Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
S2 - Bab. 33 - Mustahil


__ADS_3

Mama Nayna tersenyum, di kala melihat Arash menggendong Zia keluar dari kamar pria itu. Saat terbangun dari tidur, Mama Nayna mencari keberadaan sang putri, akan tetapi dia tidak menemukan putrinya itu. Saat Mama Nayna keluar kamar, maka pemandangan pertama yang di lihat oleh Mama Nayna adalah Arash yang sedang menggendong Zia.


"Pagi-pagi lihat begini kan adem rasanya," goda Mama Nayna sambil tersenyum penuh arti.


"Apaan sih, Ma!" sahut Zia dengan wajah cemberut.


"Mama cuma senang aja melihat kamu ternyata berada di kamar yang sama dengan Arash. Lagi pula kalian ini suami istri, sudah sepantasnya tidur di kamar yang sama," ujar Mama Nayna menatap ke arah sang menantu.


Arash hanya tersenyum menanggapi perkataan Mama Nayna. Pria itu juga tidak tahu harus merespon seperti apa, agar Mama Nayna tidak merasa kecil hati jika dirinya masih menolak untuk tinggal sekamar dengan Zia.


Arash menurunkan Zia dari gendongannya dan mendudukkan gadis itu di sofa.


"Apa kalian sudah sholat subuh berjamaah di dalam kamar?" tanya Mama Nayna yang di jawab gelengan sama Zia dan Arash.


"Kalau gitu kita sholat subuh berjamaah ya." Mama Nayna pun berlalu meninggalkan Zia dan Arash.


"Kamu tolong bantuin Zia ya, Rash. Kamu kan suaminya."


Arash hanya bisa mengangguk pelan. Entah mengapa dia tidak bisa menolak permintaan Mama Nayna kali ini. Biasanya, pria itu selalu memiliki beribu alasan agar dirinya dan Zia tidak berdekatan.


"Aku bisa sendiri, Mas," tolak Zia saat Arash ingin menggendongnya kembali.


Zia menolak karena dia tidak ingin memberikan harapan kepada hatinya, begitu juga kepada Mama Nayna. Semakin baik sifat Arash kepadanya, maka Zia takut jika perasaanya untuk Arash akan semakin sebar. Jadi, untuk menjaga agar hatinya tidak terlalu sakit, Zia harus menjaga jarak antara dirinya dan Arash.


Arash hanya memandang punggung Zia yang semakin menjauh darinya. Pria itu benar-benar merasa bersalah kepada Zia, karena sudah mencuri ciuman gadis itu.


Di dalam kamar mandi, Zia menatap satu kakinya yang masih terluka parah dan harus memakan waktu lama untuk sembuh.


"Benarkah aku berjalan sambil tidur?" gumam Zia dengan kening mengkerut.


"Tapi, masa iya aku berjalan tidak menggunakan tongkat? Memangnya bisa?"


Zia pun melepaskan tongkat yang selama ini membantu dirinya berjalan. Dia ingin mencoba apakah dirinya memang benar bisa berjalan sendiri menggunakan kedua kakinya tanpa menggunakan tongkat?

__ADS_1


"Awwww ..." Zia langsung meringis, di saat kakinya menyentuh lantai untuk dijadikan tumpuan tubuhnya.


Dengan cepat, Zia bergegas memegang pinggiran wastafel kamar mandi agar terjatuh.


"Sakit banget," ucapnya dengan lirih.


"Tapi, kalau rasa sakit ya seperti ini, masa iya aku bisa jalan sendiri tanpa tongkat?" ujarnya kepada diri sendiri. "Atau jangan-jangan Mas Arash yang gendong aku?"


Zia menggelengkan kepalanya cepat. "Enggak! Gak mungkin dia mau menggendong dan membawa aku ke dalam kamarnya. Enggak, itu tidak mungkin terjadi!"


Ya, Zia merasa sangat mustahil sekali jika Arash menggendong dirinya dan membawa ke dalam kamar pria itu. Mungkin, untuk menggendong dirinya dan membawa ke kamarnya, itu masih masuk akal.


Benar-benar tidak masuk akal bagi Zia, jika Arash menggendong dirinya dan membawa ke dalam kamar pria itu. Secara nih ya, jika Zia masuk ke dalam kamar pria itu hanya sekedar mengingatkan untuk makan atau mengantarkan bubur saja, pasti Arash akan menolak dan meminta Zia untuk keluar dengan segera.


Jadi, mustahil kan rasanya jika Arash yang menggendong dirinya dan membawa masuk ke dalam kamar pria itu.


"Tapi, mustahil juga jika aku berjalan dengan kakiku sendiri tanpa tongkat," gumam Zia sambil menatap kakinya.


Lamunan Zia bersama dengan pemikirannya pun buyar, di saat Mama Nayna mengetuk pintu kamar mandi dan memintanya untuk segera keluar.


"Sebaiknya aku membuat janji dengan Mbak Naya," putus Zia dalam hati setelah wanita itu selesai sholat subuh berjamaah.


*


Naya tersenyum menyambut kedatangan iparnya itu.


"Bagaimana, Zia? Tumben minta ketemunya sama aku?" kekeh Naya. "Rindu ya?"


Zia hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. "Iya nih, Mbak. Aku kangen banget sama, Mbak."


"Sudah aku duga. Siapa sih yang bisa menolak pesona aku," kekeh Naya yang mana membuat Zia ikut tertawa.


"Jadi, ada gerangan apa nih kamu mau bertemu aku, hmm?" tanya Naya kali ini dengan serius.

__ADS_1


"Emm, jadi begini, Mbak." Zia pun menceritakan apa yang terjadi lagi ini. Di mana di saat dirinya terbangun sudah berada di atas tempat tidur Arash.


Yang ingin Zia tanyakan, apakah mungkin jika dirinya berjalan sambil tidur dengan kaki yang sakit? Bahkan, saat Zia mencoba untuk berjalan tanpa tongkat saja, dia langsung merasa nyeri dan ngilu yang luar biasa.


"Hmm, gitu ya! Memang sih, di saat kita sedang tidak sadarkan diri, kita tidak bisa merasakan apa yang terjadi saat itu. Kemungkinan kamu berjalan sendiri tanpa tongkat, itu mungkin bisa saja. Tapi, melihat dari seberapa persen luka yang kamu alami saat ini, sepertinya kemungkinan untuk kamu berjalan sambil tidur itu sangatlah kecil," ujar Naya menjelaskan.


"Tapi masih ada kemungkinannya kan, Mbak? Walaupun kemungkinan itu kecil?"


"Iya," jawab Naya dan melihat ke arah kaki Zia.


"Oh ya, saat kamu terbangun dari tidur, apa ada terasa sakit? Atau nyeri gitu?" tanya Naya memastikan jika Zia memang berjalan sendiri tanpa tongkat yang gadis itu gunakan.


"Rasa sakit dan nyeri, ya?" Zia pun mencoba mengingat-ingat kejadian saat dirinya baru saja terbangun dari tidur.


Zia merasa, jika dirinya sedikit pun tidak merasakan sakit pada kakinya saat terbangun dari tidur. Ya, Zia sangat meyakini hal itu.


"Zi, kamu yakin kalau kamu memang berjalan sambil tidur?" tanya Naya memastikan.


"Iya, Mbak. Aku yakin sekali."


"Kok aku gak yakin ya? Atau jangan-jangan Arash yang menggendong kamu dan membawa kamu ke dalam kamarnya?" tebak Naya yang langsung di jawab gelengan oleh Zia.


"Gak mungkin ah, Mbak. Lagi pula nih ya, kalau Mas Arash yang menggendong aku dan membawa ke dalam kamarnya, pasti dia tidak akan mengatakan jika aku memang berjalan sambil tertidur," ujar Zia.


"Aku kok mencium bau-bau kebohongan di sini, ya?" ucap Naya dengan lirih.


"Mbak mencurigai aku berbohong?" tanya Zia yang langsung di jawab gelengan oleh Naya.


"Bukan kamu, tapi Arash."


Naya pun menatap wajah Zia dengan lebih serius kali ini. "Aku yakin banget, Zi, pasti Arash yang membawa kamu k kamarnya."


Zia masih menyangkal apa yang dikatakan oleh Naya.

__ADS_1


"Gak mungkin lah, Mbak. Mustahil banget itu mah. Lagian buat apa dia bawa aku ke dalam kamarnya? Biasanya juga kalau aku masuk ke dalam kamarnya, dia pasti segera menyuruh aku untuk keluar," ujar Zia memberitahu.


"Gini aja. Bagaimana kalau kita melakukan pemeriksaan pada kaki kamu. Kalau memang terdapat pergeseran pada tulangnya, itu tandanya kamu memang tidur sambil berjalan. Tapi, jika kaki kamu baik-baik saja, itu artinya Arash lah yang telah membawa kamu ke dalam kamarnya," usul Naya yang diangguki oleh Zia dengan ragu.


__ADS_2