Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 198 - Kamu Pasti Bisa


__ADS_3

Abash terus tersenyum sepanjang perjalanan. Pria itu sedang membayangkan tentang ungkapan cintanya kepada Sifa.


"Senang banget kayaknya," goda Putri yang memang masih berada di satu mobil yang sama dengan Abash.


Abash pun menoleh ke arah Putri dan kembali fokus ke jalan yang ada di depannya.


"Anda tahu, saya gak pernah membayangkan untuk menikah di umur yang masih muda. Perkiraan saya, saya akan menikah di umur tiga puluhan, seperti papa saya," ujar Abash dengan tersenyum.


"Oh yaa? Terus, kenapa bisa berpikir untuk menikah muda? Apa karena sudah menemukan orang yang tepat?" tebak Putri.


"Iya. Saya tidak ingin kehilangan Sifa. Tertimpa masalah seperti ini saja, sudah membuat saya uring-uringan," kekeh Abash.


"Hmm, saya doakan semoga Pak Abash bahagia bersama Sifa," ucap Putri dengan tulus.


"Terima kasih."


Mobil Abash pun masuk ke dalam perkarangan apartemen yang di tempati oleh Putri dan Arash, hingga mobil tersebut berhenti di depan lobi.


"Terima kasih atas tumpangannya," ujar Putri dengan tersenyum manis.


"Sama-sama, terima kasih juga karena sudah membantu saya memilihkan cincin."


"Tidak, bukan saya yang memilihnya, tetapi cincin itu adalah pilihan Pak Abash sendiri."


"Sama saja, tanpa bantuan Anda, saya pasti akan kebingungan memilih cincin yang spesial."


Putri pun tersenyum. "Semoga Bapak sukses melamar Sifa, tanpa ada kendala apapun," doa Putri dengan tulus.


"Amiiin ...."


Putri pun turun dari mobil Abash, kemudian gadis itu melambaikan tangannya ke arah mobil pria itu, di saat mobilnya sudah mulai bergerak melaju meninggalkan apartemen.


"Kamu di antar Abash?" tanya Arash yang tiba-tiba muncul dari belakang Putri.


"Astaghfirullah." Putri pun mengusap dadanya dengan lembut. "Kamu ngagetin aja tau gak sih?"


"Maaf," cicit Arash dengan wajah yang datar.


"Kenapa bisa pulang dengan Abash?" tanya Arash dengan nada tak seramah biasanya.


"Oh, itu ... tadi aku temenin Pak Abash temui kliennya," bohong Putri yang merasa tak ingin ikut campur dengan urusan Arash, Abash, dan Sifa.


Cinta segitiga yang terbilang cukup rumit, karena masih terhubung dengan darah yang sama. Biarlah mereka sendiri yang mengurus masalah mereka. Sudah cukup Putri merasakan kebingungan pada perasaannya sendiri saat ini. Dia tidak ingin bertambah bingung lagi dengan mencampuri urusan cinta segitia yang di alami oleh Arash, Abash, dan Sifa.


"Tadi aku jemput kamu di kantor Abash, katanya kamu sudah kembali pulang. Terus, aku susulin kamu ke kantor firma, tapi kata satpam kamu nya juga sudah pulang," ujar Arash memberitahu. "Kenapa gak kabari aku kalau di antar pulang oleh Abash? Ponsel kamu juga gak aktif di hubungi."


Putri mengernyitkan keningnya, gadis itu pun langsung merogoh tasnya untuk mencari benda pipih miliknya.


"Ah, habis batre," ujar Putri sambil menunjukkan ponselnya ke arah Arash.


Arash tersenyum saat melihat ponsel yang digunakan oleh Putri, adalah ponsel pemberiannya. Entah kapan gadis itu mulai memakai ponsel yang dia belikan, karena Arash tidak pernah memperhatikannya.


"Aku pikir kamu kenapa-napa, aku khawatir," lirih Arash dan tersenyum kecil.


"Ada apa dengan dia?" batin Putri yang mencoba untuk berpikir positif.


"Eh, Pak Arash, kebetulan sekali," sapa tetangga Arash yang memang terkenal ramah dan dermawan.


"Iya, Pak Anwar. Apa kabar?" tanya Arash balik.

__ADS_1


"Alhamdulillah, baik. Sudah lama saya gak lihat Pak Arash."


"Saya yang sepertinya jarang melihat Bapak," kekeh Arash.


"Iya, saya baru balik dari kampung," kekeh Pak Anwar pula. "Ah ya, saya ada bawa banyak kepiting, Pak Arash mau? Bisa di masak dan di nikmati dengan pacarnya," ujar Pak Anwar sambil melirik ke arah Putri.


"Wow, kepiting. Enak tuh. Boleh deh, Pak."


"Ya sudah kalau begitu, ayo ambil ke apartemen saya," ajak Pak Anwar yang di angguki oleh Arash.


"Aku ke apartemen Pak Anwar, ya. Kamu duluan saja ke apartemen," titah Arash yang di angguki oleh Putri.


Mereka bertiga pun berjalan masuk ke dalam gedung apartemen dan juga masuk ke dalam lift secara bersama.


"Nona ini namanya siapa?" tanya Pak Anwar.


"Putri, Pak," jawab Putri dengan sopan dan tersenyum manis.


"Saya Pak Anwar. Dulu tinggal di sebelah apartemen Pak Arash, tapi sekarang sudah pindah ke apartemen yang lain."


"Iya, Pak."


"Nona Putri pacarnya Pak Arash?" tebak Pak Anwar.


"Bukan, Pak."


"Oh, saya pikir pacar Pak Arash. Soalnya kalian sangat terlihat serasi sekali."


Putri hanya tersenyum kecil, begitu pun dengan Arash.


"Nak Putri tinggal di apartemen mana?" tanya Pak Anwar lagi.


"Oh, apartemen saya dulu?" tebak Pak Anwar.


"Bukan, Pak. Tapi yang di sebelahnya lagi," kali ini Arash menjawab.


"Oh, yang itu. Iya ... ya ... ya ..."


Ting,


Suara lift pun berbunyi, menandakan jika salah satu dari mereka telah tiba di lantai apartemennya berada.


"Kalau begitu saya duluan ya, Pak," pamit Putri kepada Pak Anwar.


"Iya, hati-hati."


Selepas Putri keluar dan pintu lift kembali tertutup. Pak Anwar pun mengungkapkan rasa penasarannya kepada Arash.


"Pak Arash, saya dengar apartemen yang di tempati Putri di teror orang gak di kenal? Bagaimana bisa?" tanya Pak Anwar penasaran.


"Iya, Pak. Polisi juga sudah menyelidiki kasusnya."


"Lalu, apa hasilnya?" tanya Pak Anwar kepo.


"Rahasia perusahaan, Pak," kekeh Arash yang mana membuat Pak Anwar menggelengkan kepalanya.


"Di larang membocorkan keterangan yaa," kekeh Pak Anwar yang di angguki oleh Arash.


"Jadi, Putri masih tinggal di apartemen itu sendirian?" tanya Pak Anwar.

__ADS_1


"Tidak. Tapi tinggal di apartemen saya."


Pak Anwar pun terkejut mendengar apa yang di katakan oleh Arash. "Berdua saja?"


"Tidak, bertiga. Saya menyuruh orang untuk tinggal dengan kami juga," ujar Arash yang mana membuat Pak Anwar bernapas dengan lega.


"Syukurlah, kirain berdua aja," lirih Pak Anwar dengan lega. "Pak Arash ini saya jadikan panutan untuk anak-anak saya. Maka dari itu, saya sangat berharap jika Pak Arash tidak mengikuti gaya barat dan menghalalkan hubungan yang belum halal."


"Insya Allah, tidak, Pak. Maka dari itu saya memanggil orang lain lagi untuk tinggal dengan kami. Orangnya juga perempuan kok," ujar Arash memberitahu.


"Syukurlah kalau begitu."


Lift pun kembali berhenti, mereka berdua pun keluar dari lift dan menuju apartemen Pak Anwar.


"Ini kepitingnya, semoga cukup untuk kalian nikmati bertiga, ya?"


"Terima kasih banyak, Pak, semoga murah rezeki selalu," ujar Arash setelah di berikan kepiting yang masih mentah dengan Pak Anwar.


"Sama-sama. Ini di rebus gitu aja juga enak, kok. Pakai bawang sama cabe, jangan lupa di kasih garam. Beuh, mantap deh. Dagingnya juga masih terasa manis dan segar."


"Iya, Pak. Terima kasih banyak."


Arash pun kembali menuju ke apartemen miliknya.


*


Putri baru saja selesai mandi dan juga mencuci rambutnya, gadis itu pun mengeringkan rambutnya hingga setengah mengering.


"Hmm, masak apa ya enaknya untuk makan malam?" lirih Putri sambil menatap pantulan dirinya di cermin.


"Oh iya, Arash kan sedang ambil kepiting. Hmm, enaknya di masak apa ya?"


Putri pun keluar dari dalam kamarnya, gadis itu pun ingin memeriksa bahan apa yang ada di dalam lemari pendingin.


"Udah pulang ternyata Arash! Kepitingnya juga udah di bersihkan," lirih Putri saat melihat kepiting sudah ada di dalam baskom yang ada di atas kitchen set.


Putri pun mengalihkan tubuhnya ke arah lain, hingga saat ini gadis itu sudah berdiri di depan lemari pendingin. Dia pun menghela napasnya dengan pelan, di saat ingin membuka pintu kulkas tersebut.


"Kamu pasti bisa, Put. Ayo, kamu pasti bisa mengalahkan trauma ini," lirihnya menyemangati diri sendiri.


Tangan Putri yang gemetar pun terulur untuk memegang gagang pintu, kemudian gadis itu menggenggam gagang pintu lemari pendingin dengan erat.


"Hufff, kamu pasti bisa, Put," ujarnya untuk menyemangati dirinya sendiri.


Putri pun mengatur napasnya, kemudian dia mencoba untuk menarik pintu lemari pendingin tersebut.


"Gak, aku gak bisa," lirihnya dengan tangan yang terkulai lemas di sisi tubuhnya.


"Aku gak bisa, hiks ..." tangis Putri dan menangkup wajahnya dengan kedua telapak tangan.


Putri terkesip di saat ada sebuah tangan menyentuh pundaknya, cukup dengan mencium aroma maskulin yang menguar dari tubuh pria itu, sudah bisa membuat gadis itu menebak siapa orang yang menyentuh pundaknya.


Putri pun menurunkan tangannya dan menoleh ke arah orang yang menyentuh pundaknya.


"Jangan di paksa, Put, pelan-pelan yaa?" bisik Arash dengan lembut.


"Hiks ... Aku sungguh payah, hiks ... aku terlalu pengecut," tangis Putri yang mana membuat Arash menarik tubuh gadis itu ke dalam pelukannya.


"Semua butuh proses, Put. Aku yakin suatu hari nanti kamu pasti bisa. Secepatnya."

__ADS_1


__ADS_2