Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 434


__ADS_3

Sifa memandang wajah bahagia semua teman-teman se-tim nya. Awalnya dia berpikir jika akan ada kecanggungan yang panjang di acara makan-makan ini. Ternyata, semua tim cobra menikmati sajian yang tersuguh di atas meja. Memang, saat awal masuk ke restoran, mereka semua terlihat canggung. Tidak semua sih, ada beberapa yang mungkin sudah terbiasa makan di restoran mewah. Tapi, perlahan-lahan suasana menjadi hangat dan membuat semua tim cobra menikmati acara perpisahan mereka dengan Sifa.


Hal yang Sifa khawatirkan lainnya adalah kehadiran Kak Farhan yang pastinya akan membuat suasana semakin terasa canggung. Dan ternyata, pasang dari pria itu juga ikut datang dan membuat mencairkan suasana yang ada.


"Bagaimana kalau aku kasih hadiah spesial sebagai perpisahan kamu, Sifa?" tawar Kak Tissa.


"Hadiah? hadiah apa, Kak?" tanya Sifa penasaran.


"Berhubung semuanya sudah selesai makan, bagaimana kalau kalian semua berkumpul untuk mengambil gambar?" titah Kak Tissa.


"Buat barisan gitu, Buk?" tanya Dini.


"Huum, terserah deh gimana barisannya. Yang terpenting bisa dapat semuanya di kamera."


Dewi pun langsung menyuruh tim-nya untuk berbaris, di mana Sifa berada di tengah-tengah antara mereka.


"Mas, kamu gak mau masuk?" tanya Mbak Tissa kepada sang suami.


"Aku harus masuk juga?"


"Iya dong, kan kamu atasannya." Mbak Tissa pun meminta Kak Farhan berdiri di belakang Sifa, di mana pria itu juga tepat berada di tengah-tengah karyawannya.


Foto terdiri dari dua lapis barisan, setelah melihat semuanya rapi dan siap untuk di jepret, Kak Tissa mulai menghitung dan mengambil gambar mereka dengan menggunakan ponselnya.


"Oke, selesai," ujar Kak Tissa sambil memandang hasil jepretannya.


"Foto ini akan aku buat menjadi sebuah lukisan. Nanti, kalau sudah jadi, aku kirim ke apartemen kamu, ya!" ujar Kak Tissa kepada Sifa.


"Mau di bikin lukisan, Kak? serius?" tanya Sifa terkejut.


Sifa tahu, jika lukisan Kak Tissa bukanlah sebuah lukisan sembarangan. Lukisan wanita itu benar-benar sangat berkelas dan sungguh sulit sekali jika ingin di mintai lukiskan oleh wanita itu. Sifa benar-benar merasa sangat beruntung sekali.

__ADS_1


"Iya, aku bikinin lukisan untuk kamu. Spesial." Kak Tissa tersenyum dengan begitu manisnya.


"Terima kasih banyak, Kak. Terima kasih banyak," ujar Sifa merasa terharu dengan hadiah yang akan di berikan oleh Kak Tissa kepadanya.


Sifa memandang ke arah sang suami, wanita itu pun menggerakkan bibirnya mengucapkan terima kasih, karena sudah memberikan kejutan perpisahan yang begitu berkesan.


"Fa, mintain foto yang di ambil sama istri bos dong," bisik Dewi.


"Oh, mau pasang ke story?" tebak Sifa.


"Iya. Kapan lagi kan dapat foto bareng sama si bos pas bukan acara resmi," kekeh Dewi.


"Oke, bentar ya."


Sifa pun mendekati Kak Tissa dan meminta foto yang wanita itu ambil tadi untuk di kirim ke ponselnya, karena teman-teman se-timnya ingin membuat story di akun sosial media mereka masing-masing.


Kak Tissa mengirimkan foto tersebut, yang mana langsung di kirim oleh Sifa ke group tim cobra.


Beberapa detik kemudian, laman status story pesan singkat online milik Sifa pun di penuhi oleh foto yang baru saja dia kirimkan.


"Si Luki, Buk. Suaranya aduhai," tunjuk Dewi.


"Oke, yuk duet bareng saya," ajak Kak Tissa yang mana membuat suasana pun semakin ramai.


Mereka tidak menyangka, jika istri dari bos besar perusahaan di mana tempat mereka mengais rezeki ternyata sangat baik, humble, dan asik, sehingga membuat suasana pun menjadi ramai.


Sibuknya Kak Tissa pada karirnya, membuat wanita itu jarang sekali terlihat datang ke perusahaan Kak Farhan. Bahkan, saat acara-acara penting sekali pun, kedatangan Kak Tissa dapat di hitung dengan jari saat menemani sang suami.


Untuk itulah, banyak karyawan yang tidak tahu sifat asli Kak Tissa sebenarnya. Menurut mereka, jika bosnya sudah dingin dan irit bicara, serta memiliki istri yang sibuk dengan karir, pastinya sifat Kak Tissa terkenal dengan seseorang yang sulit untuk di dekati. Ya, begitulah yang ada di dalam pemikiran tim cobra.


Entah berapa lagu yang di nyanyikan oleh Kak Tissa dan tim cobra. Bahkan Abash dan Sifa pun juga di bujuk untuk menyanyikan sebuah lagu.

__ADS_1


Suara Abash yang terdengar merdu pun membuat siapapun yang mendengarnya pasti merasa meleleh.


"Baiklah, karena semua orang sudah bernyanyi dan hanya tersisa Pak Farhan saja. Emm, bagaimana kalau Pak Farhan ikut menyumbangkan lagu?" ujar Luki dengan gugup.


"Saya? Tidak … saya tidak bisa bernyanyi," tolak Kak Farhan.


"Ayolah Kak, hanya satu lagi saja," bujuk Abash.


"Tidak, Bash. Aku tidak bisa bernyanyi," tolak Kak Farhan lagi.


Kak Tissa pun mendekati sang suami, merayu pria itu hingga akhirnya membuat Kak Farhan memegang mic yang diberikan oleh sang istri.


Tepuk tangan pun mulai terdengar, mereka semua penasaran dengan suara Kak Farhan yang terkenal irit bicara itu dan ekspresi itu.


Lirik demi lirik pun di ucapkan oleh Kak Farhan, yang mana membuat semua tim cobra harus menahan senyumannya. Wajar saja Kak Farhan menolak untuk bernyanyi, ternyata pria itu benar-benar buruk dalam nada lagu.


Untungnya suara Kak Tissa dapat menutupi suara Kak Farhan yang terkesan terdengar datar.


Sifa yang berdiri di samping sang suami pun, menggenggam tangan pria itu dengan hangat, sehingga membuat Abash menoleh ke arahnya.


"Terima kasih banyak, Mas. Terima kasih banyak untuk semua ini."


"Iya sayang, tapi ini semua tidak gratis," balas Abash dengan berbisik.


Sifa mengernyitkan keningnya, hingga beberapa detik kemudian wanita itu mengerti apa maksud dari sang suami.


"Mau warna apa? Putih? Atau merah? tawar Sifa dengan berbisik.


Abash tersenyum lebar, pria itu cukup tahu apa yang dimaksud oleh sang istri.


"Warna hitam, tapi tali spageti dan jaring-jaring," request Abash yang mana membuat Sifa membulatkan matanya.

__ADS_1


"Maas, itu terlalu seksi."


"Ntar juga bakal di lepas semua. Gak papa lah. Namanya juga bayaran untuk aku," ujar Abash sambil mengedipkan matanya sebelah.


__ADS_2