Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 387


__ADS_3

Kehadiran Sifa dan Abash di restoran pun membuat seluruh keluarga tersenyum dengan lebar dan penuh arti. Bagaimana tidak, karena saat ini jam sudah menunjukkan pukul setengah sembilan pagi, di mana jam sarapan pagi sudah lewat dari dua jam yang lalu.


"Nyenyak amat tidurnya ya, Bash? Ada sholat subuh gak tuh?" goda Bang Fatih sambil terkekeh.


"Ada dong, Mas," jawab Abash dengan tersenyum.


"Oww, ronde kesekian habis sholat subuh kayaknya nih, Na," bisik Bang Fatih yang diangguki oleh Kak Lana.


Sebenarnya tidak bisa dikatakan berbisik juga sih, karena apa yang dikatakan oleh Bang Fatih masih di dengar oleh semua orang yang ada di meja makan panjang tersebut.


"Fatih? Jangan bikin menantu Mama malu, ya?" tegur Mama Kesya dengan mata indahnya yang sudah membulat sempurna.


Fatih menangkup kedua tangannya di depan wajah. "Ampun, Ma," ujar Bang Fatih dengan terkekeh pelan.


"Anak siapalah Fatih ini, mirip banget kelakuannya dengan seseorang," cibir Mama Kesya sambil melirik ke arah sahabatnya Papi Gilang.


"Namanya juga dari benih terhebat gue, Key. Jadi wajar dong mirip Papi-nya yang tampan," sahut Papi Gilang dengan penuh rasa bangga.


"Dih, jahil begitu kok di banggain?" sambung Mama Puput.


"Ya banggalah, namanya juga anak gue. Ya kan, sayang?" ujar Papi Gilang sambil merangkul bahu sang istri dan menaik turunkan alisnya.


"Iya, Mas, iya," jawab Mami Mili dengan pasrah.


"Gitu dong. Nanti habis ini kita bikin adik si kembar lagi, ya?" bisik Papi Gilang yang masih di dengar oleh semua orang yang ada di sana.


Sontak saja semua orang yang ada di sana langsung tertawa mendengarnya.


"Lo mau bikin anak kok umumin di depan orang sih, Lang? Gak malu banget. Apa gak sekalian kasih pengumuman di koran?" ujar Daddy Bara.


"Padahal Mas juga suka nyosor tuh. Tuh, buktinya di leher Mbak Sasa masih ada cabenya," ujar Papi Gilang yang mana membuat Bunda Sasa panik.


"Hah? Serius, Mas?" tanya Bunda Sasa dan menyuruh sang suami memeriksa lehernya.


Sontak saja tawa Papi Gilang pecah, karena sebenarnya pria itu hanya menggoda iparnya itu saja.


"Ketawan kan yang juga mesum tadi malam?" cibir Papi Gilang.


"Huss, sudah-sudah. Kalian ini, sudah punya anak dan cucu juga, masih aja merasa kayak ABG," tegur Opa Roy.


"Yang namanya jiwa muda akan selalu hidup, Dad," jawab Daddy Bara dan Papi Gilang secara bersamaan.

__ADS_1


"Dasar kalian ini. Gak mau kalah sama yang muda-muda. Selalu ingin jadi pengantin baru," cibir Opa Roy.


"Lah, dulu yang ikut bulan madu ke kapal pesiar siapa, ya? Pulang-pulang pada encok semua pinggangnya," ledek Daddy Bara.


Sontak saja semua orang langsung tertawa terbahak-bahak, karena apa yang dikatakan oleh Daddy Bara memang benar adanya.


"Sudah-sudah, kok jadi malah ngeledeki orang tua, sih?" tegur Oma Shella.


"Sifa, Abash, ayo duduk, kalian belum makan, kan?" titah Oma Shella dan langsung di turuti oleh pengantin baru itu.


"Arash mana?" tanya Abash yang menyadari jika kembarannya itu tidak ada di sana.


"Sudah kembali ke kamar. Putri masih kelelahan karena kurang istirahat," jawab Mama Kesya.


"Oh …" Abash pun melirik ke arah semua orang yang ada di sana. Pria itu mencari keberadaan Zia.


"Di mana Zia?" batin Abash.


Abash dapat melihat jika Bara juga tidak berada di sana. Apa mereka sudah pergi sejak tadi malam? Tapi kenapa? Apa karena kejadian pada saat permainan dansa itu?


Tidak ingin berpikir yang macam-macam, Abash pun kembali fokus kepada sang istri.


"Kamu suka saladnya?" tanya Abash dengan suara yang pelan yang hanya bisa di dengar oleh Sifa saja.


"Makan yang banyak, ya," ujar Abash dengan tersenyum penuh arti.


Hanya mendengar kalimat yang penuh arti itu, pipi Sifa sudah merona dengan sempurna, seperti tomat yang sudah matang.


Drrtt … drrrtt …


Suara ponsel Ibra pun berbunyi, sehingga membuat pria itu menggeser tombol hijau di saat melihat siapa orang yang telah menghubunginya.


"Ya? Baiklah, saya ke sana," uja Ibra dan bangkit dari duduknya.


"Ada apa, Bra?" tanya Daddy Bara.


"Orang yang mendorong Zia semalam sudah tertangkap, Dad. Ibra akan menemuinya," jelas Ibra dengan singkat, kemudian memberikan kode kepada sang Daddy, jika orang yang mendorong Zia bukanlah orang biasa.


"Hmm, Daddy ikut sama kamu." Daddy Bara pun bangkit dari tempat duduknya, kemudian berjalan bersama sang putra untuk menemui orang yang telah mendorong Zia.


Di sebuah kamar hotel.

__ADS_1


"Katakan, siapa yang menyuruh kamu?" tanya Arash yang sudah mencengkram erat wajah wanita yang sudah tidak bisa melawannya itu, karena tubuh wanita itu sudah terikat di sebuah kursi dengan erat.


"Aku tidak akan mengatakannya," jawab wanita itu dengan angkuh.


Arash menghempas wajah wanita itu dengan kasar, sehingga wajahnya berpaling ke arah kiri dengan erat.


Pintu kamar terbuka, di mana muncullah Daddy Bara dan Ibra.


"Rash, kenapa kamu di sini?" tanya Daddy Bara dengan kening mengkerut. "Putri dengan siapa?"


"Putri dengan Mbak Anggel, Dad," jawab Arash.


"Seharusnya kamu tidak meninggalkan Putri sendirian," ujar Daddy Bara.


"Tapi Arash harus tau, Dad, apa tujuan wanita ini mendorng tubuh Zia, sehingga Zia---" Arash menggantung ucapannya, pria itu tiba-tiba saja menggeram dengan kesal.


Ibra menutup matanya, menahan rasa cemburu kepada sepupunya itu. Lagi pula, kejadian tersebut hanya sebuah kecelakaan saja, jadi tidak ada yang perlu di khawatirkan. Lagi pula, Arash sangat mencintai Putri, begitu pun sebaliknya.


"Katakan, apa tujuan kamu tadi malam?" tanya Ibra yang sudah berdiri di depan wanita yang sudah terikat tersebut.


Wanita itu tersenyum miring, kemudian dia menatap tajam ke arah Ibra.


"Aku ingin kau mati, seperti apa yang telah kau lakukan kepada kakakku," ujar wanita itu.


Ibra mengernyitkan keningnya. Dia tidak mengerti apa yang di maksud oleh wanita yang ada di hadapannya saat ini.


"Siapa orang yang kamu maksud?" tanya Ibra.


Wanita itu tersenyum miring. "Jangan pura-pura bodoh. Aku sangat yakin, jika kau sangat mengetahuinya."


Ibra kembali mengernyitkan kening. Perasaan pria itu, dia tidak pernah membunuh seseoang. Ya, bagaimana mungkin Ibra bisa membunuh seseorang, jika dirinya saja di tugaskan di sebuah kantor koramil, bukan ajudan dari siapapun.


"Aku rasa kamu salah orang," lirih Ibra yang memang tidak bisa mengingat siapa yang sekiranya terbunuh karena dirinya.


"Baiklah, jika kau masih berpura-pura tidak mengeri. Aku akan katakan siapa kakakku," sahut wanita itu.


"Ya, katakan saja."


"Dia adalah sersan Putra. Pria yang telah menggantikan kamu menjadi seorang ajudan. Andai saja dia tidak menjadi ajudan, maka sampai saat ini dia pasti masih hidup. Dan ini semua karena kau, yang menyuruh dirinya untuk menggantikan posisi kau yang menjadi seorang ajudan," geram wanita itu.


Ibra mengernyitkan keningnya. Dia serasa tidak asing dengan nama yang disebutkan oleh wanita yang ada dihadapannya saat ini. Dan apa kata wanita itu? Dirinya ditugaskan menjadi seorang ajudan?

__ADS_1


"Dengar, aku rasa kamu salah paham di sini. Aku sama sekali tidak pernah ditugaskan menjadi seorang ajudan siapapun," tegas Ibra.


"Dasar pembohong," geram wanita itu dan meludahi wajah Ibra.


__ADS_2