
Abash memperhatikan Sifa yang sedari tadi terus saja tersenyum.
"Kenapa? Apa ada yang lucu?" tanya Abash.
"Hah? oh, itu... saya gak nyangka aja, kalau Empus itu ternyata singa. Saya pikir beneran kucing anggora," ujar Sifa sambil terkekeh.
Abash mengangguk sekilas dan kembali fokus ke jalanan.
"Oh ya, Pak. Terima kasih sudah meminjamkan saya buku-buku ini," ujar Sifa sambil menunjukkan buku yang di pilihkan oleh Abash tadi.
Abash menoleh sekilas, kemudian kembali fokus kepada jalanan yang ada di depannya.
"Seharusnya kamu berterima kasih kepada Arash, karena dia yang membawa kamu ke perpustakaan."
"Iya, Pak. Tapi Bapak juga sudah membantu saya, untuk memilih buku-buku ini."
"Hmm, sebaiknya kamu baca dan pelajari buku-buku itu, jadi saat ujian nanti, kamu bisa bersaing dengan yang lainnya."
"Iya, Pak. Pasti. Doakan saya."
"Hmm,"
Perjalanan pun kembali hening, Abash menoleh sekilas dan sudah mendapati sifa yang tertidur. Padahal baru lima menit yang lalu, gadis itu berbicara dengannya.
Suara dengkuran halus pun terdengar, membuat Abash terkekeh pelan. Setelah menempuh waktu selama 30 menit, akhirnya mobil yang di kendarai Abash tiba di apartemen.
Abash menoleh ke arah Sifa yang masih tertidur nyenyak dengan dengkuran yang halus. Sudut bibir pria itu pun naik ke atas membentuk sebuah senyuman kecil. Detik selanjutnya, Abash menggeleng pelan dan kembali menatap ke depan, dengan tatapan yang kosong. Entah apa yang di pikirkan oleh pria itu, yang jelas saat ini hati dan pikirannya sedang berdebat akan satu hal, yaitu tentang Sifa.
Dering ponsel Abash membuat dirinya kembali kepada kenyataan. Pria itu melihat nama si penelpon dan langsung menggeser tombol hijau.
"Ya, Ma?"
Sakin asyiknya berbicara dengan sang Mama, Abash sampai tak menyadari jika Sifa sudah terbangun dan menatapnya dengan tatapan sayu.
"Iya, Ma. Besok Abash bilang ke Sifa. Baik ma, assalamualaikum."
Abash memutuskan panggilannya setelah mendengar jawaban dari sang mama. Pria itu menoleh ke arah Sifa yang tengah menatapnya dengan sayu.
"Astaghfirullah, kamu ngagetin aja," ujar Abash sambil mengusap dadanya.
Sifa mengerutkan keningnya dan mencebikkan bibirnya. "Bapak pikir saya hantu apa? Reaksinya terlalu berlebihan," ujar Sifa dan menguap sambil menutup mulutnya.
"Udah lama sampai, Pak?" tanya Sifa.
__ADS_1
"Belum lama juga,"
"Kenapa gak bangunin saya?"
"Tadi saat saya mau bangunin kamu, tiba-tiba mama telpon, jadi saya prioritas kan dulu mama saya,"
"Bagus itu, Pak. Tandanya Bapak anak berbakti. Tapi sayang aja,"
"Sayang kenapa?"
"Kenapa Bapak gak tinggal di rumah orang tua Bapak? Padahal nih ya, Pak. Tinggal bersama keluarga itu adalah hal yang sangat indah. Bahkan tak ada h terindah selain kumpul bersama keluarga. Bapak gak tau sih rasanya jadi saya, hidup sebatang kara dan merasa kesepian. Saran saya, Bapak mending tinggal sama orang tua, Bapak deh."
Abash menaikkan satu alisnya sambil menatap Sifa. "Kamu pikir selama ini saya gak tinggal dengan orang tua saya?"
Gadis itu menganggukkan dengan kepalanya dengan wajah yang polos.
"Sifa .... Sifa ... Kamu salah, saya selama ini tinggal bersama orang tua saya."
"Lah, ini? Apartemen ini? Kenapa Bapak tinggal di sini?"
"Itu karena saya perlu privasi yang lebih. Terkadang, ada masanya saya butuh sendiri di tempat yang tenang. Bukannya di rumah gak tenang, tapi, si empus suka ganggu dan minta masuk ke dalam kamar saya. Makanya, di saat ada kerjaan yang genting, saya butuh tempat yang lebih tenang."
"Ooh, gitu... maaf kalau begitu, Pak. Saya pikir Bapak gak suka tinggal dengan orang tua Bapak."
Sifa tersenyum kecut mendengar ucapan Abash. Mama terbaik. Selama dirinya tumbuh besar, tak ada sosok Mama yang selalu mendukungnya di saat-saat terbaiknya. Bahkan tak ada pujian yang dapat dia dengar, saat dirinya mendapatkan ranngking satu, bahkan juara satu olimpiade matematika dan juga sains.
Abash yang melihat perubahan ekspresi wajah Sifa pun, seketika merasa bersalah dengan ucapannya sendiri. Pria itu lupa, jika gadis yang berada di sebelahnya saat ini,btak memilik siapapun untuk mendampingi perjuangannya hingga ke titik ini.
"Maaf," satu kata itu membuat Sifa kembali menoleh kepada Abash.
"Untuk?" tanya gadis itu.
"Saya gak bermaksud untuk menyinggung perasaan kamu. Maksud saya___"
"Bapak tenang aja, saya gak papa kok." potong Sifa dan tersenyum kepada Abash.
"Bapak beruntung, memiliki keluarga yang hangat. Saya harap, seluruh keluarga Bapak selalu sehat dan dalam lindungan Allah."
Perlahan, sudut bibir Abash tertarik ke atas membentuk sebuah senyuman. Sifa sempat terpana akan wajah tampan Abash yng tersenyum sangat manis sekali. Senyum yang berbeda dari Arash.
"Kamu liatin apa? Ada yang aneh di wajah saya?" tanya Abash melihat Sifa tak berkedip saat menatap wajahnya.
"Hah? ah, eng.. itu, eng... gak kok, gak papa," jawab Sifa gugup. "Emm, su-sudah sampai, sebaiknya kita turun. Lagi pula, Bapak mau lanjut kerja kan?"
__ADS_1
"Iya, oh ya. saya mau ngucapin terima kasih sama kamu, karena telah membantu saya saat di rumah sakit."
Sifa mengerutkan keningnya, kemudian dia teringat saat kejadian di mana Abash tertidur di atas kursi yang di susun, sedangkan dia mengerjakan pekerjaan Abash yang tertinggal sedikit lagi.
"Ah ya, sama-sama, Pak. Maaf kalau saya lancang saat itu."
"Gak papa, tapi saya salut sama pekerjaan kamu, ternyata kamu bisa gunakan aplikasi pinguin yaa.."
"Iya Pak, saya ada belajar sedikit-sedikit."
"Oh yaa, sama siapa?"
"Otodidak, Pak."
"Serius?"
"Iya, Pak."
"Bukannya di kampus kamu ada komunitas pinguin ya?"
"Oh, itu. Saya pernah daftar, tetapi saya di usir karena bau WC katanya," ujar Sifa dengan terkekeh.
Abash menghela napasnya pelan. Tak habis pikir dengan pemikiran anak muda jaman sekarang, yang masih saja memandang derajat dan kasta dalam berteman.
Ayolah, harta yang di dapat saat lahir, belum. menjadi untuk membuat kamu menjadi orang sukses. Kamu hanya beruntung mendapatkan itu semua. Gak semua orang sih beruntung menjadi sukses karena embel-embel, tapi ada juga yang memang bekerja keras walaupun mereka memiliki embel-embel yang sampai tujuh bahkan mungkin 70 turunan juga, gak akan habis-habis.
Sifa dan Abash pun turun dari dari mobil, gadis itu membawa lima buku yang tebalnya sudah seperti bantal saja. Jangan di tanya berapa berat buku tersebut, akan tetapi smaa sekali Sifa tak terlihat keberatan sedikitpun.
"Sifa, sini saya bawa," ujar Abash sambil meraih tumpukan buku yang di bawa Sifa.
"Eh, jangan Pak, biar saya aja," tolak Sifa.
"Udah, jangan bawel."
Abash bersikeras mengambil buku yang ada di tangan Sifa. Gadis itu pun hanya bisa pasrah dan membiarkan sang bos membawa semua buku-buku tersebut.
Saat Abash balik badan dan berjalan, ada sebuah mobil yang melintas dengan kencang.
"Pak, Awas," pekik Sifa.
...Jangan lupa Vote, Like, and komen ya .....
...Salam sayang dari Abash n Sifa...
__ADS_1
...Follow IG Author : Rira Syaqila...