Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 25 - PutingBeliung


__ADS_3

"Bapak mau kemana?" tanya Sifa saat melihat Abash sudah rapi dengan jas lengkapnya.


"Kerja,"


"Saya boleh nebeng gak, Pak?" cicit Sifa.


"Nebeng?"


"Numpang maksudnya, Kantor Bapak kan melewati rumah saya, jadi bisa sekalian gitu, ntat saya turun di jalan aja," ujar Sifa.


Abash menghela napasnya pelan. "Di sini aja dulu, istirahat, kalau udah enakan baru pulang. Lagian rumah kamu kan masih berantakan."


"Saya pulang aja, Pak."


"Di sini kenapa? Kamu gak nyaman? Lagian kamu kenapa bisa tidur di sofa? Bukannya saya sudah menyuruh untuk tidur di kamar tamu?" ujar Abash.


"Saya gak enak, Pak. Lagian, saya udah terbiasa tidur di sofa," ujar Sifa dengan pelan.


"Tetap saja kamu tak mengindahkan perkataan saya." Abash pun melangkahkan kakinya kembali.


"Bapak mau ke mana? Saya nebeng boleh gak?" tanya Sifa yang mana membuat Abash menghentikan langkahnya lagi.


"Istirahat aja dulu, lagian kamu masih sakit."


"Saya gak sakit kok, udah mendingan. Kan udah minum obat tadi."


Mendengar kata obat, Abash pun berdehem pelan. Ingatannya tentang memberikan obat kepada Sifa pun seketika kembali terbayang.


Masih terasa hangat dalam ingatan Abash, bagaimana kenyalnya bibir itu saat menempel di bibirnya.


"Pak?" panggil Sifa menyadarkan Abash dari lamunannya.


"Ya?"


"Saya ikut nebeng, ya? Boleh kan?" tanya Sifa lagi.


"Ya udah, terserah kamu."


Sifa bersorak pelan dan langsung meraih bonekanya yang ada di atas sofa.


"Pelan-pelan," ujar Abash saat Sifa menghempirinya dengan langkah yang cepat saat menggunakan tongkat.


Sifa menyengir dan memelankan langkahnya.


*


"Oh yaa, Bapak sejak kapan ada di apartemen?" tanya Sifa


Abash melirik kemudian memilih fokus dalam mengemudi. Jika membahas soal itu, Abash jadi ingat saat kejadian di mana dirinya sedang memberikan obat kepada Sifa.


"Pak?" panggil Sifa.


"Subuh," jawab Abash akhirnya.

__ADS_1


"Ooh, berarti itu cuma mimpi" lirih Sifa yang samar-samar di dengar oleh Abash.


"Kamu bilang apa?" tanya Abash.


"Hah? Gak papa."


Karena gerimis, jalanan terlihat sepi dari kendaraan roda dua, akan tetapi, jalanan di penuhi oleh kendaraan roda empat.


Tak ada obrolan apapun antara Abash dan Sifa. Mereka sibuk dengan fokusnya masing-masing. Sifa yang sedang menikmati pemandangan di luar jendela, sedangkan Abash fokus dengan menyetirnya. Hingga tibalah mereka di depan gang rumah Sifa.


"Loh, Bapak ngapain ikut turun?" tanya Sifa saat melihat Abash ingin membuka pintunya.


Abash hanya menoleh sebentar, kemudian dia tetap turun dengan payung di tangannya. Cuaca masih gerimis, jadi Abash berniat untuk memasyungi Sifa hingga ke dalam rumahnya. Lagi pula, jalan menuju rumah Sifa itu becek dan licin, Abash hanya tak ingin karyawannya kembali tejatuh dan mengalami cidera kembali.


"Ayo," ujar Abash sambil memayungi Sifa.


"Duh, Pak, saya jadi ngerepotin deh kalau gini. Tapi beneran loh, Pak. Saya bisa sendiri kok,"


"Saya cuma gak mau kamu terjatuh lalu kembali cidera, makin lama kamu ntar masuk kantornya."


"Iya, Pak."


Sifa lebih memilih diam, dalam arti, Sifa tak ingin baper dengan perhatian yang Abash berikan kepadanya. Gadis itu sudah menanamkan dalam dirinya, jika dia bukanlah wanita yang pantas bersanding dengan Abash. Sifa sadar diri akan hal itu. Lagi pula, Sifa hidup di dunia nyata, bukan dongeng atau cerita-cerita novel romantis lainnya.


"Hati-hati," ujar Abash sambil memegangi lengan Sifa.


Sifa pun berjalan pelan agar tak tergelincir di tanah yang basah dan licin.


Terpal biru yang menutupi atap rumahnya telah terlepas dan membuat atap-atap rumahnya itu terlihat bolong.


"Astaghfirullah, Pak. Rumah saya kenapa bisa begini?" lirih Sifa yang sudah menahan tangisnya.


"Kamu tenang dulu, sebaiknya kita lihat apa ada barang yang bisa kamu selamatkan."


Abash mengajak Sifa untuk masuk kedalam rumahnya yang sudah berantakan. Sepertinya, angun putingbeliung melintas ke rumah Sifa.


"Apa rencana kamu sekarang?" tanya Abash setelah melihat kekacauan di dalam rumah Sifa.


Sifa tak bisa berkata apa-apa lagi, air matanya terus mengalir dengan kurang ajarnya.


"Sifa," panggil Abash.


"Hiks ... saya gak tau, Pak. hiks ... rumah ini penuh kenangan bagi saya, saya gak tahu harus apa sekarang," ujar Sifa dengan senggugukan.


Abash mengulurkan tangannya dan mengusap punggung Sifa untuk menenangkan gadis malang itu.


"Kamu ada tempat tinggal lain?" tanya Abash.


"Enggak, ini satu-satunya tempat saya berteduh,"


"Teman yang bisa kamu hubungi?" tanya Abash.


Sifa langsung mengingat Ampe, gadis itu meraih ponselnya dan menghubungi Amel. Namun, sudah menunggu beberapa saat, Amel tak juga mengangangkat panggilan dari Sifa.

__ADS_1


"Saya tanya pemilik rumahnya dulu, apa masih ada rumah yang bisa di sewa dekat-dekat sini," ujar Sifa.


Abash hanya memandang gadis yang tengah berbicara dengan orang yang berada di seberang panggilan tersebut.


"Pemiliknya sebentar lagi akan ke sini, Bapak kalau mau pergi kerja, silahkan, nanti Bapak terlambat," ujar Sifa yang tak enak hati dengan Abash.


"Saya akan menemani kamu hingga pemilik rumah ini datang."


Tak ada percakapan apapun antara Sifa dan Abash. Gadis itu fokus menyelamatkan barang-barangnya yang masih berada di dalam lemarinya, seperti ijazah dan beberapa foto lainnya.


"Untung gak basah," gumam Sifa.


"Assalamualaikum, nak Sifa," panggil seseronag dari luar.


Abash dan Sifa pun keluar dari dalam kamar, terlihat wajah terkejut dari si pemilik rumah itu saat melihat ada seorang pria bersama Sifa.


"Walaikumsalam, masuk, Buk," ujar Sifa.


"Cowok ini siapa?" tanya si pemilik rumah.


"Oh, temen kantor, tadi baru antar saya dari rumah sakit," ujar Sifa berbohong.


Abash memaklumi kebohongan Sifa. Lagi pula, gadis itu berbohong demi nama baiknya.


"Kaki kamu kenapa?" tanya si pemilik rumah yang melihat kaki Sifa di gips dan menggunakan tongkat.


"Terkilir,"


"Ya ampun, Sifa. Kamu harus hati-hati."


"Iya, Buk. Oh ya, masalah rumah ini___" ujar Sifa sambil menatap sekeliling rumahnya.


"Itu dia, Ibu juga mau ngomong hal ini sama kamu. Bapak udah tua, jadi semua hartanya mau di bagi-bagi. Termasuk rumah ini. Rumah ini mau di jual, nak Sifa mau beli?" tawar ibu tersebut.


"Saya gak punya uang, Buk. Kalau saya cicil boleh?" tanya Sifa.


Sifa berani bertanya seperti itu karena tak ingin kehilangan rumah tua itu. Di mana terllau banyak kenangan di dalamnya.


"Duh, ya mana bisa, Nak Sifa. Kalau mau, harus beli kontan. Harganya kemungkinan sekitar 1M."


"Satu M?" tanya Sifa dengan nada terkejut.


"Iya, emang tanahnya kecil, tapi lokasi ini sangat strategis. Dekat kampus dan kantor. Mau cari makan malam-malam juga dekat," ujar ibu pemilik rumah.


Benar memang, rumah yang Sifa tempati memang strategis. Sebenarnya, sudah lama rumah itu ingin di jual, seperti rumah-rumah yang ada di sekitarnya dulu, yang saat ini telah menjadi ruko bertingkat.


Mengingat bagaimana susahnya kehidupan Sifa dan sang nenek, pemilik rumah pun tak tega, hingga akhirnya mereka membiarkan Sifa tinggal di sana, walaupun sang nenek sudah tiada lagi.


"Sifa gak ada uang segitu, Buk. Buk, jangan di jual, Sifa mohon. Sifa janji, Sifa yang akan membeli rumah ini, tolong, jangan d jual," mohon Sifa kepada si pemilik rumah.


\=\=  Jangan upa Vote, Like, and komen ya ..


Salam sayang dari ABASH dan ARASH

__ADS_1


__ADS_2