Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 227 - Put, di mana kamu?


__ADS_3

"Soni?" lirih Arash seolah pernah mendengar nama itu. Tapi di mana?


Arash pun bergegas mengganti pakaiannya ke dalam kamar mandi. Sembari mengganti pakaian, pria itu juga menyempatkan untuk mengirimkan pesan dan mengunjungi Putri. Entah berapa banyak pesan yang dia kirimkan, dan entah berapa banyak panggilan yang dia buat. Tetapi, hasilnya tetap sama, nomor Putri masih belum bisa di hubungi.


Arash keluar dari dalam kamar mandi, pria itu pun sudah berganti pakaian dengan pakaian yang kering dan rapi.


"Ma, Arash cari Putri dulu, ya?" pamit Arash kepada Mama Kesya, yang mana membuat wanita paruh baya itu mengernyitkan keningnya. Tidak hanya Mama Kesya, Naya dan Kak Martin pun juga ikut mengernyitkan keningnya mendengar ucapan Arash.


"Untuk apa kamu cari Putri?" tanya Naya penasaran.


Bukannya Naya tak tahu, jika Arash menyukai Sifa. Gadis itu sangat tahu sekali, karena Arash pernah keceplosan saat itu.


"Putri gak boleh pergi dengan sembarangan Orang. Dia harus tetap berada di bawah pengawasan aku," ujar Arash yang sudah memakai jaketnya.


"Rash, Soni Alexander bukanlah orang sembarangan, dia adalah orang yang hebat. Aku yakin, jika Putri akan aman bersamanya. Lagi pula, Soni adalah teman masa kecil Putri," ujar Kak Martin memberitahu.


"Tapi, bagaimana jika Putri terluka?" tanya Arash merasa khawatir.


"Rash, kamu ini bertanya seperti itu, seperti orang yang sedang cemburu aja!" goda Naya. "Atau jangan-jangan kamu cemburu lagi?" kekehnya.


"Hah? Si-siapa yang cemburu? Aku gak cemburu kok. Aku hanya khawatir aja," ujar Arash dengan gugup.


"Khawatir kok berlebihan gitu sih, Rash? Lagi pula, kenapa Putri harus berada di bawah perlindungan kamu? Memangnya Putri kenapa?" tanya Mama Kesya yang mana membuat Arash tersadar, jika dirinya telah salah bicara.


Arash pun mengerjapkan matanya, pria itu menggigit bibir bagian dalamnya meratapi kesalahan yang baru saja dia lakukan.


"I-itu, Ma. Putri kan pergi sama Arash ke sini, jadi, sudah sepatutnya kan kalau Putri berada di bawah perlindungan Arash?" ujarnya hasil dari pemikiran cepat.


"Iya sih. Tapi, kalau pun Putri mau bertemu dengan temannya, gak ad salahnya kan? Lagi pula Putri kan juga punya kehidupan pribadinya, Rash. Masa iya mentang-mentang kamu bawa dia ke sini, terus dia mau bertemu dengan temannya, masa kamu larang-larang sih? Aneh-aneh aja," ujar Mama Kesya sambil menggelengkan kepalanya.


"Atau apa yang di katakan oleh Naya bener lagi. Kalau kamu cemburu Putri pergi dengan pria lain?" ujar Mama Kesya dengan nada yang menggoda.


"Hah? Eng-enggak lah, Ma. Arash gak cemburu kok. Lagi pula, Arash sedang suka sama seseorang," ujar Arash yang mana membuat Mama Kesya membulatkan matanya.


"Oh ya? Siapa?" tanya Mama Kesya penasaran dan juga rasa was-was secara bersamaan.

__ADS_1


"Nanti, kalau Arash sudah resmi pacaran sama dia. Arash akan kenalkan dia ke Mama," ujar Arash yang mana membuat Mama Kesya semakin merasa penasaran.


"Kira-kira, Mama kenal, gak?" tanya Mama Kesya yang mana membuat Arash tersenyum malu.


"Bisa di bilang gitu, sih," cicitnya dengan pelan.


"Oh ya? Kira-kira siapa, ya? Duh, Mama jadi penasaran deh," ujar Mama Kesya dengan tersenyum.


"Nanti, Ma. Kalau Arash sudah menyatakan perasaan kepadanya. Pasti, Arash akan kenalkan dia ke Mama," ujar Arash kembali.


"Hmm, ya udah deh kalau begitu, semoga gak lama-lama kamu kenalin dia ke Mama, ya. Dan juga, kalau bisa kalian itu jangan pacaran lama-lama. Kalau sudah merasa cocok, lamar aja," nasehat Mama Kesya.


"Iya, Ma."


Tiba-tiba Mama Kesya teringat, jika hanya Arash yang belum mengetahui hubungan Abash dan Sifa. Lagi pula, untuk memperkecil kemungkinan jika Arash menyukai wanita yang sama dengan kembarannya itu. Bukankah alangkah baiknya dia harus seegra tahu tentang hubungan Abash dan Sifa?


"Ah ya, gimana kalau kita jenguk Abash aja?" ajak Mama Kesya kepada sang Putra. "Kamu belum jenguk dia kan hari ini?"


"Eng, itu..."


Arash merasa ragu, apakah dia siap bertemu dengan Sifa dan Abash saat ini? Di saat hatinya terasa terluka saat mengetahui jika mereka berdua memiliki hubungan yang spesial.


Mau tak mau, Arash pun terpaksa mengikuti Mama Kesya menuju kamar Abash.


Arash pun menekan handle pintu kamar inap sang kembaran, sehingga membuat Sifa dan Abash yang tengah berbincang dan tertawa pun menoleh ke arah pintu.


"Rash, Ma," sapa Abash dengan tersenyum lembar.


"Hai, gimana kabar Lo hari ini?" tanya Arash dengan canggung dan berjalan ke dekat sang kembaran.


"Baik, sangat baik," jawab Abash sambil terswnyum lebar.


"Hmm, baguslah," lirih Arash dengan tersenyum kecil.


Mama Kesya yang melihat kecanggungan pada diri Arash pun, merasa ada sesuatu yang sudah terjadi dengan pria itu terhadap kembarannya. Apakah Arash sudah mengetahui tentang Sifa dan Abash?

__ADS_1


"Eng, Sifa, kamu temani Tante cari cemilan, yuk," ajak Mama Kesya yang sengaja ingin membiarkan Arash dan Abash memiliki waktu berdua.


"Iya, Tante."


Sifa pun berpamitan kepada Arash dan Abash, kemudian dia pergi bersama Mama Kesya dan meninggalkan si twins A itu berdua saja.


"Rash, ada yang mau gue katakan sama, Lo," ujar Abash yang mana membuat Arash menganggukkan kepalanya.


"Ya, katakan," ujarnya dengan tersenyum.


Abash pun menghela napasnya dengan pelan. Melihat tatapan mata sang kembaran yang terlihat sendu, membuat pria itu pasti sudah bisa menebak apa yang ingin dia katakan. Lagi pula Abash sudah bisa menebak, jika Arash pasti memiliki perasaan dengan Sifa. Jika tidak, mana mungkin pria itu merasa canggung saat melihat mereka berdua.


"Sebenarnya, aku dan Sifa sudah berpacaran," ujar Abash yang menatap lurus ke wajah sang kembaran.


"Hmm, ya. Selamat ya, karena kamu sudah menemukan tambatan hati kamu," ujar Arash dengan tersenyum kecil.


Hening, keduanya pun terdiam dengan pemikiran masing-masing.


"Apa dia marah?" batin Abash sambil menatap ke lurus ke arah sang kembaran yang terlihat sedang melamun.


"Put, kamu di mana? Kenapa kamu tidak membalas pesan aku?" batin Arash yang tak fokus dengan apa yang Abash katakan.


"Rash?" panggil Abash yang mana kembali mengambil atensi Arash.


"Ya?" tanya Arash dengan bingung.


"Kamu gak papa, kan?" tanya Abash memastikan.


Arash mengerjapkan matanya, otak dan pikiran pria itu pun saat ini sedang tidak sinkron.


Hatinya masih ingin mendengarkan penjelasan dari Abash, tetapi pikirannya sedang menguasai dirinya saat ini yang sedang memikirkan di mana keberadaan Putri.


"Rash?"


"Bash! Gue pergi dulu, ada yang harus gue lakukan sekarang. Lo tolong gue lacak keberadaan Putri, kirim lokasi dia sekarang," ujar Arash dengan cepat. "Ini sangat penting, segera ya?" ujar Arash dan berlari keluar dari dalam kamar inap Abash.

__ADS_1


Hal itu pun membuat Abash bingung dan mengernyitkan keningnya.


"Ada apa dengan Putri?" lirihnya dan mengirimkan pesan kepada Didi untuk mencari lokasi keberadaan Putri.


__ADS_2