
"Assalamualikum warahmatullah .... Assalamualaikum warahmatullah ..."
Arash pun langsung berzikir yang di ikuti oleh Putri, kemudian pria itu memimpin doa yang di amini oleh gadis itu.
"Rabbanaa aatinaa fiddunya hasanah, wa fil aakhiraati khasanah, wa qinaa adzaabannaa."
"Amiin ..." sambut Putri.
Putri hendak menurunkan tangannya, tetapi mendengar saat Arash melanjutkan membaca doa, gadis itu pun kembali menengadahkan tangannya ke atas.
"Ya Allah, sehatkan lah raga dan tubuh ini, agar hamba bisa mencapai semua tujuan-tujuan hidup hamba di jalanmu, ya Allah."
"Amiiin ...." sambut Putri.
"Ya Allah, berikanlah kesehatan kepada kedua orang tua kami, agar mereka bisa melihat kami berdua sukses dan memberikan cucu untuk orang tua kami, ya Allah."
"Amiin ..." sambut Putri lagi.
"Ya Allah, semoga hamba berjodoh dengan gadis yang ada di belakang hamba saat ini, ya Allah,"
__ADS_1
"Amiiin ... eh?" Putri pun menyadari apa yang di pinta oleh Arash.
"Semoga gadis yang menjadi makmum hamba saat ini, bisa menerima cinta hamba dan kami bisa menikah agar bisa memberikan cucu kepada orang tua kami, ya Allah."
"Doanya? Aminin gak yaa?" batin Putri bingung, tetapi tangan gadis itu masih menengadah terbuka ke atas.
"Ya Allah, jika gadis yang ada di belakang hamba saat ini tidak berjodoh dengan saya saat ini. Maka jangan biarkan dia berjodoh dengan orang lain ya Allah. Tetapkanlah dia menjadi jodoh hamba."
"Eh, kok gitu doanya? Apa itu untuk aku?" batin Putri lagi dengan kening yang mengkerut, gadis itu pun menoleh ke arah belakangnya, memastikan jika tak ada lagi orang yang berada di belakang dirinya.
Jika ada, serem juga kali, ya? Secara saat ini kan mereka hanya berdua saja di tepi danau ini.
"Eh, itu doanya untuk aku. Jadi gadis itu beneran aku? Aminin gak yaa?" batin Putri yang masih merasa bingung dengan apa yang terjadi saat ini.
"Hanya ini harapan hamba untuk saat ini, ya Allah. Amiin .. amin ... ya rabbal 'alamin." Arash menyapukan tangannya ke telapak tangan, kemudian pria itu menoleh ke arah belakang, lebih tepatnya menatap ke arah Putri yang saat ini juga menatap ke arahnya.
"Kamu gak aminin?" tanya Arash, terlihat Putri mengerjapkan matanya.
"Amiin." Putri pun menyapukan telapak tangannya ke wajah, hingga senyuman di bibir Arash pun terbit bagaikan sinar rembulan yang terang.
__ADS_1
"Eh, kok aminin sih?" batin Putri baru menyadari apa yang telah dia lakukan sekarang.
"Jadi, kamu setuju kan untuk terima cinta aku?" tanya Arash dengan alis yang di turun naikkan.
"Eh, i-itu?"
Arash mengulurkan tangannya kepada Putri. "Salam dulu selesai solat, biar afdol," ujarnya sambil tersenyum manis.
Putri pun reflek menerima uluran tangan Arash, kemudian gadis itu mencium punggung tangan pria itu.
"Eh? Kenapa malah aku cium?" gumamnya yang masih di dengar oleh Arash, kemudian dia dengan cepat melepaskan tangan pria itu.
"Namanya juga salam tangan calon suami, jadi harus gitu dong, di sungkem dengan sepenuh hati," ujar Arash sambil mengulum bibirnya.
"Dasar modus," kesal Putri dengan wajahnya yang sudah merona.
"Tapi, modusnya kamu suka, kan? Positif lagi modusnya," goda Arash sambil menaik turunkan alisnya.
Putri mencebikkan bibirnya, kemudian gadis itu bergegas melepas mukena dan melipatnya. Arash terkekeh pelan di saat melihat Putri berjalan sambil menghentak-hentakkan kakinya menuju meja makan yang telah tersedia di sana.
__ADS_1
"Setidaknya kamu mengaminin doa-doa aku, Put," gumam Arash dengan sambil tersenyum lebar menatap Putri dari kejauhan.