Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 149 - Ketemu


__ADS_3

Cuaca pagi ini terasa begitu sangat menyegarkan. Angin bertiup dengan sepoi-sepoi menyapu kulit wajah Arash. Pria itu pun melihat ke arah kaca spion, di mana dia dapat melihat wajah Putri yang sedang menikmati angin pagi ini yang menyapu kulit wajahnya dengan mata tertutup.


Ngeeengg ...


Arash terkejut di saat ada sebuah motor yang menyelip kendaraan mereka, sehingga membuat pria itu terkejut dan mengerem hingga berhenti.


Ciiiittt ...


Arash benar-benar terkejut dan merasa bersalah kepada Putri. Terlihat dari tatapan mata gadis itu yang sudah merah dan berkaca-kaca.


"Put, maaf," ujar Arash yang sudah menahan lengan Putri.


Putri menarik napasnya, seolah menahan rasa kesal yang ada di dalam dadanya.


"Aku bener-bener gak sengaja, maafin aku. Aku berani bersumpah, kalau tadi beneran ada motor yang nyelip motor aku," ujar Arash mencoba meyakinkan Putri.


Putri menarik napasnya panjang dan menghembuskannya secara kasar.


"Oke, kali ini aku percaya," ujar Putri dengan kesal.


Gadis itu masih melanjutkan langkahnya untuk tak lagi menumpang dengan Arash.


"Put, ayo aku antar kamu sampai kantor," bujuk Arash.


"Gak usah, aku bisa pergi sendiri," ketus Putri.


"Katanya udah maafin aku, kok masih marah? bujuk Arash lagi.


"Memaafkan bukannya untuk melupakan. Intinya sekarang, aku gak mau dekat-dekat kamu lagi," kesal Putri.


"Put, aku minta maaf. Aku berani sumpah jika aku benar-benar gak sengaja," lirih Arash. "Aku antar ke kantor ya," bujuk Arash lagi.


Melihat jika saat ini mereka sudah menjadi bahan tontonan pun, membuat Putri menghela napasnya pelan, kemudian dia memilih mengalah dan kembali naik ke atas motor Arash.


"Awas kalau kamu ngulangi lagi. Aku bikin perkara kamu," ancam gadis itu.


"Iya, aku janji gak akan ulangi."


Arash pun melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Kali ini pria itu benar-benar terlihat hati-hati saat melajukan motornya. Dia tidak ingin kejadian seperti tadi lagi membuat dirinya malah berurusan dengan pengadilan.


Masa iya, polisi di adukan ke polisi, kan gak lucu. di mana harga diri Arash sebagai polisi yang menjunjung tinggi nama baik seragamnya dan juga nama baik dirinya dan keluarga.


Sesampainya di depan lobi kantor Putri, gadis itu pun turun dan mengucapkan terima kasih kepada Arash dengan nada yang jutek.


"Putri," panggil Arash yang mana membuat gadis itu kembali berpaling kepadanya.


"Apa?" ketus Putri.

__ADS_1


"Helmnya," ujar Arash sambil menunjuk ke arah kepala Putri.


Putri pun menggerutu di dalam hati, merutuki kebodohannya yang terus saja dia lakukan di depan Arash. Seolah dirinya memang ingin mempermalukan dirinya sendiri di depan pria yang saat ini benar-benar dia benci.


Putri berusaha untuk membuka helmnya, akan tetapi dia tak bisa membuka kaitan tersebut.


"Mau aku bantu?" tawar Arash.


Dengan terpaksa, Putri pun membiarkan Arash membuka kaitan hemlnya. Setelah hemlnya terbukaz gadis itu langsung berbalik tanpa mengucapkan sepatah kata pun kepada Arash.


Arash menghela napasnya pelan, kemudian dia menarik tuas gas-nya dan meninggalkan kantor Putri.


*


Sudah beberapa hari berlalu. Putri tak lagi bertemu dengan Arash, lagi pula pria itu juga tak datang ke apartemen.


"Baguslah aku gak jumpa-jumpa sama dia. Males banget rasanya," lirih Putri yang baru saja menjemur pakaiannya.


"Hmm, makan cake enak nih. Tapi, ada bahan gak ya di kulkas?" ujar gadis itu dan memeriksa bahan makanan yang ada di kulkas.


"Duh, sepertinya aku harus belanja, deh," gumamnya seorang diri.


"Luna ngapain ya? Dia kok gak kasih kabar ke aku?" Putri pun meraih ponselnya dan menghubungi sang sahabat baik.


Di tempat lain, Abash baru saja mengajak sang kekasih untuk menemaninya berbelanja bulanan.


"Yakin ini belanjaan, Mas? Bukan belanjaan aku?" ujar Sifa dengan curiga.


"Iya, belanjaan aku," bohong Abash.


"Aku gak percaya, Mas selalu suka gitu. Bilangnya belanjaan, Mas. Tapi ujung-ujungnya belanjaan aku," rajuk Sifa.


"Ya kan, belanjaan kamu itu artinya belanjaan aku juga, sayang. Lagi pula, akusm sering makan di sini. Udah sewajarnya kan aku yang belanja," rayu Abash.


"Tapi, Mas---."


"Udah, gak ada tapi-tapi, kita pergi belanja ya," rayu Abash yang akhirnya di angguki oleh Sifa.


Pasangan kekasih itu pun akhirnya meninggalkan apartemen mereka, menuju mall yang di yakini tidak akan ada saudara dan juga orang lain yang bakal datang ke tempat itu.


"Kenapa ke mall sih, Mas? Kenapa gak ke swalayan yang dekat apartemen aja?" tanya Sifa.


Gadis itu sangat takut, Jika ada yang melihat dirinya sedang bersama Abash.


"Tenang aja, gak bakal ada yang kenali kita," ujar Abash dengan penuh keyakinan.


Sifa pun hanya bisa pasrah, gadis itu turun dan mengikuti sang kekasih yang saat ini tengah menggandeng tangannya.

__ADS_1


"Mas yakin? Kalau gak bakal ada yang kenali kita?" tanya Sifa. "Gimana kalau ada karyawan Mas yang juga belanja di sini?" tanya gadis itu dengan was-was.


"Ini tempatnya lumayan mahal. Jadi, yang biasanya datang ke sini ya kalangan elit. Kalau karyawan saya mau ke sini, berarti mereka dari kalangan elit atau ingin bergaya elit aja," jawab Abash sekenanya.


"Ya ampun, Mas. Kalau keluarga Mas lihat kita berdua, gimana?" tanya Sifa dengan khawatir.


"Ya tinggal minta kawin aja," jawab Abash tanpa dosa.


"Mas, iih. nyebelin deh," kesal Sifa yang hanya di sambut tawa kecil oleh Abash.


"Udah, kamu tenang aja. Pokoknya gak bakalan ada yang kenali kita," ujar Abash penuh dengan keyakinan.


Lagi, dengan perasaan was-was Sifa menghela napasnya pelan, berharap jika mereka gak bertemu dengan orang yang mengenali mereka.


Saat sedang asyik berbelanja, tiba-tiba saja troli yang di dorong oleh Sifa, tanpa sengaja menyenggol seorang wanita yang juga sedang berbelanja.


Sifa mengenali wanita itu, tapi tidak dengan sebaliknya.


"Ma-maaf," ujar Sifa dengan gugup.


Wanita itu pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Gak papa. Lagian Mbak juga gak sengaja, kan?" ujarnya dengan tersenyum.


"Sayang, ini aku udah nemu jamu kancing. Nanti kita tumis toge aja, ya," ujar Abash dari belakang wanita yang di tabrak oleh Sifa.


Mengenali suara bariton tersebut, membuat gadis itu berbalik dan sedikit terkejut.


"Pak Abash?"


Abash pun menoleh ke arah sumber suara dan terkejut melihat pengacara perusahaannya berada di sana.


"Nona Putri?"


"Ah, ini pasti pacarnya Pak Abash, ya?" tebak Putri karena mendengar pria itu memanggil dengan sebutan 'sayang' kepada gadis yang menabraknya.


"Buk--,"


"Iya, dia kekasih saya," jawab Abash dengan tegas, agar Putri tahu jika dirinya sudah memiliki kekasih.


"Hai, saya Putri, pengacara di perusahaan Oak Abash," ujar Putri memperkenalkan dirinya.


"Ah ya, saya Sifa," jawab Sifa dengan gugup dan menyambut uluran tangan Putri.


"Baiklah kalau begitu, saya duluan ya, Mbak Sifa dan Pak Abash," pamit Putri dan menjauh dari pasangan kekasih tersebut.


"Mas, gimana ini? Kenapa Mas kenalin aku sebagai pacar, sih?" tanya Sifa dengan panik.


"Udah, gak papa. Lagian kamu kan memang pacar aku," jawab Abash sambil mengedipkan matanya sebelah.

__ADS_1


__ADS_2