Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 13 - Terpal Biru


__ADS_3

Abash membawa sepeda Sifa ke bengkel, hanya mengganti bannya saja, jadi tak membutuhkan waktu yang lama. Abash menggaruk kepalanya saat ia lupa bertanay nomor ponsel Sifa.


Abash melirik jam tangannya, sudah pukul 9 pagi. Kemana harus Abash harus mengantar sepeda Sifa?


'Ah, aku kasih saat dikantor aja,' batin Abash.


Namun fikirannya berbicara. Sepeda ini sepertinya satu-satunya alat transportasi yang Sifa miliki. Jika Abash memberinya saat dikantor, bagaimana dengan Siafa melakukan aktifitasnya?


Merasa kasihan, Abash pun mengantarkan sepeda Sifa ke rumahnya. Abash melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju jalan tikus gang buntu, di mana disana lah rumah Sfia berada.


Abash memarkirkan mobilnya di dekat toko yang tutup, kemudian ia turun dari mobil dan menurunkan sepeda Sifa.


Abash mendorong sepeda Sifa masuk ekdalam gang sempit tersebut hingga bertemu dengan rumah yang menurut Abash tak layak huni.


Rumah tua yang mana asbes-nya saja sudah terkelupas, gentengnya yang sebagian ditutupi dengan terpal biru. Abash merasa tak yakin, apa benar Sifa tinggal di rumah peyot itu?


Dan, bersamaan dengan pertanyaannya dan juga rasa curiganya, Sifa keluar dari rumah peyot itu. terlhat wajah Sifa yang terkejut saat melihat Abash sudah berdiri di luar terasnya.


"Bapak?" seru Sifa.


Senyum Sifa mengembang saat melihat sepedanya berada di sebelah Abash.


"Wah, syukurlah sudah dibenarkan. terima kasih Pak," uajr Sifa sambil menghampiri Abash.


Sifa merogoh tasnya dan mengambil dompet tuanya, ia mengambil uang seharga 15 ribu dari dompetnya


"Nih Pak," ujar Sifa sambil menyodorkan uang 15ribu yang lecek itu kepada Abash.


Abash menaikkan alisnya sebelah, "Untuk apa?" tanyanya bingung.


"Biaya tempel ban sepeda saya," ujar Sifa masih dengan menyodorkan uang 15ribu yag terlihat lelah tersebut.


Abash menghela napasnya pelan, entah merasa terhina atau merasa enggan untuk memegang uang tersebut. Maklum, Abash berbeda dengan Arash. Seperti yang udah pernah author bilang, jika Abash itu hampir sama dengan Lucas. Bedanya, Lucas tak suka bersentuhan, sedangkan Abash, nih dia, jika pergi kepasar tradisional atau jajan dipinggir jalan, maka Abash enggan untuk mengambil uang kembaliannya.

__ADS_1


Entahlah, Abash segan aja gitu megang uang yang lecek dan terremas-remas dari tangan ke tangan yang lain. Terkadang Abash sangat menyayangkan hal tersebut, kebanyakan orang pribumi, setelah mengambil kembalian maka akan melipat ataupun meremas uang tersebut dan memasukkannya kedalam kantong atau tas mereka.


Sedangkan diluar negeri, mereka akan sangat menghargai yang namanya uang. Bahkan mereka menyimpan uang dengan rapi dan tidak dilipat-lipat. Karena uang adalah ebntuk benda yang paling berharga dan bernilai tinggi.


"Gak usah, Aku iklhas bantuinnya," ujar Abash yang memang enggan untuk meraih uang yang disodorkan Sifa, dan juga memang Abash benar-benar ikhlas membantunya.


"Saya gak mau berutang dengan orang, nih Pak," Sifa meraih tangan Abash dan meletakkan uang tersebut ditangan Abash.


Abash langsung meringis saat melihat uang tersebut sudah berada didalam tangannya.


"Aku ikhlas, ambil nih," Abash mengembalikan uang tersebut ketangan Sifa.


"Ya ampun, pak. Saya juga Ikhlas bayarnya, dan saya benar-benar gak mau berhutang apapun dengan orang," uajr Sifa yang mencoba untuk mengembalikan uang tersebut, namun Abash menarik tangannya keatas.


Tidak, Abash tak ingin menyentuh lagi uang lecek tersebut.


"Oke, Kalo kamu gak mau mau menerima bantuan saya," ujar Abash dan berjongkok.


"Eh, Bapak mau ngapain?" tanya Saifa panik saat melihat Abash membuka tutup angin sepedanya.


"Jangan, Pak." Sifa pun menarik tangan Abash menjauh dari ban sepedanya, sehingga membuat Abash terduduk ditanah dan juga Sifa yang terjatuh.


"Auuww..." Sifa meringis dan mengelus bokongnya.


"Apaan sih, Lo?" gerutu Abash kesal karena bajunya harus kotor terkena tanah basah.


"Maaf, Pak. Saa takut bapak kempesin ban sepeda saya, Bengkel di sini jauh pak, Saya kan harus segera kekampus untuk mengurus segala administrasi magang saya," ujar Sifa yang merasa bersalah.


Abash kesal dan menepuk bokongnya yang terkena tanah basah, "Akh, sial banget sih Gue pagi ini,"gerutunya pelan.


"Emm, bapak ada baju ganti? kalo ada, celananya biar saya cuci, ntar kalosudah bersih dan rapi saya balikin ke bapak," ujar Sifa takut-takut.


Sepertinya ide Sifa bukanlah ide buruk. Tetapi jelas Abash tak akan menyuruh Sifa mencuci bajunya karena Abash akan membawa bajunya ke laundry. Abash hanya perlu meminjam kamar mandi Sifa dan mengganti pakaiannya.

__ADS_1


"Aku ambil baju di mobil dulu," ujar Abash meninggalkan Sifa yang terbengong sambil menatapnya.


Tak berapa lama Abash kembali dengan sebuah paper bag di tangannya. "Aku pinjam kamar mandi Kamu,"


"Oh, iya Pak." Sifa pun mempersilahkan Abash masuk dan menunjukkan dimana kamar mandinya.


Abash masuk dengan mata yang melihat kesekiling rumah. Hmm, walaupun dari luar terlihat peyot, tapi dalamnya cukup bersih. Sifa membersihkan rumahnya dan menatanya dengan rapi. Tap banyak perabotan, bahkan diruang tamu hanya ada dua satu kursi rotan panjang dan satu sofa tua.


Abash masuk kedalam kamar mandi, cukup bersih. Walaupun lantainya tak dikeramik dan hanay beralas semen, namun cukup bersih dan tidak licin. Sepertinya Sifa memberos kamar mandinya. Eh, bisakah ini dikatakan kamar mandi? Kalo dikampung Om duda, kamar mandi yang beratap terbuka begini dikatakan sumur. Yaa, walaupun setengah atapnya tertutup degan terpal biru.


Hmm, kebanyakan terpal biru nih dirumah Sifa.


Abash pun menolehkan kepalanya kearah lain, dan Abash sukses tersedak oleh ludahnya sendiri. Bagaimana tidak, mata Abash di suguhkan oleh pemandangan yang frontal. Yaitu kain segi tiga berukuran kecil dan kacamata yang berbahan busa. Mana warnanya ungu lagi. Dan, di tambah ada lobang kecil di bagian kain segitiga dan juga kacamata busanya. Terlihat jika pakaian minim itu sudah lelah dipakai setiap hari dan dicuci serta di jemur.


Abash kembali meringis dan menggelengkan kepalanya, dengan cepat Abash berbalik badan sebelum fikiran liarnya menjelajah kemana-mana.


Biasalah, Abash kan sudah dewasa dan lelaki normal. Sudah pasti jika melihat yang begituan bakal terhanyut-hanyut fikirannya.


Abash mengganti celana dan juga jasnya. Setelah selesai, ia pun keluar dari kamar mandi dan terkejut saat mendapati Sifa berdiri dengan panik di depan pintu kamar mandinya.


"Kamu ngintipin saya?" tanya Abash dengan menatap tajam Sifa.


Sifa melirik kearah kamar mandi, kemudian wajahnya berubah menjadi sendu meringis. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali sambil menatap kearah Abash.


"Bapak udah selesai?' tanya Sifa dengan pelan dan wajah yang memerah.


Abash pun cepat paham, ia menganggukkan kepalanya dan berjalan melewati Sifa. Terdengar helaan napas Sifa ditelinga Abash.


Abash mengulum senyumnya, ia awalnya berfikir jika Sifa sedang mengintipnya. Tapi sepertinya bukan itu yang membuat Sifa berdiri didepan pintu dengan wajah paniknya, melainkan karena pakaian minimnya yang sudah lusuh terjemur dengan jelas di kamar mandi.


 


\==  Jangan lupa Vote, Like, and komen ya ..

__ADS_1


Salam sayang dari ABASH dan ARASH.


__ADS_2