
Bumm ...
Sifa menutup pintu kamar Abash, tangannya bergerak ke atas dan menyentuh dadanya. Sedari tadi gadis itu sudah menahan debaran yang bergejolak di dalam dada. Akan tetapi, Sifa yang pintar dalam pengendalian diri, dapat menyembunyikan rasa gugupnya itu.
Ingatannya kembali kepada saat bibirnya menyentuh sudut bibir Abash.
"Sadarlah, Sifa," ujar gadis itu sambil menepuk-nepuk pipinya.
Sifa pun berlalu menuju dapur dan melihat isi lemari pendingin. Ada beberapa bahan makanan yang bisa dia masakkan.
Setelah berkutat hampir satu jam di dapur, makan siang pun akhirnya selesai. Sifa hanya memasak tumis bayam campur touge, serta ikan goreng sambal dan juga tahu tempe goreng. Tak lupa sambal terasi andalan Sifa.
"Wow, wangi banget?" seru Abash saat dia keluar kamar dan mendapati Sifa telah selesai menata makanan di atas meja makan.
"Makan, Pak. Saya baru mau panggil."
"Masak nasi?"
"Iya, Bapak kan makan nasi."
Sifa ikut duduk saat Abash telah duduk di kursinya, mereka duduk secara berhadapan.
"Ini masak apa bayamnya?" tanya Abash.
"Oh, itu saya tumis."
"Tumis?"
"Heum,"
"Biasanya kan di rebus?"
"Iya, cuma di tumis enak juga kok. Cobain aja dulu, Pak!"
Abash pun menyendokkan sayur bayam ke dalam piringnya. Tanpa menggunakan nasi, Abash mencicipi masakan Sifa.
"Emm, enak juga."
Abash pun mengambil nasi dan menyendokkan sayur yang cukup banyak. Sifa tersenyum melihat Abash makan dengan lahapnya.
"Pintar juga kamu masak," puji Abash.
"Alhamdulillah, Pak. Kalau gak bisa masak, pengeluaran untuk makan banyak. Secara saya kan gak makan nasi, jadi otomatis lebih banyak sayuran. Lagian, masak sendiri lebih hemat."
"Iya sih."
Abash pun melanjutkan makannya, begitu pun dengan Sifa. Sesekali, Abash mencuri pandang kepada Sifa yang juga tengah menikmati makan siangnya dengan lahap. Di tambah lagi, sambal terasi buatan Sifa terbilang cukup enak, Abash menyukainya.
__ADS_1
Setelah selesai makan, Sifa pun membersihkan piring bekas makan mereka. Abash sebenarnya telah melarang Sifa melakukan hal tersebut, karena akan ada asisten yang akan membersihkan rumah ini. Akan tetapi, Sifa menolak dan bersikeras untuk membersihkan piring bekas makan mereka.
Pintu bel berbunyi, Abash pun membukakan pintu untuk tamu yang datang. Sifa yang kebetulan baru saja selesai mencuci piring pun, menghampiri Abash yang tengah menjamu tamunya. Tidak, bukan tamu, melainkan orang-orang yang akan membawa barang-barang Abash ke apartemen.
"Bapak beneran pindah hari?" tanya Sifa.
"Iya, kenapa?"
"Tidak, lalu? Apartemen ini?"
"Kamu tinggal saja di sini, gak usah mikirin bayaran, cukup fokus sama pekerjaan dan kuliah kamu aja."
"Tapi, Pak?"
"Anggap aja ini ucapan terima kasih saya kepada kamu, karena telah membantu saya kemarin."
"Pak, ini terlalu berlebihan! saya membantu Bapak iklas kok! Saya akan membayar tiap perbulannya."
"Hm, bagaimana menurut kamu baik aja," ujar Abash dan berlalu masuk ke dalam kamarnya untuk melihat para pekerja yang akan membawa barang-barangnya.
Setelah berbenah sekitar tiga puluh menit, semua barang-barang Abash pun siap di bawa ke lantai atas, di mana apartemen Abash berada.
Tinggallah Sifa dan Abash di apartemen itu.
"Sifa, saya titip apartemen ini kepada kamu. Cukup kamu bersihkan dan rapikan saja! untuk masalah uang bulanannya, kamu jangan khawatir, saya benar-benar iklas memberikan tempat tinggal untuk kamu secara gratis. Tapi sebenarnya tidak gratis juga, kamu cukup membayarnya dengan bersih-bersih apartemen ini," ujar Abash sebelum dia pergi meninggalkan Sifa di apartemennya.
"Tidak ada tapi-tapi! Cukup kamu bersihkan dan juga rawat apartemen ini. Oke? Kalau begitu saya pergi dulu. Kalau ada apa-apa, kamu bisa hubungi saya."
"Hubungi Bapak? Ke mana? Lagi pula ponsel saya masih di Bapak kan?" tanya Sifa polos.
Abash mengerjapkan matanya, pria itu lupa jika ponsel Sifa masih bersamanya.
"Maaf." Abash merogoh kantung celananya dan mengeluarkan ponsel keluaran terbaru.
"Ini, ambillah," ujar Abash sambil mengulurkan ponsel tersebut.
"Ini bukan ponsel saya," ujar Sifa sambil mengulurkan ponsel itu kembali kepada Abash.
"Nomor kamu masih di dalamnya, ambil saja ponsel ini. Lagi pula kamu akan sangat membutuhkannya nanti."
"Tapi, Pak?"
"Ini hadiah dari saya, karena kamu telah memberikan ide untuk menangkap penjahat tersebut."
"Pak, Ini__"
"Sifa, saya ikhlas. Terima saja, apa susahnya sih?" kesal Abash. Baru kali ini dia menemui seseorang yang di berikan pertolongan dan juga sebuah hadiah, menolak berkali-kali kebaikan orang tersebut.
__ADS_1
"Pak, Saya bukannya menolak dan tak menghargai kebaikan Bapak! Akan tetapi, semua ini terllau berlebihan untuk saya. Apartemen, ponsel!"
"Ini sudah menjadi rezeki kamu. Asal kamu tau, jika keluarga Moza akan berikan hal yang lebih besar ini karena telah membantu misi tersebut. Tak hanya kamu, seluruh tim yang bergabung untuk melindungi dan juga menyelamatkan keluarga Moza, maka akan tetap di berikan hadiah. Itu sudah menjadi hak mereka bagi keluarga Moza."
"Pak, saya iklas kok bantuinnya," ujar Sifa lagi.
"Dan saya juga iklhas memberikan kamu ponsel ini. Baiklah, sekarang lebih baik kamu istirahatlah. Saya harus ke apartemen saya." Abash meninggalkan Sifa yang masih mamatung di ruang living room.
Sifa memandang ponsel yang ada di tangannya. Ini adalah ponsel dengan keluaran terbaru. Haruskah Sifa menerimanya? Akan tetapi, tadi Abash mengatakan jika seluruh tim yang ikut bergabung dalam misi itu, juga mendapatkan hadiah.
Mungkin ini memang sudah menjadi rezeki yang harus Sifa dapatkan. Baiklah, Sifa akan berterima kasih kepada Abash nanti.
*
Sudah tiga hari berlalu, Sifa sudah kembali bekerja seperti biasanya, walaupun dengan kaki yang masih pincang dan dengan bantuan satu tongkat.
Hari ini Sifa tak pergi dengan menggunakan sepedanya. Gadis itu akan merogoh kocek yang sedikit lebih dalam agar bisa sampai di kantor dengan menggunakan ojek online.
"Pagi, Non Sifa. Kakinya kenapa?" tanya seorang satpam yang sedang berjaga.
"Oh, keseleo, Pak. Cuma sekarang udah lumayan kok."
"Hati-hati atuh, Non."
"Iya, Pak. Terima kasih banyak. Kalau begitu, saya permisi dulu, ya." pamit Sifa kepada satpam tersebut.
Kehadiran Sifa di sambut hangat oleh tim elang. Beberapa dari mereka juga ikut dalam misi penyelamatan para ratu Moza.
"Sifa, gimana keadaannya?" tanya Bimo, salah satu tim elang yang ikut dalam misi penyelamatan.
"Baik, kak Bimo?"
"Aku juga. Oh ya, gimana kalau nanti siang kita maka bareng? Satu tim?" ajak Bimo.
"Maaf, tapi saya sudah bawa bekal "
"Ooh, ya sudah aku begitu. lain kali saja."
"Iya, terima kasih atas ajakannya."
"Sama-sama, sesama tim elang, kita harus semakin mempererat tali persaudaraan kita," ujar Bimo yang di setujui oleh yang lain.
Sifa tersenyum, rasa canggungnya perlahan mencair dengan kehangatan yang di berikan oleh tim Elang.
\=\= Jangan lupa Vote, Like, and komen ya ..
Salam sayang dari Abash n Sifa
__ADS_1