Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 104 - Budi


__ADS_3

Di dalam mobil, Sifa dan Abash hanya saling diam, tidak ada yang membuka pembahasan di antara mereka.


Sifa pun sedari tadi hanya melirik ke arah Abash yang masih fokus menyetir.


"Kenapa?" tanya Abash tiba-tiba yang mana membuat Sifa terkejut.


"Ya?"


Abash pun menoleh ke arah Sifa dan kembali bertanya. "Kamu kenapa dari tadi lihat-lihat ke arah saya?"


"Oh? Engg, itu ... Pinggang Bapak baik-baik aja kan?" tanya Sifa.


"Hah? Pinggang saya? Kenapa memangnya?" tanya Abash dengan kening mengkerut.


"Engg, itu. Tadi pagi saya dengar kalau pinggang Om Arka, Om Fadil, dan Om Leo sakit karena gendong istri-istrinya," ujar Sifa. "Pinggang Bapak gak sakit kan?" lirih Sifa dengan pelan dan takut-takut.


Abash menaikkan alisnya sebelah dan menatap kesal ke arah Sifa. Emangnya gadis itu pikir umur Abash sebaya dengan para papi apa?


"Kamu meremehkan saya?" tanya Abash dengan nada tak suka.


"Buk-bukan gitu. Saya hanya khawatir saja, kalau pinggang Bapak sakit karena saya," lirih Sifa dengan pelan dan menundukkan wajahnya.


"Pinggang saya baik-baik saja. Bahkan untuk menggendong kamu ke gunung simeru pun saya masih sanggup," ujar Abash dengan ketus.


"Ngapain bapak gendong saya ke gunung simeru?" tanya Sifa dengan wajah polosnya.


Abash menoleh ke arah Sifa dan menghela napasnya dengan pelan. "Lihat lahar," jawabnya dengan kesal.


"Hah? LIhat lahar? Buat apa? Iih, saya gak mau ah. Dosa saya masih banyak" cicit Sifa.


"Ya kamu tanyanya macem-macem aja," ketus Abash.

__ADS_1


"Pak, berhenti," pekik Sifa tiba-tiba yang mana membuat Abash terkejut dan menekan pedal rem, sehingga membuat mobil itu pun berhenti mendadak.


Ciiitt ....


Tiiiinn .... Tiiinnnn ....


Suara klakson pun langsung terdengar memekakkan telinga. Abash melirik ke arah Sifa dan kembali melajukan mobilnya untuk menepi.


"Ada apa?" tanya Abash dengan kesal. "Kamu tau gak sih? Kalau apa yang kamu lakukan itu bahaya?"


"Maaf, Pak," cicit Sifa dengan menundukkan wajahnya, tangan gadis itu pun saling memilin satu sama lain karena merasa takut.


Melihat Sifa yang ketakutan, Abash menghela napasnya dengan pelan, kemudian pria itu kembali menoleh ke arah gadis yang ada di sebelahnya.


"Maaf, jika saya meninggikan suara saya ke kamu," ujar Abash yang mana membuat Sifa perlahan menolehkan wajahnya ke arah Abash.


"Kamu kenapa menyuruh saya tiba-tiba berhenti?" tanya Abash lagi dengan suara yang lembut.


"I-itu, kita sudah mau sampai ke kantor. Sebaiknya saya turun di sini saja, agar tidak ada yang melihat jika saya turun dari mobil, Bapak," ujar Sifa dengan suara bergetar.


"Jadi kamu mau turun di sini?" tanya Abash.


"Iya, lagi pula di sini jaraknya gak terlalu jauh kalau jalan kaki. Saya turun di sini aja ya, Pak!"


Abash menghela napasnya dengan pelan. "Hmm, baiklah terserah kamu aja."


"Iya, Terima kasih banyak atas tumpangannya, Pak."


"Hmm, ya, sama-sama."


"Oh ya, soal paper bag yang di berikan oleh Mbak Quin, Apa saya boleh titip di dalam mobil Bapak aja dulu? Nanti saat pulang kerja, saya ambil," ujar Sifa.

__ADS_1


"Hmm, iya. Biarin aja di dalam mobil. Lagi pula jalan pulang kita searah."


"Bapak gak pulang ke istana?" tanya Sifa.


"Istana?" tanya Abash.


"Iya, rumah orang tua Bapak kan seperti istana. Begitu juga dengan rumah kakek Farel," cicit Sifa.


"Hmm, besar atau kecilnya rumah tersebut. Tetap saja yang namanya rumah. Kamu pernah mendengar pribahasa rumahku istanaku?" tanya Abash.


"Iya, pernah."


"Nah, apa kamu melihat jika rumah si Budi itu besar atau kecil?" tanya Abash lagi.


"Budi? Saya gak kenal dengan yang namanya Budi, Pak. Apa lagi main ke rumahnya," jawab Sifa dengan wajahnya yang polos.


Abash pun menepuk keningnya sendiri sambil menghela napasnya dengan pelan.


"Maksud saya Budi yang sering ada di dalam buku pelajaran," geram Abh denga gemas.


"Oh, Budi itu toh. Ini ibu Budi, Ini ayah Budi, ini rumah Budi!" ujar Sifa yang di angguki oleh Abash.


"Kamu lihatkan gambar rumahnya si Budi?" tanya Abash yang di angguki oleh Sifa.


"RUmahnya tidak besar dan juga tidak kecil. Tapi tetap di katakan rumahku istanaku, iya kan?"


"Iya, Bapak bener. Waah, ternyata bapak pintar juga ya," kekeh Sifa yang mana membuat Abash menatapnya dengan terbengong.


"Saya lulus kuliah S2 saat berumur dua puluh satu tahun ya, Sifa. Dan saat umur segitu, Saya sudah membangun perusahaan secara perlahan dan bertahap."


"Iya, Maaf, saya cuma berrcanda kok. Duh, Bapak sensi amat sih, kayak cewek PMS," kekeh Sifa yang mana membuat Abash menyentil keningnya.

__ADS_1


"Upps, saya cuma bercanda," ujar Abash dengan wajah datarnya.


"Dih, bukannya ketawa malah di sentil," gumam Sifa pelan sambil mengusap keningynya yang terasa perih.


__ADS_2