
Soni melambaikan tangannya kepada Zia, sehingga membuat Yuli bergegas mendorong kursi roda sang atasan mendekat ke arah Soni.
"Malam, Pak Soni," sapa Yuli sambil memberikan rasa hormatnya.
"Malam," sahut Sini dengan tersenyum tipis. "Mana koper kamu?" tanya Soni kepada Zia, di saat melihat jika gadis itu tidak membawa koper bersamanya.
"Yuli akan mengurusnya besok, sekalian dia pulang kembali ke Jakarta," sahut Zia.
"Oh begitu," cicit Soni pelan. "Kita berangkat sekarang?" tanya Soni yang di angguki oleh Zia.
Soni membukakan pintu mobil untuk Zia masuk ke dalam. Pria itu pun kemudian menggantikan Yuli untuk membantu Zia masuk ke dalam mobil.
"Terima kasih, Mas," ucap Zia sambil tersenyum kecil.
"Sama-sama."
"Yuli, terima kasih banyak. Saya percayakan selebihnya kepada kaki," ucap Zia kepada sang asisten.
"Baik, Buk. Semoga Ibu selamat sampai tujuan."
Soni menutup pintu mobil. "Kalau kamu butuh bantuan, kamu bisa menghubungi asisten saya," ujar Soni kepada Yuli.
"Baik, Pak Soni. Terima kasih banyak," jawab Yuli dengan tersenyum.
Soni pun berjalan menuju pintu mobil yang lain, di mana asistennya sudah membukakan pintu mobil untuknya.
Yuli melambaikan tangannya, di saat mobil yang di naiki oleh Zia telah berlalu.
"Hmm, semoga Buk Zia selamat sampai tujuan," doanya dengan tulus.
*
Zia cemas di dalam pesawat, hal itu terlihat dari gerakan tangan gadis itu yang memainkan kuku-kuku jarinya. Soni tersenyum kecil, melihat Zia membuat dirinya teringat akan Putri.
Wajah Zia memang terlihat mirip dengan Putri, akan tetapi, tetap saja ada perbedaan di antara mereka berdua.
"Semua akan baik-baik saja, Zi," tegur Soni sambil menggenggam tangan Zia.
"Iya, Mas," cicit Zia pelan.
"Tidurlah, kamu pasti lelah," titah Soni. "Aku akan membangunkan kamu kalau kita sudah mendarat," sambungnya lagi.
"Aku gak ngantuk, Mas. Kalau Mas Soni mau tidur, silahkan saja, aku gak papa kok," jawab Zia sambil tersenyum.
__ADS_1
"Aku juga belum merasa kantuk," kekeh Soni.
Zia ikut tersenyum, akan tetapi senyuman yang gadis itu tampilkan adalah senyuman keterpaksaan.
Entah mengapa, Zia tidak merasa nyaman dengan tatapan mata yang Soni tujukan untuknya. Zia merasa, jika Soni melihat dirinya bukan sebagai Zia, melainkan sebagai Putri.
Zia memilih untuk menoleh ke arah jendela, melihat pemandangan gelap di luar sana.
"Aaammpp ..." Zia terkejut, di saat melihat kilatan cahaya dari luar jendela pesawat.
"Kamu baik-baik saja, Put?" tanya Soni merasa khawatir.
Zia tertegun, gadis itu pun melirik ke arah Soni. Ternyata benar apa yang dia pikirkan, jika Soni menatapnya bukan sebagai Zia, melainkan sebagai Putri.
"A-aku Zia, Mas, bukan Mbak Putri," ucap Zia dengan lirih.
Soni mengerjakan matanya, pria itu tak sadar telah memanggil Zia dengan Putri. Soni benar-benar merasa bersalah kepada Zia.
"Maaf," mohon Soni dengan tatapan mata bersalah.
"It's oke." Zia kembali menolehkan kepalanya ke arah jendela.
"Zi, kamu baik-baik saja?" tanya Soni.
"Hmm, aku baik-baik saja," jawab Zia tanpa menoleh ke arah Soni.
"Biar aku bantu, Zi," tawar Soni.
"Terima kasih, Mas. Tapi aku bisa sendiri kok." Zia menolak bantuan Soni karena merasa kesal dengan pria itu.
Bukannya Zia masih membenci almarhum Putri, bukan. Akan tetapi gadis itu tidak suka dengan tatapan yang Soni berikan. Zia tidak ingin hidup di balik bayang-bayang sang kakak. Biarlah kakaknya merasa tenang dan tentram di alamnya saat ini.
Zia berhenti berjalan tepat di depan pintu pesawat, gadis itu merasa bingung bagaimana caranya untuk menuruni anak-anak tangga.
"Biar aku bantu, Zi," ujar Soni dan langsung membawa Zia ke dalam gendongannya.
Zia pun terdiam, gadis itu membiarkan Soni membawanya turun dari pesawat. Lagi pula, saat naik ke pesawat tadi pun, Soni juga yang telah membantu Zia.
"Maafin aku, karena sudah membayangkan diri kamu sebagai almarhumah Putri tadi," sesal Soni saat mereka sedang menuruni anak tangga.
Zia hanya diam, gadis itu tidak tahu harus menjawab apa. Soni pun menurunkan Zia dari gendongannya.
"Aku tahu, kalau kamu marah denganku, karena aku berpikir jika kamu adalah Putri, iya kan?" tebak Soni yang di angguki oleh Zia dengan pelan.
__ADS_1
"Maafin aku ya, Zi." mohon Soni lagi dengan perasaan penuh rasa bersalah.
Zia menghela napasnya secara perlahan. "Hmm, ya. Wajar saja jika Mas melihat aku sebagai Mbak Putri, secara wajah kami terlihat mirip," sahut Zia dengan wajah yang tertunduk.
"Tidak, Zi, bukan begitu. Jujur saja, kalian memang terlihat mirip, akan tetapi menurutku wajah kamu lebih cantik dari Putri. Kamu memiliki daya tarik kamu sendiri, Zi," ucap Soni jujur.
Zia hanya tersenyum kecil mendengar kalimat yang di katakan oleh Soni, gadis itu hanya menganggap jika apa yang di katakan oleh Soni adalah sebuah pujian rasa bersalah kepadanya. Karena menurut Zia, Putri tetaplah yang paling cantik di matanya.
"Aku akan mengantar kamu ke rumah sakit. Katakan, di mana Yumna di rawat sekarang?"
Di tempat lain.
"Yumna sudah baikan, Rash. Ada Mama di sini, kamu tenang aja ya," bujuk Mama Kesya.
Arash terpaksa harus kembali ke kantor, karena ada tugas yang tidak bisa pria itu tinggalkan. Di mana tugas negara lebih penting dari tugas apa pun. Rasanya Arash ingin mengundurkan dirinya dari kepolisian, karena harus mengabaikan sang putri yang sedang sakit. Lagi pula, jika tidak bekerja sebagai seorang polisi, Arash juga tidak kekurangan apa pun kan? Bahkan, bisa di katakan jika pria itu telah memiliki segalanya.
"Kamu hanya memberikan laporan saja kan, Rash? Kemudian langsung kembali?" tanya Mama Nayna yang di jawab anggukan oleh Arash.
"Jadi, pergilah Rash. Mama dan mertua kamu akan menjaga Yumna. Mama janji, tidak akan meninggalkan Yumna sedetik pun," ucap Mama Kesya.
"Iya, Rash, kami tidak akan meninggalkan Yumna sedetik pun."
Arash menghela napasnya dengan berat. Satu sisi, dia tidak ingin meninggalkan Yumna, di satu sisi lainnya dia harus memberikan laporan kepada atasannya, agar dia bisa menyerahkan tugasnya kepada rekan kerjanya yang bersedia menggantikan dirinya untuk menyelidiki kasus yang sedang dia selidiki saat ini.
"Tolong jaga Yumna, Ma. Arash akan pergi sebentar, Arash gak akan lama." Arash pun berbalik menjauhi Mama Nayna dan Mama Kesya.
"Naik mobil saja, Rash, sepertinya mau hujan," saran Mama Kesya.
"Gak papa, Ma. Hanya sebentar saja kok. Lagi pula, mendung belum berarti hujan."
Arash bergegas mengendarai motornya, karena pria itu ingin menghemat waktu dan ingin cepat sampai ke kantor. Dia ingin semuanya segera beres dan bergegas kembali ke rumah sakit untuk menemani Yumna.
*
Mama Nayna dan Mama Kesya terkejut, di saat melihat Zia berada di depan mereka saat ini. Baju gadis itu terlihat basah, karena memang di luar sedang hujan deras.
Ya, Zia dan Soni kehujanan saat turun dari mobil. Tidak ada payung yang melindungi mereka berdua dari derasnya hujan, sehingga Zia nekat turun dari mobil untuk menerobos hujan yang turun dengan derasnya. Soni pun melindungi kepala Zia dengan menggunakan jas yang pria itu pakai. Maka dari itulah, Zia dan Soni terlihat kebasahan.
"Sa-sayang, bagaimana bisa kamu di sini?" tanya Mama Nayna dengan gugup.
Satu tetes air mata Zia pun terjatuh, hati gadis itu benar-benar hancur dan kecewa dengan apa yang telah dilakukan oleh sang mama.
"Kenapa, Ma? Kenapa Mama menyembunyikan kondisi Yumna dari Zia?" tanya Zia sambil berusaha keras menahan air matanya.
__ADS_1
"Kenapa, Ma? Apa Zia tidak di anggap di sini?" tanyanya lagi dengan perasaan yang sangat menahan rasa kecewa.
"Apa karena Zia bukan ibu kandung, Yumna? Makanya Mama dan Tante tidak menganggap jika kabar Yumna penting untuk Zia?" kesal Zia yang sudah mengeluarkan segala uneg-unegnya.