapa orang yang sedang bermain dan berlarian di pinggir pantai malam ini.
Abash sedikit kesal karena kehadiran orang-orang itu. Padahal dia sudah memerintahkan kepada pihak hotel untuk mengosongkan pantai ini di saat dia dan istrinya makan malam yang romantis.
"Ayo kita pulang, Mas," ajak Sifa.
Abash menganggukkan kepalanya dan menerima uluran tangan dari istrinya. Mereka kemudian kembali ke hotel.
*
Sifa menatap tampilan dirinya di cermin. Saat ini dia sudah mengenakan lingerie bermotif macan yang diberikan oleh Abash sebagai hukuman.
"Kenapa juga dia harus memilih yang ini sih?" gumam wanita itu terdengar kesal, tapi tidak ya dia tetap menggunakannya juga.
Ya, Sifa akhirnya memakai lingeri itu. Tidak terlihat seksi, memang, karena lingeri itu tidak bagian depan yang rendah, yang mana membuat sedikit squishi Sifa terlihat menyembul ke atas.
Jika lingeri pada umumnya memiliki tali spageti, tapi tidak dengan lingeri yang Sifa pakai saat ini, di mana bagian bahu hingga lengannya terdapat sedikit kain yang mampu menutupi ketiak wanita itu. Panjang lingeri itu itu pun mampu menutupi seluruh pahanya. Namun, yang membuat Sifa merasa sedikit risih di saat mengenakan lingeri itu adalah di saat Sifa berbalik untuk melihat bagian belakang tubuhnya, dia dapat melihat jika punggungnya terekspos dengan indah.
Ya, bagian depan memang tidak terlalu terbuka, seperti lingeri pada umumnya. Tapi, bagian belakang lingeri itu benar-benar membuat Sifa frustasi. Dia hanya takut jika mungkin saja akan masuk angin setelah ini.
"Huuf, Sifa, kamu pasti bisa melakukannya," lirih Sifa meyakinkan dirinya sendiri.
Setelah meyakinkan dirinya, Sifa pun keluar dari kamar mandi, wanita itu menghampiri sang suami yang sedang menunggunya di dalam kamar.
Abash menoleh ke arah suara pintu kamar mandi yang terbuka, pria itu benar-benar merasa terpukau dengan penampilan seksi sang istri untuk pertama kalinya. Di matanya benar-benar hanya Sifa yang terlihat seksi.
"Mas," tegur Sifa dengan wajah yang merona.
Abash benar-benar tidak bisa menutupi rasa kagum dan takjubnya. Bahkan, jagoannya pun ikut bergetar, seperti darahnya yang berdesir dengan hebat dan detak jantung yang bertalu-talu.
'Sabar, Sayang. Sabar.' batin Abash berbicara kepada dirinya sendiri.
Sifa berjalan semakin dekat ke arah sang suami. Di saat jarak mereka sudah tinggal selangkah, wanita itu tersenyum dan melingkarkan tangannya di leher Abash.
"Apa kamu menyukai penampilanku, Mas? Apa pakaian ini cocok untukku?" bisik Sifa dengan manja, meskipun dia sendiri geli dengan penampilan yang seperti ini. Akan tetapi, demi membuatkan suami bahagia dia akan melakukannya juga.
Tangan lentik Sifa pun bergerak turun membelai kancing baju Abash, memainkan jarinya naik dan turun di setiap kancing baju suaminya itu. Tak lupa, Sifa mendekat memberikan kecupan di leher sang suami.
"Ahh, sayang, kamu terlihat begitu seksi," bisik Abash dengan suara yang parau.
Abash mendesah pelan, di saat tangan lembut Sifa turun semakin ke bawah. Perlahan benda tersebut semakin membesar dan membuat Abash tidak tenang.
"Dan kamu sudah siap untuk bertempur, Mas?"
Abash membalikkan tubuh Sifa, memeluk tubuh wanita itu dari belakang. Perlahan, bibir Abash mendarat ke bahu Sifa, kemudian turun dan semakin turun ke punggung wanita itu yang tanpa terhalangi kain sedikitpun.
"Kamu sungguh wangi dan indah, sayang. Aku sangat menyukainya," bisik Abash sambil mengusap punggung Sifa dengan ujung telunjuknya. Hal itu membuat tubuh SIfa menegang saat merasakan telunjuk Abash yang ada di kulit punggungnya, seakan ada sebuah aliran listrik yang menyengat yang dirasakan oleh Sifa.
"Kamu sudah siap?" tanya Abash sekali lagi. Sifa hanya menganggukkan kepalanya.
"Aku siap, Mas. Aku siap jadi istrimu sepenuhnya."
Sifa pasrah dengan apa yang Abash lakukan kepadanya. Dia menerima apapun untuk bisa menjadi istri Abash sepenuhnya.
Dan malam ini, Abash kan menjadikan Sifa sebenar-benarnya istri sahnya. Menjadikan Sifa miliknya dan memberikan nafkah batin yang seharusnya sudah lama wanita itu dapatkan.
__ADS_1
"Akkhh …" Sifa meringis, di saat Abash berhasil memasukkan jagoannya ke dalam dirinya.
Air mata pun mengalir dari sudut mata Sifa, menandakan jika wanita itu benar-benar menahan rasa sakitnya. Abash jadi merasa bersalah melihat tangis Sifa yang seperti itu.
"Maafin aku, sayang, karena sudah membuat kamu merasakan sakit," lirih Abash.
"Jangan melepaskannya lagi, Mas, aku mohon, lanjutkanlah," pinta Sifa memeluk suaminya dengan erat.
"Ya, sayang. Aku tidak akan melepaskannya. Aku akan memberikan apa yang seharusnya sudah lama kamu dapatkan," ujar Abash. "Maaf, karena sudah membuat kamu menangis di malam ini."
"Tidak, sayang. Jangan meminta maaf, tangisan ini adalah tangisan kebahagiaanku, karena sekarang aku benar-benar sudah menjadi milikmu seutuhnya," lirih Sifa menahan rasa sakitnya yang semakin lama semakin menjadi.
Abash mencium kedua mata Sifa, kemudian turun ke hidung dan berakhir ke bibir. Abash membungkam bibir wanita itu, kemudian perlahan menggoyangkan pinggulnya.
Rintihan rasa sakit yang Sifa rasakan tadi pun, perlahan hilang setelah Abash berhasil menjebol gawangnya. Saat ini yang wanita itu rasakan adalah sebuah kenikmatan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.
Malam ini, akan menjadi malam yang panjang dan penuh arti bagi Sifa dan Abash. Meskipun telah mengalami rasa sakit yang dia rasakan, tapi dia tidak keberatan sama sekali karena ini sangat bahagia.
Sifa membuka matanya perlahan. Hal pertama yang dia lihat adalah wajah Abash yang sedang menatapnya dengan senyuman yang begitu indah dan lebar.
"Pagi," sapa laki-laki itu saat melihat sang istri sudah terbangun dari tidurnya.
"Pagi, Mas." sahut Sifa dengan wajahnya yang serak.
Abash terus memandang wajah Sifa dengan senyuman yang indah, membuat jantung Sifa berdegup dengan cepat di saat mengingat bayangan-bayangan yang terlintas di dalam pikirannya atas kejadian semalam.
"Kenapa kamu memandang aku seperti itu, Mas?" tanya Sifa dengan wajah yang merona.
"Kamu sungguh cantik, sayang," bisik Abash mengagumi wajah istrinya. Apalagi saat sinar matahari mengenai wajah yang ayu tersebut.
"Dasar pembohong. Mana ada orang bangun tidur cantik, Mas?" elak Sifa masih dengan wajah malu-malunya itu. Akan tetapi, dia juga mengakui jika wajah Abash sangat tampan di pagi ini.
"Maas, jangan begitu, aku jadi malu tau," cicit Sifa sambil menyembunyikan wajahnya dengan selimut. Hanya itu yang bisa dia lakukan untuk menghindar dari tatapan Abash,
Abash terkekeh pelan dan menarik turun selimut tersebut, sehingga membuat wajah Sifa kembali terlihat.
"Tapi aku benar-benar menyukainya, sayang. Aku sungguh menyukai ******* indahmu."
"Aku juga, Mas, aku juga menyukai suara ******* kamu yang berat. Membuat aku kepingin lagi di saat mengingatnya, Mas," cicit Sifa dengan malu-malu. Wajahnya kini memerah dan dia yakin jika Abash pun bisa melihat hal tersebut.
"Mau lagi?" tanya Abash yang di angguki pelan oleh Sifa.
"Bagaimana kalau kita mencoba hal yang baru, berbeda dari semalam?" tawar Abash yang tidak sabar untuk mencoba bercinta dengan Sifa di tempat yang lain.
"Maksud, Mas?"
"Ayo, bangunlah," pinta Abash sambil menarik tangan istrinya untuk turun dari tempat tidur.
Sifa menurut, pria itu pun langsung menggendong sang istri dan membawanya ke dalam kamar mandi. Sifa terkejut saat Abash menggendongnya. Refleks dia melingkarkan kedua tangan pada leher sang suami.
"Mas, kamu mau bawa aku ke mana?" tanya wanita itu saat Abash mulai membawanya menjauh dari ranjang dengan masih mengenakan selimut di tubuhnya.
Sebelum pergi dari sana, Abash melirik ke arah tempat tidur, di mana sprei itu telah ternoda dengan bercak merah dan ****** ***** mereka berdua. Abash tersenyum puas, karena akhirnya dia berhasil menjadikan Sifa sebagai seorang istri yang sempurna, dan secara tak langsung juga menjadikan dirinya sebagai seorang suami yang sempurna pula.
Abash membawa Sifa ke kamar mandi, membuat wanita itu membulatkan matanya.
"Mas, kamu mau apa?" tanya Sifa, di saat melihat Abash mengisi bath up dengan air hangat.
__ADS_1
"Nanti kamu juga akan tahu kok, sayang."
Setelah selesai mengisi bath up dengan air hangat dan menuangkan cairan aroma terapi.
Sifat mengerti dengan apa yang suaminya inginkan. Dia bukan anak kecil polos yang tidak tahu apa-apa soal ini. Apalagi semalam dia telah merasakannya.
Abash pun meminta Sifa untuk masuk ke dalam bathub.
"Masuk ke sini?" Sifa bertanya seakan dia tidak tahu keinginan suaminya sama sekali.
"Iya." Abash mengambil selimut yang ada di tubuh istrinya dan melemparnya dengan asal ke lantai sehingga tubuh wanita itu polos tak memakai sehelai kain pun.
Wanita itu menurut dan merendam tubuhnya yang terasa remuk di dalam air hangat tersebut. Nyaman sekali. Ah, seketika rasa lelah yang Sifa rasakan pun seolah lenyap dan menguap begitu saja. Sisa-sisa lelah yang dia rasakan akibat pertempuran semalam hilang begitu saja dengan air hangat yang kini merendam tubuhnya.
Abash tersenyum senang karena sang istri menuruti keinginannya. Dia segera menggerakkan tangannya untuk membuka pakaiannya.
Sifa menelan ludahnya dengan kasar, di saat melihat Abash membuka boxer yang menutupi jagoannya. Wanita itu refleks menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan akibat malu. Dia mengintip dari celah jemarinya yang lentik.
"Kenapa menutup wajah, sayang?" tanya Abash sambil menahan senyumnya.
"Aku malu, Mas," cicit Sifa sambil mengintip dari sela-sela jarinya.
"Malu tapi kok ngintip,sih? Mending lihat langsung aja. Lagi pula, ini kan bukan pertama kalinya kamu melihatnya, sayang," kekeh Abash.
"Maas …" lirih Sifa dengan malu. Seketika wajah Sifa pun semakin panas dan merona.
Abash perlahan memasukkan satu kakinya ke dalam bath up, kemudian di susul dengan kaki yang lain. Pria itu pun mendudukan dirinya berhadapan dengan sang istri yang masih menutupi wajahnya dnegan telapak tangan. Abash terkekeh melihat tingkah istrinya. Dia menarik tangan Sifa.
"Kemarilah, sayang, kenapa kamu malah tutup wajah kamu?" titah Abash dan meminta Sifa untuk duduk di atas pangkuannya.
Sebagai istri yang penurut, Sifa pun menuruti apa yang dikatakan oleh sang suami. Dia bergerak dan duduk di pangkuan Abash. Dapat Sifa rasakan kehangatan dari kulit paha Abash yang menyentuh bokongnya.
"M-maashh …" lirih Sifa, di saat Abash mulai meraba perut. Desir darahnya mengalir begitu deras sehingga membuat wanita itu bersuara keenakan.
"Kamu adalah milikku, sayang. Hanya milikku," bisik Abash sebelum memulai penyatuan mereka.
Abash dan Sifa telah mendapatkan pelepasannya. Sifa bergegas menarik handuk yang tersangkut di dekat bath up untuk menutupi tubuhnya.
"Mau ke mana?" tanya Abash di saat melihat sang istri sudah keluar dari bath up.
"Mandi, Mas," sahut Sifa tanpa melihat ke belakang.
Sifa terus berjalan menuju shower yang terletak tak jauh dari bath up. Wanita itu pun tidak menyadari, jika Abash sudah keluar dari bath up.
"Aku sabunin ya," bisik Abash yang sudah berada di belakang Sifa.
Sifa terkejut dan langsung memeluk tubuhnya sendiri. "Maass …" pekik Sifa pelan.
"Sini, aku bantu sabunin," bisik Abash lagi.
"Tidak, Mas, aku tidak mau," tolak Sifa dan menjauh dari sang suami.
"Kenapa tidak mau? Biar cepat, sayang. Ayo, sini, aku sabunin," tawa Abash lagi dengan wajah yang menggoda.
"Aku tau ya pikiran kamu, Mas. Kamu itu pasti mau kesempatan di dalam kesempitan kan?" ujar wanita itu dengan kesal.
"Nggak, Sayang. Cuma disabun aja kok. Beneran. Suwerrr. aku cuma bantu kamu buat mandi aja, paling towel-towel dikit nggak apa-apa kan?"
__ADS_1
"Massss!" teriak SIfa saat Abash dengan sengaja menyabuninya sambil bermain.