
"Sifa, kamu tembus!" ujarnya dengan nada khawatir.
Sifa menoleh ke arah bokongnya, matanya membelalak saat melihat ada noda pada celananya.
Lagi, Sifa di kejutkan dengan tangan Kokok yang melingkar di pinggangnya. Lebih tepatnya tangan tersebut sedang mengikatkan jas miliknya di pinggang Sifa.
Bola mata Sifa bergerak menatap wajah sang pria.
Deg ....
Sifa menahan napasnya saat merasakan detak jantung yang berdegup dengan cepat. Di tambah lagi jarak antara dirinya dan pria tersebut sangat dekat.
"Te-terima kasih, Pak." ucap Sifa dengan gugup.
"Hmm, kamu ke sini naik apa?"
"Naik ojek."
Amel hanya memperhatikan dalam diam saat tiba-tiba saja Abash berdiri sambil membuka jasnya. Bahkan Abash langsung mengikatkan jas tersebut ke pinggang Sifa. Tangan Amel mengepal, merasakan panas di dada.
Cemburu?
Ya, tentu saja. Bagaimana bisa Abash bergerak cepat saat dirinya mengatakan jika darah haid Sifa tembus. Jika tahu begini, mungkin Amel tak akan mengatakan kepada Sifa. Amel akan membiarkan saja noda tersebut terlihat oleh orang ramai, dari pada membuat hatinya sakit saat melihat Abash seakan sedang memeluk gadis miskin itu.
"Wajah kamu pucat," ujar Arash yang sebenarnya sedari tadi sudah merasa jika Sifa sedikit lesu.
"Aku akan mengantarkannya pulang," ujar Abash yang di angguki oleh Arash.
Baru saja Amel ingin mengatakan bahwa dirinya akan mengantarkan sahabatnya itu pulang, akan tetapi dia keduluan oleh Abash. Sialnya, Sifa tidak menolak dan menurut.
"Kalau gitu kami permisi," pamit Abash kepada Arash dan hanya menatap Amel sesaat tanpa senyuman.
"Terima kasih atas makan siangnya, maaf, saya duluan," pamit Sifa kepada Arash.
"Oke,"
"Amel, aku duluan ya." pamit Sifa lagi kepada sang sahabat.
"Iya, hati-hati, ya."
Setelah berpamitan, Sifa mengikuti langkah Abash dan menjauh dari Arash dan Amel.
"Kamu bisa pulang sendiri kan?" tanya Arash.
Amel menoleh dan tersenyum.
"Atau mau saya pesanin taksi?"
"Tidak apa, saya bisa pulang sendiri," tolak Sifa.
"Kamu yakin?"
"Iya, saya yakin."
"Baiklah kalau begitu. Maaf, saya tidak bisa mengantarkan. Karena ada panggilan darurat."
"Iya, saya mengerti."
"Kalau begitu, saya duluan, ya." pamit Arash yang di angguki oleh Amel.
Setelah punggung Arash tak terlihat, Amel berjalan pelan menuju ke arah tempat di mana Abash duduk.
__ADS_1
"Kalian memang kembar. Tapi, kalian memiliki kepribadian yang berbeda." Tangan lentik Amel menarik serbet yang Abash gunakan tadi untuk membersihkan mulutnya.
Sifa menyimpan serbet tersebut ke dalam tasnya, barulah dia pergi meninggalkan resto tersebut.
*
"Apa sakit?" tanya Abash saat melihat Sifa meringis sambil memegangi perutnya.
"Hmm," Sifa hanya menjawabnya dengan bergumam. Tak ada lagi tenaga rasanya untuk menjawab, walaupun hanya sekedar berkata 'ya'.
"Tunggu sebentar." Abash menghentikan mobilnya di dekat sebuah apotik.
Sifa hanya memperhatikan Abash yang keluar dari dalam mobil, berlari kecil masuk ke dalam apotik.
"Aakh, kok sakit banget yaa," ringis Sifa sambil meremas perut bagian bawahnya.
Tubuh Sifa sudah bersandar di pintu dengan mata yang tertutup dan keringat yang sebesar jagung memenuhi kening gadis itu.
Tak berapa lama Sifa merasakan pintu mobil yang terbuka.
"Minum ini dulu," ujar Abash sambil menyodorkan obat kepada Sifa.
Sifa membuka matanya perlahan, mencoba untuk duduk dengan baik, hingga akhirnya Abash membantu Sifa untuk menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi.
"Minum dulu, biar nyerinya hilang."
Abash memberikan obat pereda nyeri haid dan sebotol air. Dengan tangan gemetar, Sifa meraih obat yang ada di tangan Abash.
"Buka mulutnya," perintah Abash karena merasa jika Sifa terlalu lemah hanya untuk memegang sebotol air.
Sifa mengerutkan keningnya, saat obat tersebut sudah berada di depan bibirnya, Dia pun mengerti. Gadis itu langsung membuka mulutnya dan membiarkan sang bos membantunya meminum obat.
Deg .....
Setelah membantu Sifa meminum obat, Abash menutup botol minuman dan meletakkannya di samping pintu. Abash menoleh kepada gadis yang ada di sebelahnya ini, yang sedang menutup mata dengan kening mengkerut.
"Sebentar lagi gak akan sakit, tidur aja dulu," titah Abash sambil menurunkan sandaran kursi.
Deg ...
Sifa membuka matanya saat mencium aroma maskulin yang sangat dekat dengan hidungnya. Matanya bertemu dengan manik mata milik Abash. Entah berapa lama mereka saling menatap tanpa mengedipkan matanya, hingga suara ponsel Abash memutuskan tatapan itu.
"Iya, Abash pulang."
Setelah memutuskan panggilan, Abash kembali menoleh ke arah Sifa yang masih menatapnya dengan mata yang sayu.
"Udah enakan?" tanya Abash.
Sifa mengangguk dengan pelan.
"Tidurlah, saya akan mengantar kamu."
Sifa pun menurut, gadis itu pun menutup matanya. Setelah memastikan Sifa terlihat nyaman, Abash kembali melakukan mobilnya dengan kecepatan rendah.
*
"Loh, anak Papi kok murung?" tanya seorang pria saat melihat putri kesayangannya itu masuk dengan wajah tak bersemangat.
"Tadi, Ame ketemu sama Abash." ujarnya dengan lesu.
"Loh, ketemu sama Abash Kom murung? Bukannya senang?"
__ADS_1
Gadis bernama Ame itu menghela napasnya sambil merebahkan tubuhnya di sofa.
"Papi tau kan, sahabat Ame? Sifa?"
"Ooh, gadis miskin itu?"
"Hmm, Tadi Abash mengantarkannya pulang."
"Loh, kok bisa?"
"Ya itu, Ame juga gak tau kenapa mereka terlihat akrab. Padahal kan mereka cuma bawahan dan atasan saja," rajuk Ame.
"Hmm, sepertinya kamu harus hati-hati dengan gadis itu."
Ame melirik ke arah sang Papi. "Kenapa? Sifa anaknya baik kok."
"Baik, belum tentu gak bisa nikung kan?"
Ame terlihat berpikir dengan ucapan sang Papi.
"Udah, kamu jangan pikirin macem-macem. Pokoknya Papi akan usahakan agar kamu menikah dengan Abash.
Terlihat sudut bibir gadis itu menaik ke atas. "Papi serius?"
"Iya, tapi gak sekarang. Kuliah dulu yang bener hingga lulus, baru kita pikirkan langkah selanjutnya. Yang pasti, perusahaan kamu harus bisa bekerja sama dengan Abash."
"Iya, terima kasih, Pi. Ame sayang banget sama Papi." Gadis itu pun memeluk Papinya dengan senyum yang mengembang.
*
Abash turun dari mobil dan membukakan pintu mobil untuk Sifa. Sebenarnya pintu itu sudah terbuka, karena Sifa yang membukanya.
"Kamu sanggup jalan?" tanya Abash kepada Sifa.
"Iya, Pak."
Sifa meringis dan membungkukkan sedikit tubuhnya. Kakinya terasa lemas sekali.
Abash menghela napasnya pelan, pria itu menutup pintu mobil yang di pegang oleh Sifa, tanpa aba-aba, Abash langsung menggendong Sifa.
"Ba-bapak mau apa?" tanya Sifa panik dengan nada lemh.
"Saya masih ada urusan, menunggu kamu berjalan tertatih begitu sangat membuang waktu."
"Ba-bapak bisa langsung pergi. Saya bisa pulang sendiri."
Tak ada jawaban, Abash hanya menghela napasnya pelan kemudian langsung melangkahkan kakinya menuju lift yang ada di baseman. Lift ini hanya di peruntukkan bagi orang-orang kelas atas, yang membayar fasilitas lebih di apartemen tersebut.
"Pak, saya bisa jalan sendiri." cicit Sifa masih dengan lemah.
Tak ada jawaban dari Abash. Pria itu masih diam dan terus melangkahkan kakinya masuk ke dalam lift. Di dalam lift pun, Abash masih tak menurunkan Sifa.
"Pak, saya masih bisa berdiri, saya belum lumpuh." cicit Sifa lagi, kali ini sedikit menggoyangkan tubuhnya agar di turunkan oleh Abash.
"Pak, turunin saya, say___"
Sifa terkejut saat Abash sedikit melambungkan tubuhnya, karena posisi tubuhnya yang mulai hampir terjatuh karena dirinya terus bergerak. Sifa terpaksa mengalungkan tangannya ke leher Abash karena takut jatuh.
"Kamu bisa diam gak sih?" geram Abash, hingga manik mata mereka bertemu.
...Jangan lupa Vote, Like, and komen ya .....
__ADS_1
...Salam sayang dari Abash n Sifa...
...Follow IG Author : Rira_Syaqila...