
Kak Farhan memandang surat pengunduran diri Sifa. Pria itu menghela napasnya pelan, karena akhirnya waktu yang dia takutkan itu datang juga. Ya, akhirnya Sifa memberikan surat pengunduran dirinya hari ini.
"Kamu yakin Sifa untuk mengundurkan diri?" tanya Kak Farhan memastikan.
"Iya, Pak. Saya yakin."
"Kalau saya boleh tau, apa ini ada paksaan dari pihak lain?" tanya Kak Farhan memastikan. Ya, walaupun pria itu yakin, jika keluarga Moza atau Abash tidak mungkin meminta Sifa untuk mengundurkan dirinya.
Memang syarat yang harus Sifa jalani untuk bekerja di perusahaan Kak Farhan terbilang cukup berat bagi seseorang yang sudah menikah, apalagi orang tersebut berjenis kelamin wanita. Pastinya mereka harus mengikuti syarat yang diberikan oleh perusahaan, di mana tidak boleh menikah atau hamil saat masih dalam kontrak kerja yang belum genap lima tahun.
__ADS_1
Kak Farhan memberikan izin kepada Sifa untuk menikah, karena sebenarnya Abash secara diam-diam telah membayar dispensasi atas pelanggaran kontrak kerja tersebut tanpa sepengetahuan Sifa. Yang hanya ditekankan oleh Kak Farhan hanyalah Sifa yang tidak boleh hamil sebelum masa kontrak kerjanya selama lima tahun itu habis.
Berhubung Sifa akhirnya menyerah dengan syarat dan pekerjaan yang sudah menjadi impiannya itu, Kak Farhan pun tidak bisa melakukan apa-apa, karena keputusan tersebut memang berasal dari Sifa tanpa paksaan dari orang lain.
"Baiklah, Sifa. Jika kamu memang sudah bertekad untuk mengundurkan diri, maka saya tidak bisa menahan kamu untuk tetap di sini," ujar Kak Farhan dengan perasaan sedih karena akhirnya dia harus melepaskan berlian langka itu.
"Tapi, jika kamu masih ingin tetap bekerja di sini lagi suatu saat nanti, maka pintu perusahaan ini selalu terbuka lebar untuk kamu kembali, Sifa. Kapan pun kamu ingin kembali, mau itu dua tahun yang akan mendatang, bahkan lima tahun yang akan mendatang pun, perusahaan ini tetap akan membuka lebar sayapnya untuk memeluk kamu," ujar Kak Farhan sungguh-sungguh.
Ya, walaupun Sifa merasa kurang nyaman bekerja di perusahaan sang suami, akan tetapi tempat itu adalah tempat di mana mulanya karir Sifa mulai mengepakkan sayapnya. Dan juga, perusahaan itu adalah sumber utama dari penghasilan sang suami yang akan membiayai kehidupan dirinya dan juga anaknya kelak.
__ADS_1
"Terima kasih, Pak, atas tawaran yang Pak Farhan berikan. Saya benar- benar merasa sangat tersanjung dan juga merasa tidak enak, karena saya tidak bisa bekerja secara profesional seperti apa yang seharusnya.""
"Ya, jujur saja, Sifa. Saya sedikit keberatan untuk melepaskan kamu dari perusahaan ini. Tapi, karena semua ini sudah menjadi keputusan kamu, maka saya tidak bisa memaksa kamu untuk tetap tinggal. Lagi pula, Abash telah membayar semua biaya pinaltinya, saya pun tidak lagi memiliki alasan untuk menahan kamu di sini. Walaupun sebenarnya saya ingin melakukan itu," kekeh Kak Farhan.
Sifa pun ikut tersenyum menahan tawanya, di saat mendengar jika Kak Farhan ingin menahan dirinya agar tidak keluar dari perusahaan ini.
"Baiklah Sifa, saya harap kamu bisa mempertimbangkan tawaran saya tadi." Kak Farhan pun mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Sifa, yang langsung di sambut oleh wanita itu.
"Senang bekerja sama dengan kamu, Sifa."
__ADS_1
"Sama-sama, Pak, saya juga senang bekerja sama dengan Pak Farhan."
Satu tetes air mata Sifa yang sedari tadi dia tahan pun, akhirnya jatuh dengan mulus membasahi pipinya.