Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 411


__ADS_3

Sifa tak henti-hentinya tertawa di saat mengingat di mana dirinya dan Abash meninggalkan Nola. Tidak bisa Sifa bayangkan, bagaimana kesalnya Nola pasti saat ini.


"Aduh, Mas, sakit perut aku jadinya," lirih Sifa sambil menghela napasnya panjang.


"Aku juga, sayang. Haduuhh, sakit banget perut aku." Abash pun mengatur napasnya, agar dia bisa menghentikan tawanya.


"Sebaiknya kita tidak membicarakan dia lagi. Agar kita tidak kembali menertawakannya, sayang," usul Abash.


"Iya, Mas. Aku takut jadi dosa gara-gara menertawakan dia."


"Salah sendiri, siapa suruh nyebelin," kekeh Abash.


Setelah puas tertawa hingga sampai sakit perut, Abash dan Sifa kembali melanjutkan perjalanan mereka. Hari ini, Abash dan Sifa akan mencoba kuliner khas Bali.


*


"Terima kasih ya, Mas, karena sudah memberikan pengalaman baru kepadaku," ujar Sifa kepada sang suami.


"Iya, sayang. Sama-sama. Aku senang melihat kamu menikmati bulan madu ini. Aku janji, nanti kalau kita memiliki waktu yang panjang untuk liburan, aku akan membawa kamu ke tempat yang tak kalah indah dari sini," ucap Abash sambil menggenggam tangan sang istri.


"Iya, Mas. Bahkan jika kamu tidak membawaku pergi ke tempat indah mana pun, aku juga sudah merasa bahagia, karena bersamamu adalah pusat kebahagiaanku, Mas. Kamu lah sumber kebahagiaanku."


Mendengar kalimat manis yang baru saja Sifa ucapkan, membuat Abash tak mampu menahan air matanya.

__ADS_1


"Aku juga, sayang. Kamu adalah pusat kebahagiaanku."


Hari ini adalah hari terakhir bagi Abash dan Sifa menghabiskan waktu bersama di Bali. Ya, walaupun tadi sempat ada yang mengganggu kebersamaan mereka, tapi akhirnya mereka tetap menghabiskan waktu bersama kan?


"Hmm, saatnya kita pulang dan mengemaskan barang-barang," ajak Abash yang di angguki oleh Sifa.


"Iya, Mas."


Abash dan Sifa pun kembali ke hotel, karena mereka harus membereskan semua barang-barang mereka dan bersiap untuk pulang.


Sesampainya di hotel, tiba-tiba seorang wanita menampar pipi Sifa, sehingga membuat wanita itu terkejut.


Plaaakk ...


"Sayang, kamu gak papa?" tanya Abash kepada sang istri.


Pria itu menangkup pipi Sifa yang telihat memerah.


"Aku gak papa, Mas," jawab Sifa menahan rasa perih pada pipinya.


Abash menoleh ke arah orang yang menampar sang istri. Pria itu benar-benar murka dengan apa yang dilakukan oleh Nola.


Ya, Nola lah yang telah menampar Sifa, di saat wanita itu baru saja tiba di hotel.

__ADS_1


"Kamu---" geram Abash sambil menunjuk ke arah Nola.


"Ini balasan dari aku bagi orang yang sudah berani menghina diriku," tegas Nola yang sudah menatap tajam ke arah Sifa.


"Kamu pikir kamu siapa? Berani-beraninya kamu menampar istri aku. Asal kamu tahu, aku tidak akan tinggal diam, karena kamu telah menyakiti orang yang paling berarti di dalam hidup aku," geram Abash.


Pria itu mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.


"Batalkan semua kontrak yang berhubungan dengan perusahaan BB. Karena penerus dari perusahaan itu telah berani-beraninya menampar istriku," titah Abash kepada orang yang ada di seberang panggilan.


Abash kembali menyimpan ponselnya ke dalam saku celana.


"Jika kamu bukan seorang wanita, mungkin saat ini kamu akan berakhir di rumah sakit," desis Abash dan memeluk Sifa untuk menjauh dari Nola.


Abash pun memberi kode kepada satpam yang berjaga untuk menahan dan menjauhkan Nola dari mereka berdua. Satpam pun langsung mengikuti perintah Abash dan menahan Nola agar tidak lagi mendekat ke arah Sifa.


"Ayo, sayang," ajak Abash untuk kembali ke dalam kamar mereka.


"Dasar ******, kembalikan Abash kepadaku. Seharusnya dia dijodohkan denganku, bukan denganmu. Kembalikan calon suamiku, brengsek," maki Nola.


Wanita itu tidak bisa mendekat ke arah Sifa dan Abash, karena satpam yang menahan dirinya.


"Dasar wanita gila," geram Abash dengan tangan yang mengepal.

__ADS_1


__ADS_2