Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 450


__ADS_3

Kehamilan Putri membuat wanita itu tidak bisa menjaga putranya. Kondisi Putri yang mabuk parah, sehingga mengharuskan dirinya untuk bed rest. Rayyan yang masih membutuhkan pelukan dan kehangatan seorang ibu pun terus saja menangis dan  rewel, hingga akhirnya Zia yang bekerja di dari rumah pun akhirnya menghentikan semua pekerjaan gadis itu dan menghampiri Rayyan.


Entah mengapa, saat Rayyan berada di dalam pelukan sang Tante, bayi menggemaskan itu perlahan diam dari tangisnya dan terlihat sangat nyaman di dalam pelukan sang Tante. Mama Nayna menghela napasnya pelan dengan lega, karena akhirnya Rayyan bisa tidur dan terlihat sangat lelap di dalam pelukan Zia.


Sudah hampir satu bulan, bayi menggemaskan itu terus saja rewel karena harus jauh dari sang mama. Bukan jauh dalam artian beda tempat tinggal. Akan tetapi, kehamilan Putri yang terbilang cukup lemah mengharuskan wanita itu tidak boleh banyak bergerak. Apa lagi sampai harus mengangkat beban.


Tidak, Mami Anggun dan Anggel tidak menyarani hal tersebut. Untuk itulah, Putri harus menahan rasa rindu dan sedihnya secara bersamaan, di saat dirinya harus jauh dari sang buah hati.


"Udah tidur ya?" tanya Papa Satria kepada Mama Nayna.


"Iya, Pa. akhirnya Rayyan bisa tidur dengan lelap." Mama Nayna memandang ke arah Zia yang masih menepuk-nepuk pelan punggung bayi mungil yang ada di dalam pelukannya itu.


"Mungkin karena wajah Zia mirip sama Putri, makanya Rayyan seolah merasa sedang berada di dalam pelukan ibunya," ucap Papa Satria.


"Hmmm, bisa jadi, Pa."


*


Di saat semua orang sedang memberikan perhatian kepada Putri, hati kecil Sifa pun merasa cemburu akan hal itu. Dia bukan merasa cemburu dengan perhatian yang diberikan oleh semua orang kepada Putri, akan tetapi, Sifa merasa cemburu, karena Allah memercayakan kembali Putri untuk mengandung seorang malaikat kecil. Ya, hal itulah yang membuat Sifa merasa cemburu, bukan yang lain.


Mbak Quin yang melihat jika adik iparnya terlihat termenung pun, menghampirinya untuk menghibur hati Sifa yang terlihat sedih dari raut wajahnya.


"Kok melamun? Ada apa, hmm?" tanya Mbak Quin kepada Sifa.


"Enggak kok, Mbak. aku gak melamun," cicit Sifa sambil tersenyum kecil.


"Jangan bohong. Mbak lihat kok kalau kamu sedari tadi melamun terus." Quin mengambil tangan Sifa, kemudian dia mengusap punggung tangan adik iparnya itu dengan lembut.

__ADS_1


"Mbak bisa merasakan, apa yang kamu rasakan saat ini, Sifa. Mbak tahu, kalau kamu pasti juga ingin diberi kepercayaan oleh Allah. Kamu sangat ingin dihadirkan seorang malaikat kecil dari rahim kamu, kan?" ujar Quin yang mana membuat mata Sifa berkaca-kaca.


"Maaf, jika kami terlalu bahagia dengan kehamilan Putri, sehingga menyinggung perasaan kamu dan membuat kamu bersedih."


Sifa semakin sesenggukan di saat mendengar kalimat yang keluar dari Quin, dia tidak bermaksud untuk menunjukkan kesedihannya dan membuat orang-orang yang ada di sekelilingnya merasa bersalah atas kebahagiaan yang sedang mereka rayakan, di saat dirinya merasa sedih.


"Enggak, Mbak, hiks .. Mbak gak salah kok. Mbak jangan meminta maaf. Hikss … Sifa aja yang terlalu sensitif, Mbak," ujar Sifa sambil sesenggukan.


Mbak Quin langsung saja menarik tubuh Sifa ke dalam pelukannya. Mengusap pelan punggung Sifa yang bergetar karena menangis.


"Insya Allah, kalau sudah waktunya tiba, kamu pasti akan merasakan apa yang sangat di inginkan oleh seorang wanita di seluruh dunia," bisik Mbak Quin yang sambil menahan air matanya yang juga ingin ikut keluar membasahi pipinya.


Di sisi lain, Abash menghela napasnya pelan. Dia melihat dan mendengar apa yang dibicarakan oleh Mbak Quin dan Sifa. Sedari tadi istrinya itu memang menghindar dari keramaian, hingga dia lebih memilih untuk berada di dapur dengan alasan mengambil cemilan.


*


Tau sendiri kan seramai apa keluarga Moza? Itu belum lagi di tambah dengan keluarga Putri yang datang dari Bandung.


"Sifa, ke sini," panggil Mama Nayna.


Sifa yang baru saja meletakkan kue di atas ambal pun, berjalan jongkok untuk mendekat ke arah Mama Nayna.


"Ya, Tante?"


Mama Nayna mengambil secuil nasi kuning yang memang di sajikan untuk Putri dan menyorokannya kepada Sifa.


"Buka mulutnya, sayang," titah Mama Nayna.

__ADS_1


"Tapi, Tante? Sifa kan gak hamil?" ujar Sifa merasa tidak enak jika harus memakan makanan yang memang di khususkan untuk ibu hamil.


"Sudah, buka saja mulutnya," titah Mama Nayna yang dengan terpaksa Sifa turuti.


Saat memasukkan sesuap nasi kuning ke dalam mulut Sifa, Mama Nayna pun memanjatkan doa agar Sifa juga segera menyusul Putri. Sifa kembali mengernyitkan keningnya, di saat Mama Kesya melakukan hal yang sama seperti apa yang dilakukan oleh Mama Nayna. Dia hanya menuruti saja perintah para tetua di keluarganya itu tanpa tahu apa maksud dari suapan nasi kuning tersebut.


"Sifa …" tegur Putri yang sudah berdiri di sampingnya.


"Ya?" Sifa mendongakkan kepalanya untuk melihat iparnya itu.


Mama Nayna pun memerintahkan Sifa untuk berdiri di samping Putri. Dan lagi-lagi Sifa menuruti perintah dari para tetua di keluarganya.


Sifa sedikit terkejut, di saat Putri menginjak jempol kakinya.


"Semoga nular, ya?" ujar Putri dengan tersenyum manis.


Ah, akhirnya Sifa memahami apa yang dimaksud oleh para tetua dan Putri. Ternyata mereka berharap dengan cara begini Sifa bisa ikut tertular hamil. Sifa tersenyum kecil, dia merasa lucu dengan apa yang dilakukan oleh orang-orang yang ada di sekitarnya saat ini. Sifa tahu, ini adalah bentuk rasa sayang mereka kepadanya. Tapi, mana mungkin kan dengan menginjak jempol kaki, bisa membuat Sifa hamil?


Namun, walaupun begitu Sifa tetap diam dan tidak ingin membantah apa yang telah dilakukan oleh para tetua. Baginya, perhatian yang mereka berikan tadi adalah bentuk dari rasa sayang keluarga suami dan iparnya kepada dirinya.


"Sifa, apa kamu tahu kalau hamil itu bisa menular?" tanya Mama Nayna.


"Memangnya bisa, Tante?" tanya Sifa dengan tersenyum.


"Entahlah. Tapi, kata orang-orang jaman dulu. Jika ada pasangan suami istri yang belum diberikan keturunan. Maka di sarankan untuk berdekatan dengan orang yang sedang hamil. Jangan lupa, berdoa agar segera diberikan keturunan," ujar Mama Nayna memberi tahu.


Sifa sepertinya pernah mendengar hal tersebut, tapi bisa dikatakan dia tidak mempercayai hal-hal seperti. Tapi, entah mengapa untuk kali ini, Sifa seolah mempercayainya. Tangan wanita itu pun terangkat untuk menyentuh perut Putri.

__ADS_1


"Ya Allah, semoga aku bisa hamil juga dalam waktu dekat ini," doa Sifa yang di amini oleh semua orang yang ada di sana.


__ADS_2