
Zia mengambil air kemasan yang diberikan oleh Ibra. Gadis itu tersenyum seraya mengucapkan terima kasih.
"Kenapa kamu pergi sendiri ke rumah sakit? Mana Arash?" tanya Ibra yang tidak melihat suami dari gadis yang masih bersemayam di hatinya.
Tidak, sebenarnya bukan Ibra tidak melihat keberadaan Arash, akan tetapi pria itu sejak awal sudah melihat jika Zia pergi sendiri ke rumah sakit tanpa di dampingi oleh suaminya.
"Mas Arash di rumah, dia lagi kurang enak badan," jawab Zia sambil tersenyum kecil.
Ibra ikut tersenyum seraya sambil mengangguk-anggukan kepalanya.
"Apa kamu bahagia, Zi?" tanya Ibra yang mana membuat Zia langsung menoleh ke arahnya.
"Maksud kamu?" tanya Zia dengan kening mengkerut.
Apa dirinya terlihat tidak bahagia saat ini?
"Apa kamu hidup bahagia bersama Arash? Apa dia memperlakukan kamu dengan baik?" Ibra mengulang kembali pertanyaannya. Kini pertanyaan pria itu lebih detail dari yang sebelumnya.
"Aku bahagia karena Rayyan dan Yumna membuat diriku menjadi sempurna," jawab Zia dengan tersenyum. "Dan Mas Arash, dia baik," ujar Zia dengan singkat.
Ibra menghela napasnya secara perlahan. Andai saja gadis yang ada di hadapannya saat ini tidak berstatus istri orang, mungkin dirinya sudah menarik Zia ke dalam pelukannya saat ini. Ibra dapat melihat, ada luka dan kesedihan yang mendalam di mata gadis yang ada di sampingnya saat ini.
Zia dan Ibra saling memandang dengan tatapan mata yang berbeda. Ibra dengan tatapan sendunya, sedangkan Zia dengan tatapan matanya yang seolah berkata jika semuanya baik-baik saja.
"Loh, di sini toh ternyata? Di cariin ke mana-mana dari tadi," ujar Bunda Sasa yang mana membuat Zia dan Ibra menoleh ke arah sumber suara.
"Bun," sapa Zia dan berdiri untuk menyambut kedatangan Bunda Sasa.
Zia mengulurkan tangannya untuk mencium punggung tangan Bunda Sasa.
"Bagaimana keadaan kamu, Zi?" tanya Bunda Sasa menyapa mantan calon menantunya itu.
"Alhamdulillah, baik Bun. Bunda sendiri gimana kabarnya?" tanya Zia balik.
__ADS_1
"Alhamdulillah, Bunda juga baik."
"Ada apa, Bun? Kenapa Bunda mencari kami?" yg Ibra memotong pembicaraan dia perempuan beda generasi itu.
"Oh, begini, seluruh keluarga sedang berkumpul untuk membaca Yasin, agar operasi Sifa berjalan dengan baik dan lancar," ujar Bunda Sasa mengatakan tujuannya mencari keberadaan Zia dan Ibra.
"Ayo!" ajak Bunda Sasa dan berjalan bersama Zia dengan pelan.
Ibra menghela napasnya kembali, entah yang ke berapa kali pria itu menghela napas dalam waktu satu jam, semenjak pria itu melihat Zia untuk pertama kalinya setelah enam bulan berlalu.
Ibra menatap lurus ke arah punggung Bunda Sasa dan Zia yang sudah berjalan menjauh darinya, hingga tiba-tiba kedua wanita itu berhenti dan berbalik menoleh ke arahnya.
"Kenapa kamu malah bengong di situ, sih? Ayo!" ajak Bunda Sasa menegur Ibra.
Ibra tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Pria itu pun melangkahkan kaki dan berjalan mendekat ke arah Bunda Sasa dan Zia.
"Andai saja status kamu adalah istriku, Zi," batin Ibra yang masih menatap lurus ke arah Zia.
Di sisi lain, Arash menatap lurus ke arah Ibra yang berada di belakang Zia. Ada rasa bersalah dan juga segan yang tidak bisa Arash ungkapkan dengan kata-kata. Bahkan, jika di suruh bicara pun, Arash tidak tahu harus memulainya dari mana.
Ya, Arash merasa bersalah karena sudah merebut Zia dari Ibra.
Tunggu, apakah Arash benar telah merebut Zia dari Ibra?
Arash mengabaikan keberadaan Zia dan tersenyum kepada Ibra, akan tetapi pria itu terlihat seolah tidak menganggap jika dirinya ada. Biarlah, lagi pula jika Arash berada di posisi Ibra, maka pria pasti akan melakukan hal yang sama. Arash bisa memakluminya.
Operasi caesar yang dijalani oleh Sifa pun akhirnya selesai, di mana ibu dan bayinya dalam keadaan selamat dan sehat. Seluruh keluarga mengucap rasa syukur, karena akhirnya seorang pangeran dan keturunan Moza telah lahir kembali.
"Selamat ya, Mas Abash," ujar Zia dengan tersenyum.
"Terima kasih, Zi," Abash menyambut uluran tangan Zia, pria itu berharap jika adik iparnya itu bisa mendapatkan kebahagiaan yang setimpal dengan pengorbanan yang sudah gadis itu lakukan selama enam bulan ini.
Abash juga terkejut dengan keberadaan Ibra. Di mana ternyata pria itu sudah kembali di tugaskan di Jakarta. Dan itu artinya, jika Ibra telah kembali untuk selamanya. Lagi pula, Ibra saat ini sedang menimba ilmu di salah satu universitas, untuk itulah mengapa pria itu kembali ke Jakarta dalam waktu yang cukup lama.
__ADS_1
"Kapan balik, Bra?" tanya Abash saat pria itu memberikan selamat kepadanya.
"Baru dua hari yang lalu, Bash," jawab Ibra sambil tersenyum.
Abash pun mengangguk-anggukan kepalanya mendengar jawaban dari sepupunya itu.
*
Sifa sudah diperbolehkan masuk ke dalam ruang inapnya bersama sang bayi. Seluruh keluarga terlihat berebutan untuk menggendong bayi tampan tersebut.
Untungnya zaman sudah memiliki peralatan yang canggih dan obat-obatan yang mujarab, di mana setelah menjalani operasi Caesar, Sifa tidak merasakan sakit layaknya dengan apa yang dialami oleh para pasien ibu melahirkan yang melalui secara Caesar.
Setelah bius lada tubuhnya habis, Sifa langsung bisa mendudukkan tubuhnya. Bahkan dia sudah bisa berjalan, walaupun dalam langkah yang begitu pelan.
Sifa tidak bisa bayangkan, bagaimana reaksi Abash saat melihat dirinya menahan rasa sakit. Bahkan, saat di ruangan operasi saja, Abash sampai di suruh keluarga oleh Anggel, karena pria itu benar-benar cerewet dan membuat konsentrasi para tim dokter terganggu.
Syukurlah, Sifa tidak merasakan sakit layaknya pada pasien caesar pada umumnya.
Saat Sifa berada di ruang inapnya. Sedetik pun atau semili pun Abash tidak ingin jauh dari sang istri.
"Bash, ngomong-ngomong ini si baby tampan siapa namanya?" tanya Mama Kesya yang sedang menggendong cucunya itu.
Abash melirik ke arah Sifa dengan tersenyum. Pria itu menggenggam tangan sang istri dengan penuh kehangatan.
"Luthfi Ubaid Moza. Artinya ramah dan berhati lembut dan menjadi orang yang beriman," ujar Abash memberitahu.
"Nama yang bagus. Hai Luthfi," sapa Quin sambil mencuil-cuil pipi bayi tampan itu.
Zia menatap bayi mungil yang terlihat sangat menggemaskan itu. Dia membayangkan jika bayi itu adalah putranya. Berharap jika suatu saat nanti dirinya juga bisa merasakan bagaimana rasanya mengandung dan melahirkan. Tapi, sepertinya apa yang dia harapkan hanya sebuah mimpi yang tidak bisa terwujud. Dirinya tidak akan pernah bisa merasakan bagaiman menjadi seorang ibu yang benar-benar menjadi ibu, di mana dia bisa merasakan apa itu arti kesakitan yang membuatnya merasa bahagia secara bersamaan.
Hari itu tidak akan pernah hadir di dalam hidupnya, kan?
Lagi pula, memiliki Rayyan dan Yumna sudah menjadi anugerah terindah untuknya. Zia bisa selalu bisa dekat dengan almarhumah Putri.
__ADS_1