
Seluruh mata sudah tertuju ke arah Abash dan Sifa yang baru saja datang. Mereka berdua terlihat benar-benar sangat serasi sekali. Ketampanan dan kecantikan dari dua orang itu sangat memukau sehingga banyak pasang mata yang tertuju kepada mereka berdua.
Bahkan, Sifa sekali pun tidak terlihat seperti orang yang tidak pantas untuk mendampingi pria itu. Sifa benar-benar mampu menyeimbangi penampilannya dengan sang suami.
Senyum tersungging di bibir keduanya, mereka tampak terlihat bahagia dan membuat iri siapa pun yang melihatnya.
"Hai, Pak Abash."
Tiba-tiba saja seorang wanita cantik datang menyapa. Wanita yang dulunya pernah mengincar Abash dan menginginkan laki-laki itu sebagai pasangannya.
Emm, mungkin sampai saat ini wanita itu masih berharap jika Abash memiliki hubungan gelap dengannya. Tidak peduli akan pasangan dari wanita itu yang ada di sampingnya. Ya, siapa yang peduli dengan status. Yang terpenting adalah Abash dapat memuaskan dirinya. Memuaskan dalam segala banyak bidang, dari memuaskan pandangan mata, pikiran, tubuh, dompet, koleksi, dan juga rekeningnya. Tanpa wanita itu tahu, jika Abash bukanlah seperti pria hidung belang lainnya yang bisa dia goda dengan mudah.
"Ya?" jawab Abash dengan dingin menolehkan kepala kepada wanita itu.
Abash sengaja melepaskan rangkulan tangan Sifa pada lengannya.
Sifa terdiam, merasa jika Abash malu akan kehadiran dirinya.
Siapa wanita cantik ini?
Tiba-tiba saja hati Sifa menciut.
Apakah wanita ini kekasih Abash? Melihat kecantikan dan elegan dari wanita tersebut, SIfa menjadi takut.
Abash merengkuh pinggang Sifa membuat istrinya itu menatapnya dan merasa bersalah setelah sempat berpikiran lain. Dia merengkuh pinggang Sifa dengan sangat romantis.
"Hai." Sapa Abash balik dengan tersenyum kecil dan menganggukkan kepalanya seperti yang biasa dia lakukan untuk menyapa orang lain.
Wanita yang menyapa Abash tadi terlihat sangat kesal, terlihat dari raut wajahnya yang berubah dengan seketika melihat tangan Abash yang memeluk istrinya posesif.
"Apa ini istri Anda?" tanya wanita itu sekedar basa basi. Dia tetap memperlihatkan senyuman di bibirnya.
"Ya, dia istri saya. Satu-satunya wanita yang akan menjadi pendamping hidup saya," tegas Abash dan menekan di setiap kalimatnya. SIfa senang akan ucapan dari suaminya ini.
"Ah ya, selamat kalau begitu. Semoga pernikahan kalian langgeng," ujar wanita itu dengan basa basi dan mengulurkan tangannya kepada Sifa.
Sifa pun membalas uluran tangan wanita itu dan tersenyum dengan begitu manisnya. Meski di dalam hati ada rasa aneh karena melihat tatapan wanita ini kepadanya.
"Terima kasih banyak, Nona."
"Kalau begitu sampai bertemu lagi," pamit wanita itu yang entah siapa namanya. Abash pun malas untuk menyebutkan nama wanita itu dan rasanya lidahnya akan gatal jika menyebutkan namanya.
"Ayo, kita bertemu dengan tuan rumah," bisik Abash yang diangguki oleh Sifa.
Abash masih merangkul pinggang sang istri dengan mesra, sengaja pria itu melakukan hal itu, karena dia memang ingin menunjukkan kepada semua orang, jika Sifa adalah miliknya.
Ya, Sifa adalah miliknya.
Dua orang itu masuk ke dalam ruangan pameran, setiap mata memandang dengan iri, tapi Abash tidak peduli akan tatapan mereka. Dia senang dan ingin terus seperti ini kepada istrinya.
"Pak Bobby," sapa Abash sambil mengulurkan tangannya.
"Ah ya, Pak Abash, akhirnya anda datang juga," sambut Pak Bobbi dengan tersenyum lebar menerima uluran tangan dari Abash.
"Apa wanita cantik ini istri anda?" tanya Pak Bobbi menunjuk ke arah Sifa. Wanita muda yang sangat cantik dan serasi dengan Abash.
"Iya, dia adalah istri saya."
"Wah, betapa cantiknya istri anda. Sungguh sangat serasi sekali dengan Anda, Pak Abash," puji Pak Bobbi.
"Terima kasih banyak, Pak Bobbi."
"Ah ya, mari saya kenalkan dengan anak saya." Pak Bobbi pun mengajak Abash untuk bertemu dengan anaknya.
Sebenarnya, dulu Pak Bobbi berniat ingin menjodohkan Abash dengan putri kesayangannya itu. Akan tetapi, sebelum niatnya itu tersalurkan, kabar tentang pertunangan Abash dengan Sifa pun langsung terdengar di seluruh kalangan pebisnis besar. Banyak yang merasa kecewa dengan pilihan Abash, karena beberapa pebisnis lainnya berharap jika mereka bisa menjodohkan putrinya dengan Abash. Terutama karena Abash memilih orang dari kalangan biasa untuk menjadi istrinya. Padahal dia bisa saja menikah dengan anak dari salah satu pengusaha yang ternama dan bisa membuat bisnis mereka semakin berkembang lagi.
Ya, siapa yang tidak ingin menjodohkan putrinya dengan abash? Secara pria itu sudahlah tampan, mapan, kaya, dan juga keturunan dari keluarga Moza. Pastinya, jika siapapun yang akan berbesan dengan keluarga Moza, sudah bisa dipastikan akan mendapatkan keuntungan yang lebih banyak. Ya, itulah tujuannya pernikahan atas dasar perjodohan bisnis.
Abash dan Sifa pun mengikuti Pak Bobbi untuk bertemu dengan putri pria itu. Abash semakin mengeratkan pelukan di pinggangnya saat beberapa pria muda mau pun tua melirik ke arah mereka.
"Jangan tersenyum, Sayang." peringat laki-laki itu melarang sang istri.
"Loh, kenapa?"
__ADS_1
"Aku nggak suka kalau kamu tersenyum sama laki-laki lain. Bibirmu itu cuma buat aku aja. Nggak boleh buat yag lain," bisik laki-laki itu lirih.
Sifa merasa kesal karena ucapan Abash. Mana bisa dia tidak tersenyum jika mereka tersenyum kepadanya. Bagaimana jika mereka menganggap dirinya sombong atau apa?
"Aku nggak mau ya kamu senyum kayak gitu sama mereka. Rasanya aku pengen banget colok mata mereka karena lihatin kamu terus," geram laki-laki itu lagi.
Sifa terpaksa mendatarkan bibirnya yang melengkung daripada dia melihat Abash marah-marah tidak jelas.
"Nola," panggil Pak Bobbi, sehingga wanita cantik yang dipanggil Nola itu pun menoleh ke arah sumber suara.
"Eh, Papa," Nola tersenyum dengan lebar dan menghampiri pria paruh baya tersebut. Memeluk ayah tersayangnya yang sudah semakin tua.
"Perkenalkan, sayang. Ini adalah Pak Abash," ujar Pak Bobbi memperkenalkan Nola kepada Abash.
Nola langsung menatap kagum kepada pria yang bernama Abash itu, tanpa dia melihat dan menyadari jika ada seorang wanita yang berdiri di samping Abash. Nola mengulurkan tangannya kepada Abash, untuk berjabatan tangan wanita itu tanpa ragu sama sekali.
"Nola," ujar Nola dengan suaranya yang lembut dan senyumannya yang begitu indah.
Abash hanya menganggukkan kepalanya tanpa berniat untuk menerima uluran tangan wanita itu.
"Abash, dan ini istri saya, Sifa," ujar Abash yang langsung memperkenalkan Nola kepada istri tercantiknya itu.
"Ah ya," senyuman yang ada di wajah Nola pun seketika luntur, di saat melihat Sifa dengan begitu cantiknya berdiri di samping Abash. Bahkan, pria itu terlihat merengkuh pinggang Sifa dengan posesif dan membuatnya patah hati seketika.
"Sifa," ujar Sifa dan menyambut uluran tangan Nola yang mengarah ke Abash.
"Ya, salam kenal," jawab Nola dengan senyuman yang terpaksa dan menarik tangannya dengan cepat dari Sifa.
Nola menatap sinis Sifa, seolah merasa jijik untuk bersentuhan dengan wanita itu. Ya, walaupun sebenarnya wanita itu tidak mengetahui masa lalu Sifa, tapi tetap saja Nola merasa jijik dan kesal. Menurut wanita itu, seharusnya dirinya lah yang pantas bersanding dengan Abash, bukannya Sifa.
Memang, Sifa terlihat sangat cantik. Tapi, di mata Nola terlihat biasa saja dan baginya dirinya lah yang lebih cantik dari wanita itu. Sayang sekali, dia terlambat untuk mengenal Abash. Andai dia lebih cepat bertemu dengan Abash mungkin saja dia yang akan menjadi pasangan Abash.
"Pak Abash ingin melihat-lihat koleksi yang ada di galeri kamu, Nola. Ayo, tunjukkan ke Pak Abash," titah Pak Bobby.
"Ya, Pa." Dengan sangat terpaksa, Nola pun mengajak Sifa dan Abash untuk melihat-lihat pameran galeri koleksi barang mewah yang dia perjualkan.
Andai saja saat ini dirinya hanya berdua saja dengan Abash, mungkin Nola tidak akan merasa sebete ini, kan?
"Maaf, saya sudah punya jam tangan pemberian istri saya," ujar Abash sambil menunjukkan jam tangan mahal yang dibelikan oleh Sifa, saat wanita itu kuliah di London. Sifa tersenyum kecil dan bangga karena Abash menyebutkan jam itu pemberian darinya.
Nola terlihat berdehem pelan dan semakin terasa kesal, karena nyatanya wanita itu sudah kalah dengan jam tangan dari hadiah pemberian Sifa untuk Abash.
"Mas, aku rasa jam tangan itu bagus untuk dijadikan hadiah ke Mas Bimo. Tinggal cari hadiah untuk Amel saja, Mas," bisik Sifa melirik jam di tangan Nola.
Abash melihat jam tangan itu sekali lagi, kemudian dia meminta kepada Nola untuk membungkus jam tangan tersebut. Senyuman yang begitu lebar dan indah pun seketika langsung terukir di bibir Nola, karena wanita itu berpikir jika Abash pasti membeli jam tangan yang dia rekomendasikan untuk pria itu sendiri.
"Baiklah, saya akan membungkusnya, Pak Abash," ujar Nola dengan suara yang kembali di buat selembut dan semanja mungkin.
Bahkan, Abash yang mendengarnya saja merasa merinding. Dia benar-benar alergi dengan wanita yang berpura-pura lembut seperti Nola. Ya, dari wajahnya saja Abash menebak jika wanita itu tidak sebaik Sifa.
"Ah ya, Mbak, apa jam ini ada pasangannya?" tanya Sifa sebelum Nola membungkus jam tangan yang dia rekomendasikan untuk Abash.
Nola terlihat berpikir sejenak, jika dia mengatakan jika jam tangan yang dia rekomendasikan itu memiliki pasangannya, pasti Sifa akan membeli dan memakai jam tangan yang sama dengan Abash. Tidak, Nola tidak ingin hal itu terjadi. Untuk itu, Nola pun berbohong dan mengatakan jika jam tangan itu tidak memiliki pasangannya.
"Oh, sayang sekali. Jam ini hanya ada satu dan tidak memiliki pasangannya," ujar Nola degan muka yang dibuat menyesal.
"Oh, begitu ya. Sayang sekali," gumam Sifa pelan. Dia menarik tangan suaminya dan Abash pun mendekat.
"Mas, jika tidak ada pasangannya, sebaiknya tidak usah saja," tolak Sifa.
"Kenapa?"
"Aku rasa, jika aku membelikan tas, Amel sudah banyak tas bagus, Mas. Tapi, kalau jam couple dengan Mas Bimo, pasti Amel akan lebih bahagia mendapatkannya. Dia pasti akan selalu memakai jam tangan itu ke mana pun dia pergi, iya kan, Mas?" ujar Sifa meminta pendapat sang suami.
Abash pun merasa jika apa yang dikatakan oleh Sifa ada benarnya juga. Untuk itu, Abash mengcancel jam tangan tersebut dan meminta jam tangan yang memiliki pasangannya.
"Tapi jam ini juga sangat bagus. Pasti akan sangat bergaya dan elegan sekali jika dipakai oleh Anda." Nola masih berusaha untuk membujuk Abash. Rasanya jika dia memakai jam tangan tersebut akan terasa bagus di tangannya. Dengan begitu dia sendiri juga akan memakai jam tangan pasangan itu.
Bukankah akan sangat bagus sekali jika Abash dan Nola memakai jam yang sama.
"Tidak. Saya sedang mencari jam tangan couple. Kalau begitu saya tidak jadi pesan saja."
Nola merasa semakin kesal dan terhina, wanita itu benar-benar sangat membenci Sifa saat ini. Sementara orang yang dibenci sedang bersama dengan Abash dan melihat benda-benda lainnya yang ditampilkan di sana.
__ADS_1
"Sayang. Bagaimana dengan ini?" Tunjuk Abash pada sebuah tas yang ada di dalam pameran itu.
"Nggak Mas. Amel sudah punya banyak tas."
"Siapa yang bilang kalau tas ini untuk Amel. Aku mau belikan tas ini untuk kamu sendiri. Istriku pasti akan sangat cantik sekali kalau pakai tas ini. Ini sangat elegan buat kamu."
Sifa menggelengkan kepalanya. "Kamu nggak mau?"
"Tas yang kamu belikan kemarin saja masih ada yang belum aku pakai. Lalu untuk apa beli tas itu lagi? Cuma akan membuat penuh lemari saja," ujar wanita itu dan menarik tangan suaminya untuk pergi dari sana.
"Siapa yang akan kita cari untuk Amel ya? Aku jadi bingung Mas."
Tatapan Sifa diedarkan ke sekelilingnya dan masih mencari benda yang sekiranya pantas untuk dijadikan hadiah, tapi Sifa malah semakin bingung karena banyak barang bagus yang dipamerkan di sana.
"Kamu sudah nemu hadiah buat Amel?" Tanya Abash yang setia mengikuti ke mana Sifa pergi.
"Aku bingung. Coba kamu bantu carikan apa yang sekiranya pantas."
Abash juga merasa bingung dengan permintaan Sifa. Apa yang harus diberikan kepada teman dari istrinya itu.
"Aku pikir Amel juga akan senang apapun hadiah yang dia terima dari kamu. Tapi kalau memang nggak ada yang bisa kamu lihat di sini, kita bisa cari ke tempat lain."
Sifa masih bingung dengan hadiah itu. Dia merasa bersalah kepada suaminya karena telah repot-repot mengajaknya kemari. Mana mungkin dia pulang dengan tangan kosong. Maka dari itu Sifa memutuskan untuk membeli yang lain saja.
"Maaf ya Mas, aku jadi bikin kamu repot." Sifa merasa bersalah kepada suaminya. Akhirnya dia membawa pulang sebuah dompet sederhana dengan harga yang tidak terlalu mahal.
"Enggak apa-apa. Tapi apa kamu yakin cuma ini saja? Banyak dompet yang bagus di dalam sana."
Sifa mengerti akan maksud suaminya itu. Yang dia maksud bukan hanya dompetnya tapi juga nominal uang yang telah tadi dikeluarkan.
"Aku suka dengan model yang ini Mas. Terlihat sederhana. Kalau yang lain aku nggak terlalu suka."
Sengaja Sifa berbicara seperti itu karena dia sadar jika selama beberapa hari di Bali mereka sudah menghabiskan terlalu banyak uang. Meskipun Abash adalah orang yang memiliki harta banyak, tapi dia juga bukan wanita yang bisa dengan mudah menghabiskan uang. Sayang sekali jika menghabiskan banyak uang hanya untuk barang-barang yang akan jarang dia pakai.
"Kita pulang aja yuk."
"Iya baiklah."
Sepanjang perjalanan pulang, Sifa melihat ada penjual jagung bakar, sehingga tiba-tiba saja perut wanita itu terasa lapar. Mungkin rasanya akan sangat nikmat sekali memakan jagung bakar di pinggir pantai dengan di temani semilir angin yang bertiup. Di tambah lagi, cuaca malam ini cukup bagus, seperti malam-malam kemarin. Di mana langit yang gelas di penuhi dengan bintang-bintang yang indah. Kerlap-kerlipnya mampu menyihir siapa saja yang memandang.
"Kamu mau makan jagung bakar?" tawar Abash.
Sifa langsung menoleh ke arah sang suami. Dari mana Abash tahu, jika dirinya saat ini menginginkan jagung bakar? Ah, apa ini yang di namakan cheimistri yang sama?
"Boleh, Mas, aku terserah sama kamu aja."
Abash pun menghentikan mobil yang dia kendarai di pinggir jalan, kemudian mereka turun dari mobil dan sedikit berjalan menuju ketempat si penjual jagung bakar.
"Bli, jagung bakarnya dua ya," pinta Abash yang di angguki oleh si penjual.
"Baik, Bli, di tunggu sebentar ya," pinta si penjual. "Eh, ini mau yang pedes atau yang manis?" tanya si penjual jagung.
"Sayang, kamu mau yang pedas atau yang manis?" tanya Abash kepada Sifa.
"Aku mau yang pedas, Mas."
Abash pun kembali menghadap ke arah si penjual. "Yang pedas aja dua ya, Bli."
"Baik, Bli, di tunggu sebentar."
Abash dan Sifa pun memilih tempat duduk yang memandang ke arah lautan. Di mana lautan gelap itu di terangai oleh cahaya bulan purnaman. Ah, sungguh pemandangan yang sangat indah sekali.
"Mas, aku kok merasa kita sedanga syuting film, ya?" kekeh Sifa dan menoleh ke arah sang suami.
"Anggap saja kalau itu benar, sayang, Dan itu artinya, kita harus mengabaikan orang yang ada di sekitar kita," ujar Abash sambil merapikan rambut Sifa yang di tiup oleh angin.
tatapan mata Abash dan Sifa yang saling bertemu pun, membuat Abash tergoda untuk mencium sang istri. Hingga perlahan, kepala Abash mendekat ke wajah Sifa.
"Bli, ini jagungnya," ujar penjual dan ikut terkejut, di saat dia datang di waktu yang salah.
Sifa dan Abash bergegas menjauhkan diri, kemudian mereka tersenyum kikuk kepada si penjual.
"Terima kasih, Bli," ujar Abash dengan gugup.
__ADS_1