
Desi dan Putri masih terkekeh pelan, di saat mereka di awasi oleh Arash saat ini. Bahkan, setiap mereka berbisik, pria itu langsung menegur Putri dan Desi agar tidak lagi mengobrol di saat sedang mencuci piring.
“Kami sudah selesai,” ujar Desi kepada Arash sambil mengulum senyumnya.
“Hmm cepat masuk ke dalam kamar,” titah Arash dengan tangan yang terlipat di atas dada dan menatap Desi serta Putri dengan tatapan mata yang tajam.
“Iya, Pa,” jawab Desi sambil terkekeh, begitu pun dengan Putri.
“Ah ya, Putri,” tegur Arash yang mana membuat Putri dan Desi menghentikan langkahnya.
Melihat wajah Arash yagn sedang serius, Desi pun paham jika Arash membutuhkan waktu berdua saja dengan Putri.
“Aku duluan, ya?” bisik Desi dan langsung ngacir ke dalam kamar.
“Eh, Des—”
Putri pun hanya bisa menatap kepergian Desi yang sudah berlalu menjauh darinya dan bergegas masuk ke dalam kamar. Putri merasa jika saat ini dia akan di marahi oleh sang papa, setelah melakukan sebuah kesalahan besar.
Perlahan, Putri berbalik dan menatap wajah Arash dengan takut-takut.
“Ya?” cicit Putri dengan pelan.
Arash berjalan mendekat ke arah Putri, sehingga membuat gadis itu merasakan detak jantungnya berdetak lebih cepat dari sebelumnya.
“Jika kamu ingin pergi, ke mana pun kamu pergi, jangan pernah melepaskan kalung yang di berikan oleh Abash,” ujar Arash yang mana membuat Putri mengernyitkan keningnya.
Dari mana Arash tau jika dia melepaskan kalung yang di berikan oleh Abash?
“Walaupun Yosi sudah tertangkap, tetapi kamu tidak boleh menyepelekan orang yang ada di sekitarnya, Put. Bisa saja ada yang masih menyimpan dendam dan menyuruh untuk mencelakai kamu. Aku bukannya menakut-nakuti kamu, tapi aku hanya tidak ingin kamu terluka, Put. Aku tidak igin kamu terluka.” ujar Arash yang mana menekan satu kalimat terakkhirnya.
“Terima kasih karena sudah mengingatkan. Lain kali aku tidak akan melepaskan kalung itu lagi,” jawab Putri dengan pelan.
“Hmm, aku harap kamu benar-benar tidak akan pernah melepaskan kalung itu lagi, Put,” ujar Arash seolah dengan suara yang penuh dengan permohonan.
__ADS_1
“Iya,” jawab Putri dengan tersenyum kecil.
Hening, tidak ada lagi kata-kata yang di uapkan oleh Arash, sehingga membuat Putri merasa bingung harus melakukan apa lagi saat ini. Berdiri tanpa berbicara dan tak berbuat apa-apa seperti ini, sungguh terasa canggung dan membuatnya semakin gugup.
“Emm, apa ada lagi yang ingin kamu katakan?” tanya Putri memecah keheningan dan memberanikan diri untuk menatap ke arah mata Arash yang ternayat sedari tadi pria itu masih terus menatap ke arahnya.
Arash mengerjapkan matanya, perlahan tatapan mata Arash turun dan tertuju kepada tangan Putri yang sedang memainkan cincin pemberian dari Soni.
“Apa itu cincin lamaran yang di berikan oleh Soni?” tanya Arash yang terdengar lirih dan seolah ada luka di dalam suaranya.
“Hmm, ya,” jawab Putri dengan pelan, gadis itu pun ikut menatap cincin yang ada di jari manisnya.
“Soni pria yang baik. Aku harap kamu bahagia bersamanya,” ujar Arash, kemudian pria itu pun berlalu meninggalkan Putri.
Saat jarak antara tubuh Arash dan Putri sejajar, pria itu pun menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Putri.
“Selamat atas lamaran kamu. Aku harap kamu hidup dengan bahagia. Aku bersungguh-sungguh,” bisik Arash,. “Tidurlah, sudah malam. Selamat malam, semoga kamu mimpi indah.” Setelah mengatakan hal itu, Arash pun benar-benar berlalu meninggalkan Putri yang masih terdiam berdiri di tempatnya.
“Apa yang kamu harapkan, Put? Kamu berharap agar Arash menahan kamu?” lirih Putri, hingga tubuh gadis itu pun meluruh ke lantai.
Putri menangkup wajahnya agar tak ada yang mendengar suara tangisnya saat ini.
Di balik pintu kamar, Arash menyandarkan punggungnya di daun pintu, pria itu pun menghela napasnya dengan pelan dan berat.
“Kamu harus mengikhlaskan Putri, Rash. Kamu harus biarkan ia bahagia dengan pilihannya sendiri,” lirih Arash tanpa sadar pria itu pun ikut meneteskan air matanya membasahi pipi.
*
Putri masuk ke dalam kamar, dia melirik ke arah Desi yang tengah bertelponan ria bersama bang Jo.
Putri pun langsung berlalu menuju kamar mandi, gadis itu akan membersihkan wajah dan menyikat giginya. Dan juga, jika wajahnya terlihat basah, maka Desi tidak akan curiga jika dirinya baru saja menangis.
Putri pun keluar dari dalam kamar mandi, dia pun mendengar jika Desi baru saja mengakhiri panggilannya dengan sang kekasih.
__ADS_1
“Kamu baik-baik saja?” tanya Desi yang melihat jika wajah Putri tak mencerminkan wajah bahagia.
“Hhm, ya. Aku baik-baik saja.”
Putri memasang kalung yang di berikan oleh Abash kepadanya. Setelahnya, gadis itu emraih ponsel yang ada di dalam clouth dan naik ke atas tempat tidur.
“Kamu menghubungi aku? Ada apa?” tanya Putri yang melihat ada panggilan tak terjawab dari Desi.
Tidak hanya Desi, tetapi juga ada puluhan panggilan gak terrjawab dari Arash.Kenapa mereka menghubunginya? Ada apa? Apa ada sesuatu yang terjadi?
“Huum,” jawab Desi yang sudah meletakkan ponselnya ke atas nakas dan memasukkan kakinya ke dalam selimut.
“Ada apa?Apa ada hal yang penting?” tanya Putri dengan kening yang mengkerut.
“Emm, bisa di katakan penting dan juga bisa di katakan tidak,” jawab Desi dengan ambigu.
“Maksud kamu?”
“Kalau kamu merasa penasaran, kamu bisa tanyakan hal itu kepada Arash,” jawab Desi dengan tersenyum penuh arti.
“Apa yang harus di tanyakan?” lirih Putri yang mana membuat Desi semakin mengulum bibirnya.
“Put, boleh aku tanya sesuatu?” Kali ini Desi sudah memasang wajahnya dengan sersiu.
“Ya, kamu mau tanya apa?”
“Apa kamu bahagia?” tanya Desi yang mana membuat Puutri mengerutkan keningnya.
“Maksud kamu?”
“Apa kamu bahagia di lamar oleh Soni? Apa kamu bahagia menerima lamaran dia?” tanya Desi yang mana membuat Putri menatap kembali ke arah cincin yang ada di tangannya.
Apa dia bahagia saat ini?
__ADS_1