Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 258 - SABAR


__ADS_3

"Maaf, apa saya mengganggu jika bergabung di sini? Kebetulan semua meja sudah penuh," ujar seorang pria yang mana membuat Putri langsung menoleh ke arah sumber suara.


Baru saja Putri memikirkan pria itu, kenapa saat ini dia sudah berada di hadapannya? Apa Arash ini sejenis jin tomang? Jika ada yang memikirkan nya maka dia akan langsung muncul di hadapan orang yang sedang memikirkannya?


"Dasar pengganggu," gumam Bara dan mempersilahkan pria itu untuk duduk dan bergabung bersama mereka.


Arash mendengar jika Bara mengatakan dirinya sebagai seorang pengganggu, akan tetapi hal itu tidak membuat Arash merasa tersinggung dan ingin pergi dari meja mereka. Tidak, Arash tidak akan melakukan hal itu. Dia akan tetap memperjuangkan cintanya, walaupun badai sebesar angin topan berada di hadapannya saat ini.


Tapi, kalau angin topan beneran ada di hadapan Arash saat ini, pastinya dia akan menarik tangan Putri dan membawa gadis itu untuk berlindung. Ya, Arash akan melakukan hal itu, bukannya malah balik menantang angin yang jelas-jelas bukan tandingannya.


Suara Bara yang mempersilahkan Arash untuk duduk pun, mengambil atensi Putri. Gadis itu melihat ke arah Arash yang sudah mengambil tempat duduk tepat di sebelahnya. Ya, kebetulan sekali meja yang mereka tempati saat ini berbentuk bulat. Sehingga membuat Arash bisa dengan leluasa memilih tempat di mana saja, termasuk berada di samping Putri.


"Hai, Put," sapa Arash dengan senyuman lebar yang menghiasi wajahnya.


Putri hanya bisa tersenyum canggung, bagaimana bisa pria itu berada di tempat yang sama dengan mereka. Tidak, bukan itu inti yang Putri maksud, tetapi bagaimana bisa Arash muncul di saat dirinya baru saja memikirkan pria itu.


Apa ini Arash yang nyata? Atau jin tomang yang sedang menyamar sebagai Arash?


"Kok bengong?" tanya Arash sambil melambaikan tangannya di depan wajah Putri yang saat ini sedang menatapnya dengan tatapan yang kosong.


"Hah?"


Putri tersadar dari lamunannya, sehingga membuat Bara yang sedari tadi memperhatikan sang kakak pun, bisa menebak jika gadis itu sangat mencintai pria yang ada di samping gadis itu saat ini. Bara sebenarnya tidak masalah dengan siapa Putri menentukan pilihannya, akan tetapi sepertinya saat ini ada yang di sembunyikan oleh sang kakak perihal perasaannya kepada Arash, tapi apa itu? Cukup melihat jika Putri terlihat seolah tak nyaman berada di dekat Arash, membuat Bara bisa menebak ada sesuatu di antara mereka yang menciptakan sebuah dinding sebagai penghalang bagi keduanya.


Tadinya Bara berpikir jika dia mengizinkan Arash duduk di meja yang sama dengan mereka, maka Putri bisa terlihat mengembangkan senyumannya. Atau setidaknya dia bisa melihat jika sang kakak terlihat bahagia bisa bertemu dengan pria yang gadis itu cintai. Walaupun Putri belum mengakui perasaannya kepada Bara perihal bagaimana perasaan gadis itu kepada Arash, adik dari Putri itu sudah bisa menebak dan bisa di pastikan jika tebakkannya itu benar.


"Nambah satu orang lagi, Uda?" tanya pelayan yang baru saja mengantarkan menu untuk di hidang di atas meja bundar itu.


Suara pelayan yang mengantarkan makanan untuk di hidang di atas meja pun, membuat lamunan Putri pun kembali buyar. Gadis itu langsung mengalihkan perhatiannya kepada beberapa menu makanan yang sudah di letakkan di atas meja oleh pelayan tersebut.


"Iya, Uda," jawab Bara yang mana membuat Arash bernapas dengan lega.


Arash berpikir jika Bara akan berubah pikiran dan mengusirnya dari meja mereka, sehingga membuat pria itu harus mencari meja yang lain dan melihat Putri dari kejauhan. Ternyata pemikiran pria itu salah, Bara tetap menerima keberadaannya yang berada di satu meja makan yang sama dengan pria itu dan Putri.


"Uda, sambal ijo nya tambah dua piring lagi, ya?" pinta Putri yang hanya melihat ada dua piring sambil ijo yang tersaji di atas meja.


"Baik, Uni," ujar pelayan tersebut dan mengambil pesanan tambahan yang di minta oleh Putri.


"Untuk minumnya bagaimana, Uda? Mau pesan apa?" tanya pelayan itu lagi.


"Jus jeruk hangat," jawab Putri dan Arash secara bersamaan, yang mana membuat Bara menoleh ke arah dua orang tersebut.


Bara pun sedikit menaikkan alisnya, di saat mendengar jika sang kakak memesan minuman hangat dari pada minuman dingin. Tidak terlihat seperti Putri yang dia kenal dalam soal pemilihan minuman. Dulu, kalau Bara selalu melarang Putri untuk memesan minuman dingin, gadis itu akan menjawab 'Gak dingin gak segeeerrr .' Begitu katanya sambil memainkan huruf R di akhir kalimatnya.


Tapi sekarang? Tanpa Bara menegur dia pun, gadis itu sudah memesan minuman hangat. Apa ini ada hubungannya dengan Arash?


"Minuman hangat lebih baik untuk lambung," ujar Putri memberikan alasan kepada sang adik, di saat Bara menatapnya dengan tatapan penuh curiga.


Bara pun kembali mengalihkan padangannya kepada pelayan rumah makan, kemudian dia menyebutkan tiga pesanan minuman yang sama, yaitu jeruk hangat.


"Air hangat jangan lupa ya, Uda," ujar Putri dan Arash lagi secara bersamaan, di mana membuat Bara kembali menatap ke arah dua orang tersebut.


Ah ya, jika kalian merasa penasaran kenapa Arash bisa tahu di mana Putri berada saat ini? Maka emak akan memberitahukan nya.


Upss, sepertinya emak tidak perlu memberi tahu lagi ya, dari mana Arash mengetahui posisi Putri berada saat ini. Tentu saja pria itu menggunakan kekuatan saktinya, yaitu menghubungi Abash, sang kembaran.


Bagaimana kisah Arash yang kembali meminta kepada Abash untuk melacak di mana keberadaan Putri, yuk lah kita simak ceritanya.


Beberapa menit yang lalu.


Arash yang sudah merasa frustasi dan merindukan Putri yang baru beberapa jam saja berpisah dengan dirinya pun, tiba-tiba saja mendapatkan panggilan dari sang kembaran, di mana pria itu meminta Arash untuk membawakan ****** ***** ke rumah sakit, jika kembarannya itu datang untuk mengunjunginya sore ini atau pun malam nanti. Sebenarnya itu hanyalah sebuah alasan saja bagi Abash untuk menghubungi sang kembaran dan beralasan dengan memesan sesuatu. Alasan dari panggilan itu adalah karena Abash merasa khawatir dengan kembarannya itu yang semenjak dia pergi mencari keberadaan Putri, pria itu tidak lagi menampakkan batang hidungnya di rumah sakit.


Abash takut, jika Arash menjadi frustasi karena di tolak oleh Putri dan mengurung dirinya di dalam kamar. Sudahlah di tolak oleh kenyataan di mana Sifa ternyata mencintai Abash dan bukan Arash, sekarang masa iya Arash harus mendapatkan cobaan bahwa cintanya di tolak oleh Putri. Lagi pula, salah pria itu sendiri, kenapa terlalu bodoh dan tidak bisa meraba perasaannya sendiri. Padahal sangat terlihat jelas sekali, jika Putri mencintai pria itu, bukan Abash. Tapi pria itu malah berpikir sebaliknya. Dasar bodoh.


Kenapa Arash bisa frustasi? Karena pria itu takut jika dia benar-benar tidak memiliki kesempatan lain untuk mengungkapkan perasaannya kepada Putri. Ya, Arash takut jika kedatangan Bara akan menjauhkan dirinya dari Putri, karena gadis itu sudah memilih Soni. Tanpa Arash ketahui, jika Putri tidak memilih siapa-siapa saat ini juga.


"Lo kelewatan banget, Bash? Tingkat semp*k aja lo minta suruh gue bawain ke rumah sakit. Kenapa gak minta tolong sama Kak Lucas, sih?" kesal Arash yang mana dia sendiri sudah frustasi karena merindukan Putri. "Atau lo kan bisa suruh asisten lo yang beli, Bash? Nyebelin lo kalau lagi sakit," gerutu Arash yang mana membuat Abash tertawa terbahak-bahak.


"Itu kan cuma alasan gue aja, Rash. Gue sebenarnya rindu sama lo, pingin tau keadaan lo sekarang," ujar Abash dari seberang panggilan. "Lagian, lo kenapa gak jengukin gue lagi, sih? Gak cuma gue yang di rumah sakit, Rash, tapi ada kakek dan Quin juga. Ah ya, Kak Anggel juga berada di rumah sakit karena kelelahan," ujar Abash memberitahu.


"Kak Anggel kenapa?" tanya Arash sambil memicit keningnya.


Dia baru menyadari, jika fokusnya kepada Putri membuat dirinya melupakan keberadaan keluarganya yang berada di rumah sakit. Tidak, ini bukan salah Putri, tetapi salahnya sendiri yang memang juga sedang di sibukkan oleh pekerjaan lapanganya.

__ADS_1


Setelah penangkapan Yosi, mereka harus menyisir semua anak buah dan usaha yang pria itu tekuni, agar mereka tidak lagi kecolongan seperti sebelumnya. Yang membuat Arash sedikit heran adalah, jika Josi adik dari Yosi, si biang kerok masalah sebenarnya antara Abash dan Putri pun, sedikit pun tidak terlibat dengan usaha-usaha yang di tekuni oleh sang kakak, sehingga membuat Arash tidak bisa menangkap pria itu bersama dengan Yosi.


"Kan dia lagi hamil, Rash?" ujar Abash dengan sedikit penekanan pada ucapannya.


"Iya, gue tau dia lagi hamil. Maksud gue, dia kenapa?" tanya Arash sambil memutar bola matanya malas.


"Kecapean, sama kayak kayak Quin," jawab Abash. "Lo kapan ke sini? Putri gimana? Udah ketemu? Gue dengar adiknya sudah pulang ke Indonesia, bisa saja Putri saat ini bersama adiknya," ujar Abash yang memang tidak mengetahui apa yang terjadi kepada Arash saat ini.


"Bash," panggil Arash yang mana membuat pria itu bergumam di seberang panggilannya.


"Hmm, apa?" tanya Abash yang memiliki firasat jika kembarannya itu pasti ingin meminta tolong untuk mengecek keberadaan Putri lagi.


"Tolong cek lokasi Putrri lagi, dong?" pinta Arash yang mana membuat Abash mengernyitkan keningnya.


Kan bener dugaan Abash.


"Bukannya lo bilang kalau Putri meninggalkan kalungnya di apartemen lo?" tanya Abash. "Sekarang kenapa lo minta cari keberadaan Putri lagi?" Abash merasa bingung dengan permintaan sang kembaran. Kenapa sih sebentar-sebentar Arash meminta untuk mengecek lokasi Putri, sebenarnya apa yang sedang terjadi dengan mereka saat ini?


"Semalam Putri udah ketemu, dia ternyata makan malam bersama Soni," ujar Arash memberi tahu. "Dia katanya sengaja melepas kalung itu karena memakaia kalung yang lain yang lebih cocok dengan gaun yang dia gunakan. aku sudah suruh dia pakai kalung itu lagi. Jadi, sekarang lo tolong cek lokasi dia, ya?" pinta Arash yang terdengar memohon kepada sang kembaran.


"Lagi?" tanya Abash yang mana di jawab gumaman yang mantap oleh Arash.


"Huum, lagi."


Abash pun menghela napasnya dengan pelan, kemudian dia memutuskan panggilan secara sepihak yang mana membuat Arash menggerutu kesal.


"Lah, malah di matiin. Gak sopan amat sih, pamit kek kalau mau matiin," geram Arash dan meletakkan ponselnya di dashboard mobil.


Sambil menunggu kabar dari Abash, Arash pun kembali meraih ponselnya dan meminta kepada Desi untuk mencari tahu di mana posisi Putri saat ini. Pria itu merasa curiga jika Putri memblokir nomornya.


"Tolong ya, Des, kamu coba hubungi Putri. Tanya di mana dia sekarang berada," mohon Arash kepada teman seperjuangannya itu dari sambungan panggilan telepon.


"Emangnya kamu kenapa lagi sih sama Putri?" tanya Desi dari seberang panggilan.


Tadi pagi saat Arash mengantarkan Desi ke kantor. Gadis itu menceritakan apa yang telah terjadi tadi malam dengan dirinya dengan Putri. Desi sudah mengatakan jika Arash menyukai gadis itu, sehingga membuat Arash merasa percaya diri jika Putri pasti akan menerimanya. Tapi, kalimat selanjutnya yang di ucapkan oleh Desi adalah, di mana jika Putri merasa jika hal itu adalah hal yang salah. Bagaimana bisa Arash yang awalnya mencintai Sifa, tiba-tiba berbalik menjadi mencintai gadis itu.


Arash mengernyitkan keningnya di saat mendengar apa yang Desi katakan. Tiba-tiba saja dia juga merasakan apa yang di katakan oleh Putri ada benarnya. Untuk itulah, tadi pagi saat Arash ingin mengungkapkan perasaannya, dia merasa bingung bagaimana cara  meyakinni Putri, bahwa cinta yang dia rasakan ini bukanlah sebuah pelarian. Melainkan perasaan yang sungguh- sungguh dia rasakan untuk Putri.


Kesal?


Tentu saja, tapi Arash harus berkata apa?  Dia berpikir jika masih akan ada kesempatan lain untuknya mengungkapkan perasaan kepada Putri.


Tapi, saat melihat Putri membawa koper miliknya, membuat pria itu mulai merasa ragu apakah dia masih memiliki kesempatan untuk menemui Putri dan mengungkapkan perasaannya?


Maka dari itulah, Arash uring-uringan saat ini karena dia belum mengungkapkan perasaannya kepada sang pujaan hati.


Desi pun memperingati Arash, agar pria itu segera mengungkapkan perasaannya dan memilih kata-kata yang tepat agar Putri bisa percaya, jika pria itu benar-benar mencintai Putri karena memang cinta, bukan karena pelarian atau pun merasa kasihan dengan kondisi yang Putri alami.


Arash akan mengingat apa yang Desi katakan, untuk itulah dia sedikit kesulitan dalam merangkai kata-kata yang indah agar meyakinkan pujaan hatinya itu.


"Putri udah gak tinggal di rumah lagi pagi ini. Dan aku belum mengungkapkan perasaan aku ke dia," ujar Arash yang mana membuat Desi terkejut.


"Hah, apa? Putri pergi diam-diam gak kasih kabar gitu, maksud kamu?" tanya Desi merasa terkejut dan juga penasaran.


"Bukan begitu, tapi tadi pagi dia di jemput oleh Bara," jawab Arash sambil memutar bola matanya malas.


"Bara? Ngapain Daddy Bara jemput Putri?" tanya Desi yang melupakan nama adik dari Putri adalah Bara. "Kalau Daddy Bara jemput Putri, kenapa kamu malah uring-uringan begini, sih? Kamu tinggal hubungi Daddy aja dan tanya di mana Putri sekarang," ujar Desi yang mana membuat Arash menggeram kesal sambil menjambak rambutnya sendiri.


"Bukan Daddy Bara, Dessiiiii ... tapi Bara, adiknya Putri, Bara," ujar Arash sambil meremas rambutnya untuk menghilangkan rasa kekesalan nya kepada Desi.


"Oh, Bara adiknya Desi, bilanglah. Kirain Daddy Bara," kekeh Desi yang terdengar menyebalkan di telinga Arash.


Sempat-sempatnya gadis itu membuat Arash kesal di saat genting-gentingnya seperti ini. Apa Desi tidak tahu bagaimana perasaan Arash saat ini yang sedang tidak karuan dan takut kehilangan Putri untuk selama-lamanya?


"Ya udah kalau gitu, aku coba hubungi Putri dulu," pamit Desi. "Makanya, jadi cowok itu harus gerak cepat. Punya waktu berduaan tadi pagi di apartemen gak kamu manfaatin untuk mengungkapkan perasaan," ujar Desi yang mana membuat Arash semakin kesal.


"Aku udah mau ungkapin, tapi keburu si Bara api itu datang," kesal Arash sambil mencebikkan bibirnya.


"Bukan salah Bara api kali, tapi kamu aja yang lelet. Gerak lambat dan gak cekatan. Udah ah, aku matiin telponnya dulu, ya, mau coba menghubungi Putri," ujar Desi dan memutuskan panggilannya secara sepihak.


Hal itu pun membuat Arash semakin kesal dan menatap ponselnya dengan perasaan campur aduk.


"Mereka kenapa, sih? Kok panggilan aku malah di putus secara sepihak?" gumam Arash sambil menatap layar ponselnya yang sudah kembali ke menu awal.

__ADS_1


Andai saja Desi dan Abash saat ini berada di hadapannya, mungkin Arash sudah menghajar kedua orang tersebut. Tapi saat ini yang di butuhkan oleh Arash adalah SABAAARRR....


Di tempat lain, lebih tepatnya di rumah sakit.


"Mas Arash bilang apa, Mas?" tanya Sifa yang mendengar percakapan kekasihnya itu dengan kembarannya.


"Loh, kamu kapan ada di sini?" tanya Abash yang tidak menyadari keberadaan sang kekasih karena sakin fokusnya melacak keberadaan Putri.


"Tadi, pas Mas pesan semp*k sama Mas Arash," ujar Sifa dengan mengulum senyumnya, yang mana membuat Arash membulatkan mata saat mendengar perkataan sang kekasih.


"Sudah mulai nakal, ya?"  ujar Abash dengan kerlipan mata yang menggoda.


"Ih, siapa yang nakal? Kan memang bener kalau Mas minta di bawain semp*k sama Mas Arash?" jawab Sifa dengan wajahnya yang polos.


Setiap mendengar kata semp*ak yang keluar dari mulut Sifa, membuat empus Abash pun merasa ngilu dan bergerak gelisah. Sepertinya saran dari Mama Kesya untuk menikahkan mereka bulan depan adalah keputusan yang tepat.


Tapi, setelah Bunda Sasa memberikan pengertian kepada Mama Kesya. Dan para orang tua pun sudah membicarakan masalah itu kepada Abash dan Sifa, sehingga di ambillah keputusan jika mereka akan menikah setelah pengumuman pada perusahaan Kak Farhan telah keluar. Hal itu bertujuan untuk mewujudkan impian Sifa yang sudah dia impikan sejak dari dulu. Mama Kesya juga tidak ingin mematahkan semangat Sifa untuk mewujudkan mimpinya atas dasar keegoisan yang ingin menjadikan gadis itu sebagai menantu dan bagian keluarga Moza.


Ya, Mama Kesya sangat berharap sekali jika Sifa bisa menjadi bagian keluar Moza. Sudahlah anaknya manis, cantik, rajin, pekerja keras, rendah hati, dan juga pintar memasak. Membuat Mama Kesya melihat sosok Bunda Sasa pada diri gadis itu.


Dan hasil keputusan rapat keluarga yang tidak di hadiri oleh Arash itu pun, mendapatkan sebuah keputusan di mana satu bulan setelah pengumuman perusahaan Kak Farhan, maka Sifa dan Abash akan melangsungkan pernikahan. Dan untuk itu, setelah Abash keluar dari rumah sakit, Mama Kesya akan melaksanakan pertunangan Abash dan Sifa secara kekeluargaan saja. Bisa di katakan hanya keluarga inti saja yang akan menghadiri acara pertunangan tersebut, karena status Sifa yang masih ingin di rahasiakan dari publik.


"Mas, udah deh, mandanginnya gak usah mesum gitu bisa gak sih?" tegur Sifa yang mana membuat Abash terkekeh pelan.


"Mesumnya cuma sama kamu, kok," jawab Abash sambil mengedipkan matanya sebelah.


"Iya, tapi jangan mesum sekarang. Nanti ketahuan Mama udah di suruh nikah saat ini juga lagi," ujar Sifa yang mana membuat Abash tertawa terbahak-bahak.


"Gak papa di nikahin sekarang, kan memang mau nya aku." Jawaban yang di berikan Abash pun membuat Sifa mencebikkan bibirnya.


"Iya deh, Mr. mesum dan pemaksa," cibir Sifa yang mana membuat Abash semakin gemas kepada calon istirnya itu.


Abash pun kembali teringat akan tugasnya untuk melacak di mana keberadaan Putri, hingga pria itu kembali menoleh ke arah ponselnya. Setelah menemukan keberadaan Putri, Abash pun langsung mengirimkan titik lokasi di mana gadis itu berada kepada Arash.


"Lokasi siapa, Mas?" tanya Sifa merasa penasaran di saat melihat Abash melacak lokasi seseorang.


"Lokasi Putri," jawab Abash yang sudah menyimpan ponselnya kembali di atas nakas.


"Lokasi Mbak Putri? Memangnya kenapa lagi dengan Mbak Putri? Apa terjadi sesuatu lagi dengan dia?" tanya SIfa merasa khawatir.


"Semoga saja tidak terjadi apa-apa dengan Putri lagi. Ini si Arash cuma minta di kirimkan di mana lokasi Putri, karena sepertinya dia belum sempat menyatakan perasaannya kepada Putri, eh Putri nya sudah keburu di jemput pulang sama adiknya,"  kekeh Abash yang mana membuat Sifa membelalakkan matanya.


"Jadi Mas Arash serius suka sama Putri?" tanya Sifa yang di angguki oleh Abash.


"Iya, tapi bodohnya dia itu tidak menyadari perasaannya sendiri,"  kekeh Abash.


"Memangnya Mas gak bodoh?" tanya Sifa yang mana membuat Abash membulatkan matanya.


"Kamu ngatain aku bodoh?" tanya Abash yang mana di jawab gelengan oleh Sifa.


"Bukan gitu, tapi---"


"Tapi apa, hmm?" tanya Abash yang sudah mengunci pinggang Sifa di lengannya.


"Tapi, Mas itu kurang gercep saat memutuskan sesuatu," cicit Sifa yang mana membuat Abash tersenyum licik.


"Kalau ini, kurang gercep, gak?" tanya Abash yang sudang mencium bibir Sifa dengan cepat.


"Maaass ..." pekik Sifa pelan, karena merasa takut jika ada yang melihat Abash menciumnya. Terutama Mama Kesya.


"Gercep, kan?" tanya Abash sambil menaik turunkan alisnya.


"Kalau mesum aja gercep," cibir Sifa yang mana membuat Abash tertawa terbahak-bahak.


Kembali lagi ke tempat Arash.


Pria itu tersenyum puas di saat mendapatkan pesan singkat dari Abash. Di mana kembarannya itu baru saja mengirimkan pesan kepada dirinya di mana lokasi Putri saat ini.


"Baiklah, mari kita otewee ..."  gumam Arash dengan tersenyum lebar dan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedikit tinggi menuju di mana Putri berada.


Tak berapa sebuah pesan pun kembali masuk dari Desi, di mana gadis itu mengatakan jika ponsell Putri juga tidak bisa di hubungi. Hal itu pun membuat Arash bernapas lega, setidaknya Putri tidak memblokir nomornya.


Singkat ceritanya, begitulah kejadian bagaimana Arash bisa sampai di tempat Putri dan Bara saat ini.

__ADS_1


__ADS_2